Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 60 ( Lebih baik cacat fisik daripada cacat hati )


__ADS_3

Nabila dan Ken yang telah sampai di Rumah Sakit, langsung masuk ke dalam ruang kerja Dokter yang akan membantu pengobatan terhadap Nabila.


"Pagi Tuan dan Nyonya, silahkan duduk," ucap Dokter Samuel.


"Makasih banyak Dok," ucap Nabila dan Ken secara bersamaan.


Dokter Samuel memeriksa semua dokumen Nabila saat melakukan pemeriksaan di Indonesia, kemudian Dokter Samuel terlebih dahulu menyarankan Nabila untuk melakukan kemoterapi.


"Sebaiknya kita melakukan kemoterapi terlebih dahulu terhadap Nyonya. Semoga saja dengan kemoterapi kita bisa menghancurkan sel kanker yang saat ini tengah berkembang pada otak Nyonya."


"Dok, apa kemoterapi akan ada efek sampingnya?" tanya Ken.


"Semua pengobatan pasti akan ada efek sampingnya Tuan, dan nanti rambut Nyonya akan mengalami kerontokan bahkan nanti kepala Nyonya akan menjadi botak, tapi itu berarti kemoterapi nya berhasil. Nyonya harus terus didampingi karena nanti Nyonya juga akan sering pingsan, dan badan juga akan menjadi kurus, karena lidah akan merasa pahit jika makan atau minum," jelas Dokter Samuel.


"Berapa kali kemoterapi yang harus dilakukan oleh istri saya Dok?" tanya Ken.


"Jika kita melihat penyakit yang saat ini Nyonya derita, kemungkinan enam kali kemoterapi dalam kurun waktu dua minggu sekali, tapi bisa jadi delapan kali atau sepuluh kali, kita nanti lihat perkembangan sel kanker yang Nyonya derita. Kalau begitu sekarang kita lakukan serangkaian tes kesehatan dulu sebelum memulai kemoterapi minggu depan, karena kita harus melakukan tes jantung, paru-paru, darah, dan yang lainnya," ujar Dokter.


Seharian Nabila melakukan serangkaian tes, dan Ken selalu setia mendampinginya.


"Makasih banyak Yah, karena Ayah selalu menemani Bunda," ucap Nabila kepada Ken dengan memeluk tubuh Suaminya tersebut.


"Semua itu sudah menjadi kewajiban Ayah sebagai seorang Suami, dan Bunda tidak perlu mengucapkan terimakasih."


......................


Saat ini Nenek Puspa telah mengumumkan kepada publik jika Rendi adalah Cucu kandungnya, bahkan Rendi menggantikan Ken untuk memimpin perusahaan.


Setiap hari, Aira tanpa tahu malunya terus saja mendekati Rendi, meski pun Rendi selalu menatap sinis Aira bahkan tidak segan-segan mengusirnya.


"Aira, apa kamu tidak ada kerjaan lain selain menggangguku?" sindir Rendi kepada Aira.


"Kamu itu calon Suamiku Ren, jadi aku akan selalu mengikutimu," ujar Aira.


"Apa kamu salah minum obat? kamu jangan berkhayal, karena aku tidak akan pernah sudi menjadikan perempuan seperti kamu sebagai istriku, Bukankah selama ini kamu selalu menganggapku sebagai kacung? terus kenapa sekarang kamu berubah pikiran setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya?" tanya Rendi.


"Maafkan aku Ren, aku tidak sengaja berbicara seperti itu, lidahku saat itu keseleo," ujar Aira.


"Aku baru tau kalau lidah bisa keseleo juga, sebaiknya sekarang kamu ke luar dari ruang kerjaku sebelum aku memanggil bagian keamanan untuk menyeretmu ke luar dari sini," tegas Rendi.


Untuk saat ini aku akan mengalah dulu Rendi, tapi lihat saja nanti, aku akan pastikan kamu bertekuk lutut di hadapanku, ucap Aira dalam hati, kemudian dengan terpaksa melangkahkan kaki ke luar dari ruang kerja Rendi.

__ADS_1


"Bagaimana caranya supaya Aira berhenti mengejarku? lama-lama aku kesal juga dengan tingkahnya yang tidak tahu malu," gumam Rendi dengan mengacak rambutnya secara kasar.


Sesaat kemudian, suara handphone Rendi berbunyi, dan ternyata itu adalah panggilan video dari nomor Bu Fatimah.


"Assalamu'alaikum Anak Ayah," ucap Rendi ketika melihat wajah Rendra pada layar handphonenya.


"Wa'alaikumsalam Nak. Rendi apa kabar?" tanya Bu Fatimah.


"Alhamdulillah sehat Bu, bagaimana dengan Ibu, Bapak dan Rendra?"


"Alhamdulillah kami juga baik."


"Bu, saat ini hati Rendi sedang kurang baik."


