
Rendi merasa tidak enak karena Zahira terus saja diam setelah Rendi menciumnya.
"Maafin Mas ya, karena Mas sudah lancang mencium Zahira. Apa Zahira marah?" tanya Rendi.
"Kenapa Mas Rendi meminta maaf? saat ini Zahira adalah istri Mas Rendi, dan Mas Rendi berhak melakukan semua itu. Zahira tidak marah sama sekali, hanya saja Zahira terkejut karena itu adalah ciuman pertama Zahira," jawab Zahira dengan tertunduk malu.
"Mas kira kamu marah," ujar Rendi, dengan kembali memeluk Zahira, karena Rendi begitu takut kehilangannya.
Rendi memutuskan untuk menelpon Anak buahnya supaya menyelesaikan administrasi kepulangan jenazah kedua Mertuanya, karena Rendi merasa takut jika harus pergi meninggalkan Zahira sendirian lagi.
"Mas, Zahira tidak apa-apa kok ditinggal sendirian."
"Mas tidak akan pernah meninggalkan kamu sendirian lagi, Mas takut kalau kamu hilang lagi seperti tadi. Kamu tidak tau kalau Mas seperti orang gila saat kehilangan kamu."
Apa Mas Rendi sudah jatuh cinta padaku? atau dia hanya kasihan saja dengan nasibku? batin Zahira kini bertanya-tanya.
"Kenapa melamun? apa Zahira tidak percaya dengan perkataan Mas Rendi?"
"Zahira hanya tidak mau bermimpi terlalu tinggi karena Zahira takut kecewa Mas."
"Zahira, mungkin pernikahan kita berawal tanpa cinta, tapi ternyata tidak sulit untuk mencintai perempuan baik seperti kamu. Saat Mas kehilangan kamu, Mas baru menyadari kalau Mas sudah jatuh cinta kepada Zahira istri Mas."
"Apa ini semua bukan khayalan Zahira?" tanya Zahira dengan polosnya, dan Rendi mencubit gemas pipi Zahira.
"Semua ini bukan mimpi sayang, karena hanya butuh waktu satu detik untuk Mas bisa jatuh cinta sama kamu. Nanti setelah kondisi kamu membaik, kita akan pergi ke Singapura untuk melakukan operasi pemasangan kaki palsu, supaya Zahira bisa berjalan menggunakan kedua kaki Zahira," ujar Rendi dengan tersenyum, dan Zahira begitu bahagia mendengarnya.
Rendi membaringkan tubuhnya di samping Zahira, kemudian mendekap erat tubuh perempuan yang telah sah menjadi istrinya tersebut.
"Zahira, ada yang harus kamu tau, kalau sebenarnya Mas bukanlah Cucu kandung Nenek Puspa. Maaf kalau Mas sudah berbohong, tapi semua itu Mas lakukan untuk melindungi Cucu kandung Nenek Puspa yang sebenarnya, karena mendiang Ayah kamu berusaha untuk melukainya."
"Zahira sudah tau semua itu Mas, karena sebelum kecelakaan, mendiang Daddy sudah mengatakan semuanya kepada Zahira dan mendiang Mama."
"Apa Zahira marah karena Mas sudah membohongi Zahira?"
"Tidak sama sekali Mas, kenapa Zahira harus marah? Mas melakukan semua itu demi kebaikan, jadi tidak ada alasan untuk Zahira marah terhadap Mas Rendi."
"Makasih banyak ya sayang, kamu memang istri yang pengertian," ujar Rendi dengan kembali mendekatkan bibirnya, tapi suara handphone Rendi terus berbunyi, sehingga mengganggu Rendi.
"Siapa sih ganggu terus?" gumam Rendi.
"Angkat dulu telponnya Mas," ujar Zahira dengan mencium pipi Rendi karena wajah Rendi terlihat kesal, dan setelah mendapat ciuman dari Zahira, Rendi bisa tersenyum kembali.
__ADS_1
Rendi mengangkat telpon, dan ternyata itu adalah telpon dari Nenek Puspa.
📞"Rendi, kamu kemana saja Nak, kenapa lama sekali mengangkat telponnya?" tanya Nenek Puspa di sebrang sana.
📞"Maaf Nek, Rendi tadi sedang melakukan sesuatu yang penting," ujar Rendi dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
📞"Kenapa kamu tidak memberikan kabar kepada Nenek tentang kondisi Zahira saat ini? Nenek khawatir dengan Zahira.
📞"Alhamdulillah Zahira baik-baik saja, saat ini Zahira sedang berada di samping Rendi."
📞"Kamu tidak berniat melewati malam pertama di Rumah Sakit kan?" goda Nenek Puspa.
📞"Nek, jangan membuat Rendi malu."
📞"Memangnya kalian tidak ingin pulang?"
📞"Nanti Rendi tanya dulu kepada Dokter, apa Zahira sudah diperbolehkan pulang. Rendi juga harus mengurus acara tahlil kedua orangtua Zahia dan juga tahlil Aira. Kalau begitu Rendi tutup dulu ya telponnya, Assalamu'alaikum."
Setelah menutup sambungan telponnya dengan Nenek Puspa, Rendi berniat untuk menemui Dokter, tapi ternyata Dokter lebih dulu masuk ke dalam ruang perawatan Zahira.
Dokter memeriksa kondisi Zahira dengan seksama, setelah Dokter selesai memeriksanya, Rendi angkat suara untuk menanyakan kondisi Zahira.
"Dok, bagaimana kondisi istri saya?"
