
Ken terlihat bingung karena tiba-tiba Nenek Puspa menangis dengan memegang kalung milik Nabila.
"Nenek kenapa menangis?" tanya Ken.
"Ken, Nabila adalah Cucu kandung Nenek yang selama ini kita cari-cari," ujar Nenek Puspa.
Deg
Jantung Ken rasanya berhenti berdetak, Ken tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini, apalagi Ken sudah merusak kehormatan Nabila.
"A_apa maksud Nenek? bagaimana bisa seperti itu?" tanya Ken dengan duduk bersimpuh di depan tubuh Nenek Puspa.
"Kamu lihat kalung ini, ini bukan kalung biasa, karena hanya ada satu kalung di Dunia ini, dan Nenek yang memesannya langsung dari teman Nenek di Dubai. Jika kita lihat secara seksama, ada nama kecil di belakang liontin huruf Nabila yang bertuliskan Putri Airlangga, dan itu adalah nama kepanjangan Nabila yang sebenarnya."
"Sekarang dimana Nabila, Ken? dimana Cucu kandung Nenek?"
Ken tidak tau harus menjawab pertanyaan Nenek Puspa seperti apa, karena Ken sendiri saat ini tidak tahu keberadaan Nabila.
"Nek, maaf kalau selama ini Ken sudah membohongi Nenek," ucap Ken dengan lirih.
"Bohong tentang Nabila yang sebenarnya bukan istri kamu? Nenek dari awal sudah mengetahui semuanya, tapi Nenek pura-pura tidak tau, karena sejak Nenek melihat Nabila, Nenek sudah mempunyai firasat jika Nabila adalah Cucu Nenek, apalagi wajah Nabila begitu mirip dengan mendiang Ibunya."
"Kenapa dari awal Nenek tidak mengatakan semua itu kepada Ken? kalau saja Ken tau dari awal, mungkin Nabila saat ini masih bersama kita, dan Ken tidak akan mungkin menyuruh Nabila untuk terus berpura-pura menjadi istri Ken."
"Nenek tadinya ingin mencari bukti terlebih dahulu, jika Nenek tidak mempunyai bukti, kamu pasti akan mengira Nenek sudah mengada-ada, dan Nenek takut kalau kamu akan menjauhkan Nenek dari Nabila. Selama ini Nenek hanya ingin dekat dengan Nabila Ken, tolong bawa Nabila pulang," ujar Nenek Puspa dengan menangis memeluk tubuh Ken.
"Saat ini Ken tidak tau keberadaan Nabila, karena semalam Nabila pergi meninggalkan Ken." Maaf Nek, Ken belum bisa mengatakan yang sebenarnya jika Nabila ditabrak oleh Aira, dan semua itu karena Ken yang sudah merusak kehormatannya. Jika saja Ken tidak mengingkari janji Ken kepada Nabila, mungkin saat ini Nabila masih ada di sini bersama kita. Aku yakin jika ada orang yang sudah mencampur obat perangsang ke dalam minumanku, dan aku pasti akan mencari orang tersebut untuk membuat perhitungan, lanjut Ken dalam hati.
"Kenapa bisa Nabila sampai meninggalkan kamu? apa kalian bertengkar?" tanya Nenek Puspa.
"Nenek jangan terlalu banyak pikiran ya, Ken pasti akan terus mencari Nabila sampai ketemu."
Ken memutuskan untuk menutupi semua yang terjadi kepada Nabila dari Nenek Puspa, karena Ken tidak mau jika kondisi kesehatan Nenek Puspa semakin memburuk, padahal semenjak kedatangan Nabila, kondisi Nenek Puspa sudah jauh lebih baik.
__ADS_1
......................
Ken terus mengerahkan Anak buahnya untuk mencari keberadaan Nabila dan Rendi, karena Ken tau kalau Rendi yang sudah membawa Nabila ke Rumah Sakit, tapi Ken tidak tau alasan Rendi yang ikut menghilang juga.
Rendi sengaja mendaftarkan nama Nabila dengan nama Zahra saat membawanya ke Rumah Sakit, jadi Anak buah Ken tidak bisa menemukan keberadaan Nabila.
Nabila sudah dirawat di Rumah sakit selama tiga hari, dan hari ini Nabila sudah diperbolehkan pulang.
Rendi berencana untuk langsung membawa Nabila pulang ke kampung halamannya yang berada di Lampung. Meski pun Rendi Anak Yatim Piatu juga, tapi Rendi masih mempunyai rumah dan tanah peninggalan kedua orangtuanya yang Rendi titipkan untuk dikelola oleh Pamannya.
"Mas, kita sekarang mau pulang kemana?" tanya Nabila ketika mereka berdua berada di dalam Bus antar Kota antar Provinsi.
"Kita mau pulang ke Lampung, di sana kita masih mempunyai rumah peninggalan orangtua Mas," jawab Rendi.
