
Nabila, Ken dan Nenek Puspa sampai juga di depan kamar perawatan Zahira. Setelah mengetuk pintu, mereka mengucap Salam sebelum masuk.
"Mas, bagaimana keadaan Zahira sekarang?" tanya Nabila ketika masuk ke dalam kamar perawatan Zahira.
"Zahira masih belum sadarkan diri dari pengaruh obat bius, mungkin sebentar lagi. Bagaimana dengan Nenek?" Rendi balik bertanya.
"Alhamdulillah terapinya berjalan dengan lancar, dan secara perlahan Nenek sudah mulai bisa berjalan," jawab Nabila.
"Alhamdulillah kalau seperti itu, Mas ikut bahagia mendengarnya. Kenapa Suami kamu terlihat cemberut seperti itu?" tanya Rendi yang melihat Ken kembali cemberut.
"Mas Rendi punya masker gak? atau kalau ada topeng monyet aja sekalian," ujar Nabila.
"Pasti Ken cemburu kan karena ada yang terpesona melihat kecantikan kamu?" tanya Rendi yang sudah bisa menebak alasan Ken cemberut.
"Ken, seharusnya kamu beruntung karena mempunyai istri cantik, jadi orang-orang akan merasa iri terhadap kamu," ujar Rendi.
"Aku bukannya tidak bersyukur Ren, hanya saja aku merasa jika posisiku terancam. Baru juga kamu berhasil move On dari Nabila, masa sekarang udah ada Dokter muda yang mau saingan sama aku? udah begitu wajahnya lebih tampan dari aku," gerutu Ken.
Nabila yang mendengar perkataan Ken, langsung berhambur memeluknya.
"Ayah salah, karena bagi Bunda Ayah yang paling tampan di Dunia ini, Dokternya tidak tau saja jika kepala Bunda botak, kalau Dokternya tau kepala Bunda botak, dia juga gak bakalan naksir Bunda, karena yang bisa menerima Bunda apa adanya di Dunia ini hanya Ayah," ujar Nabila dengan menangis dalam pelukan Ken.
"Sayang, maafin Ayah, Ayah tidak bermaksud membuat Bunda menangis," ujar Ken dengan menghapus airmata yang terus menetes pada pipi Nabila.
"Tapi bukan hanya Ken saja yang bisa menerima kamu apa adanya Nabila, aku juga bisa menerima kamu apa adanya," ujar Rendi dengan terkekeh, karena Rendi sengaja membalas Nabila yang waktu membuat kejutan ulang tahun untuknya.
"Mas Rendi kok jahat banget sih? nanti bagaimana kalau Suami Nabila sampai salah paham," ujar Nabila yang semakin menangis.
"Makanya jangan suka usil, gak enak kan kalau di usilin balik," ujar Rendi dengan menertawakan Nabila.
"Sayang, Ayah tidak marah kan sama Bunda?"
"Tidak sayang, mana bisa Ayah marah sama istri Ayah yang cantik ini," ujar Ken dengan memeluk serta menghujani ciuman pada Nabila.
"Dasar pasangan bucin akut, selalu saja tidak tau tempat, untung tidak ada Anak di bawah umur," ledek Rendi.
Ken dan Nabila hanya nyengir kuda menanggapi perkataan Rendi.
Rendi terus menggenggam erat tangan Zahira yang masih belum sadarkan diri, sampai akhirnya tangan Zahira mulai bergerak.
"Sayang, Alhamdulillah akhirnya Zahira sadar juga," ucap Rendi ketika Zahira membuka mata.
__ADS_1
"Mas, bagaimana operasinya?" tanya Zahira.
"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar," jawab Rendi, kemudian menekan tombol untuk memanggil Dokter.
Beberapa saat kemudian, Dokter datang untuk memeriksa kondisi Zahira, dan ternyata Dokter yang datang adalah Dokter yang naksir terhadap Nabila.
"Ternyata Dunia ini sempit sekali, kenapa harus dia sih," gumam Ken.
Dokter Irfan tersenyum ketika melihat Nabila, dan Nabila langsung menutupi wajahnya menggunakan jilbab yang dia pakai.
Dokter Irfan memeriksa kondisi Zahira secara teliti, kemudian Dokter Irfan menyuruh Zahira untuk mencoba menggerakkan kaki palsunya.
"Silahkan Nona gerakkan kakinya secara perlahan," ujar Dokter Irfan.
Zahira terlihat ragu, tapi sesaat kemudian Zahira tersenyum setelah kakinya bisa digerakkan.
"Mas, sekarang Zahira punya kaki," ucap Zahira dengan memeluk tubuh Rendi.
"Iya sayang Alhamdulillah sekarang Zahira bisa berjalan menggunakan kaki Zahira," ujar Rendi dengan tersenyum bahagia.
"Selamat ya Nona, kalau begitu saya permisi dulu," ujar Dokter Irfan yang terus saja melirik ke arah Nabila.
