
Ken dan Nabila kembali melewati malam di Rumah Sakit seperti malam sebelumnya, karena Ken takut berpisah dengan Nabila, sehingga Ken terus saja memeluk tubuh perempuan yang dicintainya dengan erat, bahkan Ken sampai menangis dalam tidurnya, karena bermimpi Nabila dan Rendi menikah.
"Kasihan Ken, dia sepertinya mimpi buruk. Maafkan aku Ken, aku sudah keterlaluan," gumam Nabila dengan mengelap airmata yang terus saja menetes pada pipi Ken.
"Nabila, jangan pergi, jangan tinggalin aku," teriak Ken yang saat ini tengah mengigau.
"Ken, kamu jangan takut ya, aku akan selalu berada di sampingmu dan tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Nabila dengan memeluk serta mengusap punggung Ken supaya merasa lebih tenang.
......................
Keesokan paginya..
Saat ini Ken sedang membantu Nabila memasukan pakaian ke dalam tas, tapi wajah Ken terus saja ditekuk, karena mau tidak mau mereka harus pulang ke rumah Rendi.
"Langit di luar terlihat cerah, tapi di sini sudah mendung, sepertinya akan turun hujan," sindir Nabila.
"Gak usah nyindir, gak lucu," ujar Ken.
"Gak usah manyun juga bibirnya Ayah Rendra yang tampan," ujar Nabila.
"Kamu baru sadar kalau aku tampan?" ujar Ken.
"Maksud aku yang tampan itu Rendra, bukan Ayahnya," ujar Nabila yang selalu saja merasa senang membuat Ken cemberut.
"Sepertinya hobi kamu melihat aku sedih dan menderita," sindir Ken.
Nabila menatap lekat wajah Ken, kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Ken, sampai akhirnya Ken memejamkan matanya karena mengira jika Nabila akan menciumnya.
"Yuk pulang," bisik Nabila pada telinga Ken, dan Ken langsung membulatkan matanya.
"Nabila, aku kecewa," ucap Ken.
"Udah jadi Ayah juga masih saja seperti Anak kecil, jangan cemberut terus, nanti aku bakalan kasih kejutan saat kita tiba di rumah," ujar Nabila.
"Iya, kejutan yang menyakitkan, karena aku akan melihat kamu menikah dengan Rendi," gumam Ken.
Ken menggendong Rendra saat ke luar dari dalam Rumah Sakit, sedangkan sebelah tangannya merangkul tubuh Nabila.
"Ken, tangan kamu kenapa dingin sekali? kamu baik-baik saja kan?" tanya Nabila yang merasa khawatir terhadap Ken, kemudian Nabila memegang dahi Ken.
__ADS_1
"Ken, kamu demam, sebaiknya kita periksa dulu kondisi kamu," ujar Nabila.
"Tidak perlu, aku hanya belum siap saja untuk menyerahkan kalian kepada Rendi, rasanya lebih menakutkan daripada masuk ke medan perang," ujar Ken.
"Ken, semuanya pasti akan baik-baik saja, bahkan aku yakin kalau nanti kamu akan bahagia," ujar Nabila.
"Mana mungkin aku bahagia melihat kamu menikah dengan lelaki lain Nabila."
Ken, melajukan mobilnya secara perlahan, karena Ken ingin lebih lama bersama Nabila dan Rendra.
"Ken, apa bisa kamu melajukan mobilnya lebih cepat? aku takut penghulunya keburu datang," ujar Nabila yang merasa gemas terhadap Ken.
"Tapi aku_" ucap Ken yang bingung untuk mencari alasan.
"Kalau kamu menjalankan mobil seperti ini terus, lebih baik aku saja yang menjalankan mobilnya," ujar Nabila, dan mau tidak mau akhirnya Ken melajukan mobilnya lebih cepat, sampai akhirnya mereka berdua tiba juga di kediaman Rendi.
Rumah Rendi sudah di rias dengan begitu indah, tapi Rendi tidak mengundang tetangganya supaya tidak terjadi keributan, karena semua orang tau jika Nabila adalah istri Rendi. Jadi, Rendi beralasan jika saudaranya dari luar kota yang akan menikah apabila ada tetangga yang bertanya.
Ketika Rendi melihat mobil Ken tiba di halaman rumahnya, Rendi langsung menghampiri Nabila karena Ken terlihat enggan untuk turun dari mobil.
"Sayang, akhirnya kalian pulang juga. Nabila, cepetan masuk, MUA sudah menunggu untuk merias kamu supaya semakin cantik," ujar Rendi kemudian menggendong Rendra.