"Apa istri saya sudah bisa pulang Dok? karena kami masih harus mengurus kepulangan Jenazah kedua orangtua istri saya," tanya Rendi.
"Kalau memang istri Anda sudah tidak mempunyai keluhan lagi, saya akan mengijinkan Pasien untuk pulang," jawab Dokter.
"Zahira sudah baik-baik saja Mas, jadi tidak ada yang perlu Mas Rendi khawatirkan, lagian kita harus mempersiapkan acara Tahlil," ujar Zahira.
Rendi kembali menelpon Anak buahnya untuk mengurus administrasi kepulangan Zahira, karena Rendi tidak ingin beranjak sebentar pun meninggalkan Zahira.
Setelah semuanya selesai, Rendi menggendong Zahira ke luar dari Rumah Sakit.
"Mas, apa tidak sebaiknya kita menggunakan kursi roda saja? Zahira malu menjadi pusat perhatian semua orang."
"Selama Zahira belum melakukan operasi pemasangan kaki, ijinkan Mas yang menjadi kaki untuk Zahira," ujar Rendi dengan tersenyum, dan Zahira begitu tersentuh mendengar perkataan Rendi.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Airlangga, Rendi terus saja mendekap erat tubuh Zahira, dan Rendi menyuruh Zahira untuk tidur dalam pelukannya.
"Sayang, sebaiknya Zahira tidur, sekarang sudah malam, kasihan tubuh Zahira pasti masih sakit," ujar Rendi dengan mengelus lembut kepala Zahira.
__ADS_1
"Mas juga tidur, kasihan Mas pasti cape karena harus pulang pergi melakukan perjalanan yang cukup jauh," ujar Zahira.
Sepanjang perjalanan, Rendi dan Zahira yang merasa cape akhirnya tertidur, dan setelah sampai di kediaman Airlangga, Anak buah Rendi dengan berat hati membangunkannya.
"Tuan, sekarang kita sudah sampai."
Rendi langsung terbangun, tapi Rendi tidak tega membangunkan Zahira, sampai akhirnya Rendi kembali menggendong Zahira untuk masuk ke dalam kamar mereka setelah sebelumnya Rendi menyuruh Anak buahnya supaya mengurus Jenazah kedua orangtua Zahira yang juga datang dengan di antar mobil Ambulance.
"Ren, Zahira baik-baik saja kan?" tanya Nenek Puspa ketika melihat Rendi menggendong Zahira.
"Zahira tidur Nek, kalau begitu kami ke kamar dulu ya," ujar Rendi dengan melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Rendi membaringkan tubuh Zahira di atas ranjang pengantin mereka, kemudian Rendi membantu membuka jilbab pada kepala Zahira.
"Kamu cantik sekali sayang," ucap Rendi dengan menatap lekat wajah cantik Zahira yang saat ini tengah tidur terlelap.
Rendi memutuskan untuk ikut tidur juga, dan sebelumnya Rendi sudah membuka bajunya dan hanya mengenakan celana pendek saja, karena Rendi merasa gerah.
Rendi mendekap erat tubuh Zahira, kemudian menyusul Zahira masuk ke alam mimpi.
Ketika tengah malam, Zahira terbangun, dan dia hampir saja berteriak ketika melihat Rendi bertelanjang dada tengah memeluk tubuhnya.
"Astagfirullah, kenapa aku sampai lupa kalau sekarang Mas Rendi sudah menjadi Suamiku," gumam Zahira.
Zahira menatap lekat wajah tampan Rendi, dan Zahira membelai wajah lelaki yang saat ini telah menjadi Suaminya, tapi tiba-tiba Rendi membuka matanya dan memegang tangan Zahira.
"Mas, maaf kalau Zahira sudah membangunkan Mas."
"Tidak apa-apa sayang, ini kan malam pertama kita, jadi Mas sengaja bangun," ujar Rendi, dan wajah Zahira langsung berubah menjadi merah ketika mendengar perkataan Rendi.
Rendi menatap lekat wajah Zahira, dan Rendi merasa kasihan karena Zahira harus kehilangan keluarganya dalam waktu sehari secara bersamaan.
"Mas baik-baik saja kan?" tanya Zahira ketika melihat Rendi yang melamun.
"Mas tau kalau saat ini Zahira sedang berduka, jadi Mas tidak akan memaksa Zahira untuk melayani Mas," jawab Rendi.
Zahira tau kalau sebagai lelaki normal akan sangat sulit menahan hasrat jika berdekatan dengan seorang perempuan, dan Rendi membulatkan matanya ketika secara tiba-tiba Zahira berinisiatif untuk menciumnya terlebih dahulu.
"Zahira memang sedang berduka Mas, tapi seorang istri akan berdosa apabila tidak melayani Suaminya," ujar Zahira.
Keduanya saling meraba dan membelai sehingga mereka berdua lupa daratan, apalagi ketika Rendi melihat tubuh putih mulus Zahira, dan Rendi langsung saja mencium titik-titik sensitif pada tubuh istrinya, sampai akhirnya Rendi dan Zahira melewati malam panas yang indah, meski pun Zahira harus merasakan sakit pada area sensitifnya, karena itu merupakan yang pertama kali untuknya, begitu juga untuk Rendi yang akhirnya melepas keperjakaannya setelah selama dua tahun Rendi mati-matian menahannya ketika menjadi Suami pura-pura Nabila.
__ADS_1
"Terimakasih atas malam yang indah ini sayang, dalam seumur hidup Mas, Mas akan selalu mengingatnya," ucap Rendi dengan membawa Zahira ke dalam pelukannya.