
Rendi yang sudah mengetahui tentang semua kejahatan Daddy Indra merasa kasihan kepada Zahira, dan Rendi sudah bisa menebak jika kedatangan Daddy Indra ke rumah keluarga Airlangga untuk menjodohkan Zahira dengan Rendi.
"Zahira, apa Daddy Indra datang ke sini untuk menjodohkan kita?" tanya Rendi.
"Iya Mas, tapi Zahira yakin kalau Mas Rendi tidak akan mungkin mau menerima perjodohan ini."
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Rendi.
"Karena Zahira sadar diri dengan kekurangan yang Zahira miliki, tidak akan ada lelaki yang mau menikahi Zahira yang cacat."
"Semua orang mempunyai kekurangan dan kelebihan, dan dibalik kekurangan kamu, banyak kelebihan yang kamu miliki," ujar Rendi dengan tersenyum.
"Zahira sama sekali tidak memiliki kelebihan, dan hanya lelaki bodoh yang mau menikahi Zahira."
"Kalau begitu aku akan menjadi lelaki bodoh, karena aku akan menikahi kamu," ujar Rendi, dan Zahira membulatkan matanya mendengar perkataan Rendi.
"Jangan bercanda Mas, tidak mungkin lelaki sesempurna Mas Rendi berniat untuk menikahi perempuan cacat seperti aku."
"Aku tidak bercanda, mungkin saat ini aku belum bisa mencintai kamu, karena dalam hatiku masih ada perempuan lain, tapi apa kamu bersedia untuk membantuku melupakan perempuan yang aku cintai?"
"Kenapa Mas Rendi ingin melupakan perempuan itu?"
"Karena perempuan itu tidak akan pernah bisa aku miliki. Saat ini dia sudah bahagia dengan Suaminya, dan aku tidak mau menjadi seorang Pebinor."
"Tapi Zahira tidak yakin bisa membantu Mas Rendi, karena Mas Rendi tidak akan mungkin jatuh cinta terhadap Zahira."
"Kita tidak akan pernah tau kalau kita tidak mencobanya," ujar Rendi.
Zahira nampak termenung, karena dirinya ingin sekali ke luar penderitaan, dan mungkin jika menikah dengan Rendi, Zahira bisa ke luar dari rumah Daddy Indra.
"Kenapa Mas Rendi tidak memilih Aira?" tanya Zahira yang merasa heran, padahal Aira mempunyai fisik yang normal, dan Aira jauh lebih cantik dibandingkan dengan dirinya, karena Aira rajin melakukan perawatan.
"Aku tidak memerlukan perempuan yang hanya cantik wajahnya saja, tapi aku membutuhkan perempuan yang juga cantik hatinya, dan itu semua aku temukan dalam diri kamu," jawab Rendi.
Zahira hanya diam, karena dia benar-benar merasa tidak pantas bersanding dengan Rendi, karena pasti akan banyak orang yang mencemoohnya.
__ADS_1
"Sudahlah, kamu tidak perlu banyak pikiran, kalau kamu belum bisa memutuskan semuanya sekarang, kamu boleh memikirkannya terlebih dahulu, yang penting sekarang kita harus berpura-pura di depan Om Indra, supaya dia tidak memarahimu," ujar Rendi dengan mendorong kursi roda Zahira.
Zahira merasa tersentuh karena Rendi sudah memperlakukannya dengan sangat baik, dan Rendi sangat memahami dirinya.
Rendi dan Zahira, menghampiri Nenek Puspa dan Daddy Indra yang sedang mengobrol.
"Nek, Om Indra, Rendi sudah berniat untuk menikahi Zahira," ujar Rendi, sontak saja Daddy Indra membulatkan matanya karena tidak percaya dengan perkataan Rendi.
"Om tidak sedang bermimpi kan?" tanya Daddy Indra dengan mata yang berbinar.
"Sebenarnya Rendi sudah jatuh cinta kepada Zahira saat pandangan pertama, dan Rendi ingin menjadikan Zahira sebagai istri dan Ibu dari Anak-anak Rendi."
Daddy Indra begitu bahagia karena impiannya untuk menguasai harta keluarga Airlangga akan terwujud.
Akhirnya impianku selama ini akan segera terwujud juga, ternyata Anak cacat ini membawa keberuntungan juga untukku, ucap Daddy Indra dalam hati, kemudian memeluk tubuh Zahira saking bahagianya.
Zahira merasa terkejut, karena itu adalah pelukan pertama yang dilakukan oleh Daddy Indra kepadanya sejak ia dilahirkan ke Dunia ini, jangankan untuk memeluknya, bahkan melihat wajah Zahira pun Daddy Indra tidak pernah mau.
Jadi seperti ini rasanya pelukan seorang Ayah? batin Zahira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Semuanya terserah kamu Ren, Om akan selalu mendukung keputusan kamu." Mungkin memang lebih baik seperti itu, jika Zahira melakukan pemasangan kaki palsu sebelum menikah dengan Rendi, aku tidak akan malu untuk mengakuinya sebagai Putriku, lanjut Daddy Indra dalam hati.