Nabila bergegas masuk, sementara Rendi menghampiri Ken.
Ken di antar Rendi menuju kamar tamu supaya Ken mengganti bajunya dengan pakaian yang senada dengan Nabila.
"Ken, cepetan ganti bajunya, Penghulu sudah datang," ujar Rendi.
"Kamu yang mau menikah, kenapa aku harus ganti baju juga sih," gerutu Ken.
"Kamu ingin melihat Nabila bahagia kan? ini adalah permintaan Nabila, dan aku harap kamu akan mengabulkannya."
Ken kembali teringat dengan penyakit yang diderita oleh Nabila, sampai akhirnya Ken memutuskan untuk melepaskan Nabila demi kebahagiaannya.
Setelah Ken mengganti pakaiannya, Rendi sudah terlihat menunggu di luar kamarnya dengan menggendong Rendra.
"Ren, sini biar aku saja yang gendong Rendra," ujar Ken.
"Udah biar aku aja Ken, aku masih kangen sama Rendra."
__ADS_1
"Ren, aku titip Nabila dan Rendra ya, aku tau kalau kamu pasti akan membuat mereka bahagia. Sekarang sudah saatnya aku harus melepas Nabila dengan ikhlas" ujar Ken dengan memeluk tubuh Rendi.
Seharusnya kata-kata itu yang aku ucapkan Ken, karena hari ini aku akan mengembalikan Nabila dan Rendra kepada kamu, dan aku harus melepas Nabila dengan ikhlas demi kebahagiaannya, ucap Rendi dalam hati.
Rendi dan Ken, berjalan beriringan menuju tempat acara akan digelar, dan saat ini mereka berpapasan dengan Nabila yang juga sedang berjalan menuju tempat acara.
Ken dan Rendi sama-sama terpesona dengan kecantikan Nabila.
"Kamu cantik sekali sayang," ucap Rendi dengan menggandeng tubuh Nabila, dan saat ini Rendi berada di tengah-tengah Nabila dan Ken untuk mengantar mereka kepada Penghulu.
Kamu cantik sekali Nabila, Rendi sangat beruntung bisa menikahimu. Semoga kalian selalu bahagia, ucap Ken dalam hati dengan kembali menitikkan airmata.
Ken menghentikan langkahnya ketika mereka sudah berada di depan Penghulu, dan Ken meminta Rendi supaya memberikan Rendra kepadanya.
"Ren, sini Rendra nya," ujar Ken yang hendak mengambil Rendra dari gendongan Rendi.
"Sekarang kamu duduk di samping Nabila Ken," ucap Rendi, sontak saja semua itu membuat Ken merasa terkejut.
"A_apa maksud kamu? kamu jangan bercanda Ren, saat ini kamu yang akan menikah dengan Nabila, bukan aku," ujar Ken yang merasa terkejut.
"Aku tidak bercanda Ken, karena dari awal, aku mempersiapkan acara pernikahan ini untuk kamu dan Nabila. Maaf jika kami sudah merahasiakannya, karena semua itu adalah ide dari calon istrimu yang sengaja ingin mengerjai kamu," ucap Rendi dengan tersenyum, padahal saat ini Rendi menahan sesak dalam dadanya.
Ken masih diam mematung karena masih belum percaya dengan semua perkataan Rendi, karena semua ini seperti mimpi untuk Ken.
"Ken, kenapa kamu diam saja? apa kamu tidak sadar jika pakaian yang kamu kenakan sama dengan pakaian Nabila? sekarang kamu duduk sebelum aku berubah pikiran dan menggantikan kamu menikahi Nabila," ujar Rendi.
Ken merasa terharu, dan langsung memeluk tubuh Rendi.
"Terimakasih banyak Ren, rasanya semua ini seperti mimpi," ucap Ken.
"Rendra sayang, coba cubit pipi Ayah Ken, biar Ayah Ken sadar jika ini bukan mimpi," ujar Rendi, dan Rendra mencubit pipi Ken.
"Aww, sakit sayang. Semua ini ternyata bukan mimpi," ujar Ken dengan mencium pipi gembul Rendra.
Ken dan Nabila saat ini telah duduk berdampingan, dan sebelum mengucap ijab kabul, Ken berbisik pada telinga Nabila.
"Kamu tega sekali mengerjai aku, lihat saja nanti malam, aku tidak akan mengampunimu," bisik Ken, sehingga membuat Nabila menelan saliva nya.
*
__ADS_1
*
Mohon dukungannya, jangan lupa like dan kasih hadiah yang banyak ya, 🙈 Sehat dan Sukses selalu untuk semuanya, 🤲🙏