"Memangnya kita tidak mempunyai kerabat di Jakarta? dan dimana keberadaan kedua orangtua kita sekarang?" tanya Nabila.
"Kita berdua sudah Yatim Piatu Zahra, dan kita tidak mempunyai sanak saudara di Jakarta."
"Terus kenapa kita bisa berada di Jakarta?" tanya Nabila yang masih merasa heran dengan semuanya, karena dirinya masih belum mengingat apa pun.
"Sudah berapa lama kita menikah?" tanya Nabila.
"Kita baru menikah selama satu bulan. Sebaiknya sekarang kamu tidur, perjalanan kita masih panjang, dan kamu harus banyak istirahat supaya cepat pulih," ujar Rendi dengan menyandarkan kepala Nabila pada bahunya.
Kenapa aku masih merasa asing dengan Mas Rendi? dan anehnya setiap malam aku selalu bermimpi bertemu dengan seorang lelaki yang terus memanggil namaku, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, dan aku yakin jika lelaki tersebut bukan Mas Rendi, ucap Nabila dalam hati.
Rendi dan Nabila akhirnya tertidur di dalam Bus, dan setelah menempuh 10 jam perjalanan, mereka berdua akhirnya sampai di kampung halaman Rendi.
"Selamat datang di istana kita, Ratuku. Maaf ya jika kita harus tinggal di rumah yang kecil," ujar Rendi dengan membuka pintu pagar.
Mata Nabila berbinar ketika melihat rumah minimalis yang terlihat asri.
"Rumahnya bagus Mas, di sini udaranya juga masih sejuk," ucap Nabila dengan tersenyum.
__ADS_1
"Semoga kamu betah tinggal di sini ya," ucap Rendi dengan menggandeng tangan Nabila untuk masuk.
"Kemana pun Mas Rendi membawa Zahra, Zahra pasti akan ikut, karena seorang istri harus menuruti serta mengikuti Suaminya. Dan pastinya, Zahra bakalan betah juga tinggal di sini."
Rendi merasa bersalah karena sudah membohongi Nabila, tapi Rendi tidak mempunyai pilihan lain supaya bisa melindungi Nabila, apalagi rasa cinta Rendi kepada Nabila semakin hari semakin besar.
Maafkan aku karena sudah membohongi kamu. Semoga suatu saat nanti kamu akan mengerti kenapa aku melakukan semua ini, ucap Rendi dalam hati.
Mereka mengucap Salam sebelum masuk ke dalam rumah, dan sebelumnya Pamannya Rendi sudah memberitahu lewat telpon jika rumah sudah dibersihkan oleh istrinya, dan kunci rumah disimpan di atas pintu, karena saat ini Paman dan Bibinya sedang ada keperluan, jadi tidak bisa menyambut kedatangan Rendi.
"Sayang, sebaiknya kamu istirahat dulu saja, biar Mas cari makan dulu," ujar Rendi yang hendak ke luar dari dalam rumahnya, tapi ketika Rendi sampai halaman, ternyata Paman dan Bibinya datang membawakan makanan untuk Rendi dan Nabila.
"Ren, kapan kamu datang?" tanya Pak Udin.
"Kami baru saja sampai Pak. Bukannya Bapak dan Ibu ada urusan?" tanya Rendi.
"Iya Nak, Bapak sama Ibu juga baru pulang. Oh iya, mana Menantu kami?" tanya Pak Udin.
"Mari masuk Pak, Bu, Zahra ada di dalam rumah," ajak Rendi.
Rendi mengenalkan Nabila kepada Paman dan Bibinya saat mereka bertemu.
"Sayang, ini Paman dan Bibinya Mas, tapi mereka sudah Mas anggap sebagai orangtua Mas sendiri, jadi Mas memanggil mereka dengan panggilan Bapak dan Ibu," ujar Rendi.
"Saya Zahra Bu, Pak," ucap Nabila dengan mencium punggung tangan Paman dan Bibinya Rendi.
"Ternyata Rendi pintar sekali memilih Istri ya Bu," Ujar Pak Udin.
"Iya Pak, Zahra sangat cantik ya. Nak, sebaiknya kalian berdua makan dulu, kasihan kalian pasti lapar habis perjalanan jauh," ujar Bu Fatimah.
"Makasih banyak ya Bu, maaf sudah merepotkan," ucap Nabila.
"Nak, kami adalah orangtua kalian, jadi kami tidak merasa direpotkan. Justru kami bahagia karena akhirnya Rendi mempunyai istri juga. Rendi dari dulu tidak pernah mau pacaran, padahal banyak lho perempuan yang mengejar-ngejar Rendi," ujar Bu Fatimah.
__ADS_1
"Masa sih Bu, benar gak Mas?" tanya Nabila yang merasa penasaran.