Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 70 ( Selamat jalan keluargaku )


__ADS_3

Keesokan paginya, Zahira terbangun lebih dulu, tapi Zahira merasakan seluruh tubuhnya yang terasa sakit.


"Awww," Zahira meringis kesakitan ketika mencoba untuk bergerak.


Rendi terbangun ketika mendengar suara Zahira.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rendi yang mendengar Zahira meringis kesakitan.


"Zahira sakit Mas," jawab Zahira dengan malu-malu.


"Maaf ya, gara-gara Mas, Zahira jadi kesakitan," ucap Rendi yang merasa tidak tega terhadap Zahira.


"Bukannya semua perempuan akan merasa kesakitan saat pertama kali melakukannya? dan Zahira bahagia karena bisa menyerahkan sesuatu yang berharga untuk Suami Zahira."


"Makasih banyak sayang, karena Zahira sudah memberikannya untuk Mas. Semoga pernikahan kita abadi hingga maut yang memisahkan," ucap Rendi yang di Amini oleh Zahira.


Rendi tiba-tiba mengangkat tubuh Zahira, kemudian membawanya ke dalam kamar mandi.


Rendi memasukan Zahira ke dalam bathub, kemudian mengisi air untuk Zahira mandi.


"Mas mau ngapain?" tanya Zahira ketika melihat Rendi ikut masuk juga ke dalam bathub.


"Mau ikutan mandi," ujar Rendi dengan cengengesan.


Setelah berada cukup lama di dalam kamar mandi, Rendi kembali membantu Zahira untuk ke luar dari dalam kamar mandi dengan kembali menggendongnya.


Zahira terus mengembangkan senyuman, karena Rendi memperlakukannya dengan sangat baik, meski pun saat ini Zahira masih merasa sedih karena keluarganya meninggal dunia, tapi Rendi selalu berusaha untuk menghiburnya.


"Kenapa senyum terus? sekarang udah gak sakit lagi kan?" goda Rendi, dan Zahira hanya tersenyum malu karena Rendi terus saja menggodanya.


"Mas, maaf ya karena Zahira sudah merepotkan Mas Rendi, seharusnya Zahira yang melayani Mas Rendi," ucap Zahira yang merasa tidak enak.


"Sayang, kamu itu Ratu bukan Babu, jadi sebagai seorang Suami, sudah seharusnya Mas memanjakan Zahira. Zahira sabar ya, sebentar lagi juga Zahira yang akan melayani Mas, setelah nanti Zahira melakukan pemasangan kaki palsu," ujar Rendi dengan memeluk tubuh Zahira.

__ADS_1


Setelah Rendi dan Zahira bersiap, mereka ke luar dari dalam kamar untuk mengantar jenazah Aira, Mama Risa dan Daddy Indra menuju peristirahatan terakhirnya.


Nenek Puspa yang melihat Rendi mendorong kursi roda Zahira langsung saja menggodanya.


"Pengantin baru akhirnya ke luar juga, bagaimana malam pertamanya?" goda Nenek Puspa.


"Nenek senang sekali menggoda kami ya, apa Nenek tidak lihat jika wajah istri Rendi merah seperti kepiting rebus."


"Nenek bahagia melihat kalian bahagia. Zahira yang sabar ya, Zahira tidak sendirian, karena Rendi dan Tante akan selalu ada untuk Zahira, apalagi sebentar lagi Nabila dan Ken bakalan pulang juga dari luar negeri, dan mereka pasti akan menerima Zahira dengan tangan terbuka."


Kasihan Nenek karena belum mengetahui kondisi Nabila yang sebenarnya, ucap Rendi dalam hati.


Zahira terlihat melamun ketika mendengar Nabila dan Ken akan kembali ke Indonesia.


"Apa Nabila tidak akan marah dan membenci Zahira ketika mengetahui bahwa Zahira adalah Anak dari pembunuh kedua orangtuanya?"


"Sayang, semua itu bukan salah Zahira, jadi Zahira tidak perlu merasa bersalah. Nabila mempunyai hati yang baik, jadi Nabila tidak akan mungkin marah apalagi sampai membenci Zahira."


"Makasih banyak ya Tante, Zahira beruntung karena memiliki kalian."


"Sepertinya sekarang sudah ada yang bucin. Selamat ya Ren, akhirnya kamu bisa move on juga dari Nabila," ucap Nenek Puspa.


"Jadi selama ini perempuan yang Mas Rendi cintai adalah Nabila?"


"Sayang, Nabila hanya masalaluku, tapi kamu adalah masa depanku, lagian dari dulu cintaku hanya bertepuk sebelah tangan karena Nabila hanya mencintai Ken. Jadi, kita akan membuka lembaran baru, Bapak sama Ibu, pasti akan bahagia saat melihat istri Mas yang cantik ini."


"Apa Bapak dan Ibu adalah kedua orangtua Mas Rendi?" tanya Zahira.


"Pak Udin dan Bu Fatimah adalah Paman dan Bibinya Mas Rendi sekaligus orangtua angkat Mas, karena mereka yang merawat Mas setelah kedua orangtua Mas meninggal dunia," jawab Rendi.