"Ren, menurut kamu bagaimana Dokter yang barusan memeriksa Zahira?" tanya Ken.
"Menurutku Dokternya sangat tampan dan terlihat ramah juga. Kenapa sih Ken kamu menanyakan Dokter Irfan?" tanya Rendi.
"Jadi namanya Dokter Irfan? darimana kamu tau?" tanya Ken.
"Dari Name tag yang dipakainya. Jangan bilang kamu naksir Dokter Irfan?" goda Rendi.
"Kamu benar-benar keterlaluan Ren, justru Dokter Irfan yang naksir aku. Eh salah, maksudku istriku," ujar Ken.
"Oh, jadi Dokter Irfan saingan baru kamu?" ujar Rendi dengan terkekeh.
"Apa Ayah masih meragukan Bunda?" tanya Nabila dengan menatap lekat wajah Ken.
"Ayah tidak pernah ragu sama Bunda, hanya saja Ayah merasa takut jika banyak saingan baru, apalagi Rendi yang lelaki saja mengakui jika Dokter Irfan tampan, apalagi para perempuan," ujar Ken dengan menidurkan kepalanya di atas paha Nabila.
"Ken, yang namanya rumah tangga akan selalu ada ujiannya, jadi kalian harus sabar dan kuat dalam menjalani ujian, terutama kuat iman," ujar Nenek Puspa.
"Tapi bisa gak kalau ujiannya jangan yang berat-berat?" ujar Ken.
__ADS_1
"Emang ujian Sekolah bisa nawar. Yang penting kunci dalam rumah tangga adalah sabar, jujur, saling percaya dan saling setia, dan Nenek percaya jika kalian berempat sudah melakukan semua itu terhadap pasangan kalian," ujar Nenek Puspa.
"Tentu saja Ken akan selalu setia terhadap Nabila, Ken mendapatkannya dengan susah payah Nek, bahkan Nabila sempat memilih_" ucapan Ken terhenti karena Nabila membungkam Ken dengan ciuman, karena Nabila tidak mau jika sampai Zahira kembali salah paham jika Ken mengatakan bahwa Nabila sempat memilih Rendi untuk menjadi Suaminya.
Ken tersenyum bahagia karena tidak biasanya Nabila berinisiatif menciumnya di depan oranglain.
"Sayang, sebaiknya sekarang kita pulang saja, sepertinya Bunda sudah tidak sabar ingin segera pulang," ujar Ken dengan cengengesan.
Nabila berbisik di telinga Ken, kalau Ken jangan menyinggung masalah Rendi di depan Zahira supaya Zahira tidak salah paham, dan akhirnya Ken tutup mulut karena sudah mengerti dengan yang Nabila katakan.
"Zahira, selamat ya, aku bahagia karena akhirnya operasi kamu berjalan dengan lancar," ucap Nabila dengan memeluk tubuh Zahira.
"Ini semua berkat do'a kalian. Makasih banyak ya semuanya atas dukungannya, Zahira tidak tau bagaimana nasib Zahira jika tidak bertemu dengan kalian."
"Sayang, semuanya adalah takdir, dan orang baik pasti akan dipertemukan dengan orang baik juga," ujar Rendi dengan memeluk tubuh Zahira.
"Sebaiknya kita pulang sekarang saja, Nenek gerah melihat dua pasangan bucin seperti kalian," ujar Nenek Puspa dengan terkekeh.
"Zahira sayang, semoga Zahira cepat pulih ya," ucap Nenek Puspa.
"Makasih banyak ya Tante," ucap Zahira.
"Zahira, sebaiknya mulai sekarang Zahira panggil Nenek saja seperti mereka, soalnya panggilan Tante rasanya tidak pantas untuk Nenek yang sudah tua ini."
"Tapi Tante masih sangat cantik dan terlihat muda," puji Zahira.
"Ngomong apa kamu, Tante ini sudah punya Cicit, jadi sebaiknya kamu mulai membiasakan memanggil Nenek."
"Iya Nenekku yang cantik, makasih banyak ya atas semuanya," ucap Zahira dengan memeluk tubuh Nenek Puspa.
"Kalau begitu sekarang Nenek ikut pulang sama Ken dan Nabila. Ren, jaga istri kamu baik-baik, dan ingat jangan sampai bikin Zahira kelelahan," goda Nenek Puspa, dan Rendi tersenyum malu mendengarnya.
"Ren, kasihan sekali kamu malam ini harus puasa," bisik Ken pada telinga Rendi.
"Lihat saja nanti Ken, kita akan saingan membuat Adik untuk Rendra," bisik Rendi pada telinga Ken.
"Kenapa sih kalian pake bisik-bisik segala?" tanya Nabila.
"Biasa Bun, urusan lelaki," jawab Ken dengan cekikikan.
"Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu ya Zahira, Mas Rendi," ucap Nabila, kemudian Nabila, Ken dan Nenek Puspa melangkahkan kaki ke luar dari kamar perawatan Zahira menuju apartemen.
__ADS_1