Nenek Puspa merasa ragu jika Rendi benar-benar ingin menikahi Zahira, sampai akhirnya Nenek Puspa mencoba mengetes Rendi.
"Ren, bukannya kamu ingin membawa Zahira melakukan operasi ke luar negeri? bagaimana kalau kamu menikahi Zahira secara agama dulu supaya tidak timbul fitnah jika kalian berdua sudah menjadi muhrim, dan nanti setelah operasi baru kalian melakukan pernikahan secara Negara sekalian mengadakan resepsi."
Tanpa berpikir panjang Rendi langsung menyetujui usul Nenek Puspa.
"Usul yang bagus juga Nek, kalau begitu Rendi akan secepatnya menikahi Zahira secara agama terlebih dahulu," ujar Rendi, dan Nenek Puspa merasa terkejut karena ternyata Rendi benar-benar serius untuk menikahi Zahira.
Prang
Saking terkejutnya mendengar berita pernikahan Rendi dan Zahira, Aira yang mendengarnya sampai tidak sadar sudah menyenggol guci yang berada di sampingnya.
"Tidak, tidak mungkin, kalian pasti bercanda. Ren, kamu tidak mungkin menikahi perempuan cacat seperti Zahira kan?" ujar Aira.
__ADS_1
"Jangan pernah kamu menghina calon istriku, harus kamu tau Aira, jika Zahira lebih baik segala-galanya dibandingkan denganmu."
"Kamu pasti akan menyesal karena lebih memilih Zahira dibandingkan denganku."
Daddy Indra yang takut jika Aira membocorkan kejahatannya di depan Rendi dan Nenek Puspa, langsung membentak Aira.
"Tutup mulut kamu Aira, jangan sampai kesabaran Daddy habis. Sekarang juga kamu ikut Daddy pulang," ujar Daddy Indra dengan menarik tangan Aira.
"Tidak Dad, Aira tidak mau pulang, Aira tidak rela Rendi menikahi Zahira. Jika Aira tidak bisa menikah dengan Rendi, Zahira juga tidak boleh menikah dengan Rendi," teriak Aira, dan Daddy Indra sudah merasa kesal mendengar perkataan Aira yang sudah semakin menjadi-jadi, dan Daddy Indra ingin sekali menampar Aira, jika saja di sana tidak ada Nenek Puspa dan Rendi.
"Mbak Puspa, Rendi, mohon maaf karena Aira sudah bersikap tidak baik. Kalau begitu Om akan membawa Aira pulang dulu. Om titip Zahira di sini, karena Om takut Aira akan menyakitinya," ujar Daddy Indra dengan terus membekap mulut Aira, kemudian ke luar dari kediaman Airlangga.
Semuanya menghela napas panjang melihat tingkah Aira, setelah Daddy Indra dan Aira pergi, Nenek Puspa mengajak Zahira dan Rendi untuk mengobrol.
"Zahira, apa selama ini Indra masih berbuat kasar kepada kamu dan Risa?" tanya Nenek Puspa.
"Iya Tante, tapi bagaimanapun juga Daddy tetaplah Ayah Zahira, semoga suatu saat nanti mata hati Daddy bisa terbuka, dan Daddy bisa tulus menyayangi Zahira," ucap Zahira yang di Amini oleh Rendi dan Nenek Puspa.
......................
Saat ini kondisi Nabila sangat mengkhawatirkan, karena Nabila sudah sering pingsan, bahkan setiap habis makan Nabila langsung memuntahkan makanannya, tapi Ken tetap setia mendampingi Nabila.
Tubuh Nabila semakin hari sudah semakin kurus, bahkan kepalanya saat ini sudah tidak memiliki sehelai rambut pun.
"Sayang, sebaiknya Bunda dirawat di Rumah Sakit saja supaya Bunda diinfus untuk mendapatkan tambahan makanan," ujar Ken dengan terus memeluk tubuh Nabila yang saat ini terbaring lemah di sampingnya.
"Tidak Yah, Bunda ingin selalu berada di samping Ayah. Jika kita di Rumah Sakit pasti Dokter akan sering memeriksa kondisi Bunda," ujar Nabila dengan membalikan badannya menghadap Ken.
"Apa Ayah menangis?" tanya Nabila dengan menghapus airmata pada pipi Ken.
"Ayah hanya kelilipan saja," ujar Ken dengan mencoba untuk tersenyum.
"Yah, jika suatu saat nanti Bunda pergi, Bunda titip Nenek dan Rendra ya, Ayah harus berjanji kalau Ayah akan selalu bahagia meski pun Bunda sudah tidak ada lagi di samping kalian."
"Tidak sayang, Bunda harus kuat, karena Ayah tidak akan sanggup hidup tanpa Bunda," ujar Ken dengan mengeratkan pelukannya, kemudian menumpahkan tangisannya dalam pelukan Nabila.
__ADS_1