"Mereka pasti baik, karena mereka telah berhasil mendidik Mas Rendi dengan baik."


"Tentu saja, bahkan saat ini mereka yang merawat Rendra yaitu Anak Nabila dan Ken," ujar Rendi.

__ADS_1


"Jadi Ken dan Nabila sudah mempunyai Anak?"


"Iya sayang, nanti Mas pasti menceritakan semuanya sama kamu, dan Mas tidak ingin ada kebohongan lagi di antara kita, jadi, jangan sampai ada dusta di antara kita."


"Zahira, maaf ya Tante tidak bisa ikut kalian ke pemakaman," ujar Nenek Puspa dengan tertunduk sedih, karena hatinya yang paling dalam masih belum menerima jika penyebab kematian Anak serta Menantunya adalah Daddy Indra.


"Tante, Zahira mengerti sekali bagaimana perasaan Tante. Atas nama mendiang keluarga Zahira, Zahira meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejahatan yang telah Daddy perbuat semasa hidupnya, dan Zahira sangat berterimakasih kepada Tante karena telah menjadikan kediaman Airlangga sebagai rumah duka untuk mendiang keluarga Zahira, dan nanti untuk acara tahlil, kami sudah mempersiapkannya di rumah mendiang Daddy," ucap Zahira yang mengerti betul jika tidak mudah melupakan kejahatan yang telah Daddy Indra lakukan kepada keluarga Nenek Puspa.


"Nak, maaf ya, Tante tidak bermaksud menaruh dendam kepada mendiang Ayah kamu, Tante sudah berusaha untuk mengikhlaskan semuanya, hanya saja hati kecil Tante masih merasakan sakit jika mengingat semuanya.


Rendi tau betul jika saat ini perasaan Nenek Puspa dan Zahira sedang sama-sama tidak baik, tapi Rendi salut pada keduanya karena mereka masih tetap saling menyayangi, dan Nenek Puspa tidak mempersalahkan status Zahira yang merupakan Anak dari pembunuh keluarganya.


"Nek, Rendi tau perasaan Nenek, dan Rendi sangat bangga karena Nenek sudah berbesar hati melakukan semuanya. Kalau begitu, kami sekarang berangkat dulu ya," ucap Rendi.


Rendi dan Zahira berangkat setelah mencium punggung tangan Nenek Puspa serta mengucap Salam, dan Nenek Puspa menitikkan airmata ketika melihat mobil Ambulance membawa Jenazah Daddy Indra, Aira dan Mama Risa menuju tempat peristirahatan terakhirnya.


"Indra, padahal aku menyayangimu seperti Adik kandungku sendiri, tapi kamu dengan teganya mencelakai keluargaku, untung saja Nabila Cucuku selamat dari kecelakaan itu, karena kalau tidak, aku tidak akan memiliki keturunan lagi."


"Semua yang kamu alami saat ini adalah karma untukmu, karena cara kamu meninggal sama dengan kejadian dulu saat kamu mencelakai Airlangga dan keluarganya."


"Keserakahan yang kamu miliki telah berbalik menghancurkan dirimu sendiri, bahkan keluarga kamu yang tidak bersalah ikut menanggung dosa yang telah kamu perbuat. Akan tetapi, Mbak akan berusaha untuk mengikhlaskan semuanya, dan Mbak akan selalu mendo'akan kalian semoga bisa beristirahat dengan tenang, dan semoga Tuhan mengampuni semua dosa yang telah kamu perbuat selama hidupmu," gumam Nenek Puspa.


......................


Setelah sampai di Pemakaman, proses penguburan Jenazah pun dilakukan, dan Rendi terus mendampingi Zahira untuk menguatkannya, apalagi saat ini Zahira terlihat rapuh.


"Sayang, ikhlaskan semuanya, Mas tau kalau semua itu tidak akan mudah, tapi hal yang paling dekat dengan kita adalah kematian, karena kematian akan semua orang alami, termasuk kita," ucap Rendi.


"Iya Mas, Zahira akan mencoba untuk mengikhlaskan semuanya. Semoga semua keluarga Zahira beristirahat dengan tenang, dan Tuhan mengampuni semua dosa-dosa mereka," ucap Zahira yang di Amini oleh Rendi.


Ma, maafin Zahira, karena Zahira tidak bisa menyelamatkan Mama. Terimakasih telah menjadi Mama yang baik untuk Zahira, semoga amal ibadah Mama diterima oleh Allah SWT.


Dad, meski pun Daddy tidak pernah menganggap Zahira sebagai Putri Daddy, tapi Daddy tetap Ayah Zahira juga, dan Zahira selalu menyayangi Daddy. Semoga Tuhan mengampuni semua dosa yang pernah Daddy perbuat.

__ADS_1


Aira, meski pun kita tidak dekat, tapi selama ini aku selalu menyayangimu, karena bagaimana pun juga kita adalah saudara. Semoga kalian semua beristirahat dengan tenang.


Selamat jalan keluargaku, do'aku akan selalu menyertai kalian, ucap Zahira dalam hati.


__ADS_2