"Kenapa bisa seperti itu?"


"Ada perempuan yang terus saja mengejar-ngejar Rendi."


"Bagus dong, berarti sebentar lagi kamu bisa menikah."


"Tidak Bu, Rendi tidak mau menikah dengan perempuan yang tidak mempunyai sifat dan sikap yang baik, bahkan dulu dia yang telah menabrak Nabila."


"Astagfirullah, jahat banget sih. Ibu juga tidak setuju jika kamu menikahi perempuan seperti itu."


Bu Fatimah terlihat berpikir mendengar perkataan Rendi.


"Nak, jodoh itu di tangan Allah SWT, jika memang dia mempunyai hati yang baik, kenapa tidak, lebih baik cacat fisik daripada cacat hati. Sekarang jaman sudah canggih, jika memang dia tidak mempunyai kaki, kenapa tidak melakukan operasi menggunakan kaki palsu?"


"Makasih banyak ya Bu, nanti Rendi akan memikirkan semuanya lagi," ucap Rendi kemudian mengucapkan Salam sebelum menutup panggilan video.


Rendi saat ini sudah berada di parkiran karena jam kerja telah selesai.


Ketika Rendi hendak naik mobil, Rendi melihat Andre yang sedang kebingungan karena saat ini ban mobil miliknya kempes.


"Dre, kenapa dengan mobil kamu?" tanya Rendi.


"Ban mobil saya kempes Tuan, kalau saya mengganti ban nya sekarang, kasihan istri saya pasti akan lama menunggu."


"Ya sudah, kalau begitu biar saya antar saja," tawar Rendi.


"Tidak perlu Tuan, biar saya pesan taksi online saja."

__ADS_1


"Jam kerja seperti ini susah mendapatkan taksi online. Memangnya saat ini istri kamu sedang berada dimana?" tanya Rendi.


"Di jalan Thamrin Tuan," jawab Andre.


"Sebaiknya sekarang kamu masuk, aku juga sekalian lewat," ujar Rendi, dan Andre yang merasa tidak enak menawarkan diri supaya dirinya saja yang menyetir.


"Tuan, sebaiknya saya saja yang menyetir, saya tidak enak jika Tuan yang harus menyetir," ujar Andre, dan Rendi langsung memberikan kunci mobilnya kepada Andre.


Sepanjang perjalanan, Rendi mengobrol bersama Andre, dan Rendi begitu prihatin ketika mendengar Megan kecelakaan, bahkan kehilangan sebelah kaki dan juga bayi yang dikandungnya.


"Saya turut berduka ya atas musibah yang menimpa istri kamu Dre," ucap Rendi.


"Makasih banyak Tuan, tadinya Megan selalu putus asa, bahkan beberapa kali mencoba melakukan tindakan bunuh diri, sehingga saya memasukan Megan ke dalam sebuah organisasi penyemangat hidup, dan Alhamdulillah sekarang Megan sudah bisa menerima semuanya, apalagi setelah Megan bertemu dengan sosok Zahira, teman sekaligus narasumber dalam organisasi tersebut."


"Syukurlah kalau begitu, saya ikut bahagia," ucap Rendi.


Apa mungkin nama Zahira yang disebutkan oleh Andre adalah Zahira Anaknya Om Indra? ucap Rendi dalam hati.


Setengah jam kemudian Rendi dan Andre telah sampai di depan gerbang, dan ternyata Megan saat ini tengah menunggu Andri dengan mengobrol ditemani oleh Zahira yang juga sedang menunggu jemputan.


Rendi dan Andre mengucap Salam ketika melihat Megan dan Zahira, dan Rendi begitu terpesona melihat kecantikan wajah Zahira yang alami tanpa make up.


"Maaf, apa Anda adalah Zahira Anak Om Indra?" tanya Rendi.


"Iya benar, kenapa Anda bisa mengenal Ayah saya?" tanya Zahira.


"Saya Rendi, Cucunya Nenek Puspa."


"Jadi ini yang namanya Mas Rendi? maaf Mas saya tidak mengenal Mas Rendi, dan selama ini saya hanya mendengar dari orang-orang saja," ujar Zahira dengan tersenyum.


"Apa Zahira sedang menunggu jemputan?" tanya Rendi.


"Iya Mas, tapi barusan Mama telpon katanya tidak bisa menjemput, jadi saya sekarang mau naik taksi saja," jawab Zahira.


"Kalau tidak keberatan kita bisa pulang bersama," ajak Rendi.


Zahira nampak berpikir karena dia takut merepotkan Rendi.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Zahira.


"Tidak sama sekali, lagian rumah kita juga berdekatan," jawab Rendi.

__ADS_1


Setelah berpamitan kepada Megan dan Andre, Rendi membantu Zahira naik ke dalam mobilnya.


__ADS_2