Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 34 ( Bertemu dengan Aldi )


__ADS_3

Rendi selalu menjadi sosok Suami yang siaga untuk Nabila, tapi entah kenapa rasa cinta itu masih belum hadir juga pada hati Nabila.


Meski pun rasa cinta itu masih belum ada, tapi aku akan selalu menghargai apa yang sudah Mas Rendi lakukan untukku, ucap Nabila dalam hati ketika melihat Rendi melajukan mobilnya dengan melambaikan tangan pada Nabila saat berangkat bekerja.


Nabila kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil yang dikendarai oleh Rendi sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya, tapi ketika Nabila melihat meja yang berada di ruang tamu, Nabila melihat dompet dan handphone Rendi yang ketinggalan.


"Tumben dompet dan handphone Mas Rendi sampai ketinggalan, padahal biasanya Mas Rendi tidak pernah lupa dengan barang-barangnya," gumam Nabila.


Nabila memanggil Asisten rumah tangganya, karena setelah Nabila positif hamil, Rendi tidak memperbolehkan Nabila melakukan pekerjaan apa pun.


"Bi, saya mau menyusul Mas Rendi dulu ya ke kantornya, soalnya handphone dan dompet Mas Rendi ketinggalan," ujar Nabila dengan melangkahkan kaki ke luar dari dalam rumah.


Ketika Nabila hendak menyebrang untuk menghentikan angkot, hampir saja Nabila tertabrak sebuah mobil, untung saja pengendara mobil tersebut segera mengerem mobilnya.


"Astagfirullah, Mbak tidak kenapa-napa kan? maaf saya sedang buru-buru, makanya tidak melihat Mbak menyebrang," ujar pengendara mobil dengan membantu Nabila untuk berdiri, karena saat ini Nabila tengah berjongkok dengan menutup kedua telinganya.


"Na_bila," ucap pengendara mobil dengan lirih.


"Maaf, sepertinya Mas salah orang, nama saya Zahra," ujar Nabila.


"Tidak mungkin, tidak mungkin ada seseorang yang begitu mirip di dunia ini, aku yakin kalau kamu adalah Nabila. Nabila aku tau kalau aku sudah melakukan kesalahan kepadamu, dan aku minta maaf atas semua kejadian di masalalu, tapi kenapa kamu pura-pura tidak mengenaliku?" tanya pengendara mobil yang ternyata adalah Aldi.


Aldi saat ini ada urusan bisnis di lampung, dan dia tidak pernah mengira jika akan kembali bertemu dengan sosok mantan istri yang sedang berusaha ia lupakan.


"Mas, maaf, sepertinya Anda salah orang. Saya tegaskan sekali lagi, nama saya Zahra bukan Nabila, dan maaf sekali, saya harus segera menyusul Suami saya," ujar Nabila kemudian naik ke dalam angkot yang sudah ia hentikan.


Setelah Nabila naik angkot, Aldi terlihat diam mematung melihat kepergiannya, sampai akhirnya suara handphone Aldi berbunyi dan menyadarkannya dari lamunan.


"Seandainya aku tidak ada meeting hari ini, aku pasti akan mengikuti perempuan bernama Zahra tersebut, karena aku sangat yakin jika dia adalah Nabila. Apa perempuan tadi sedang hamil ya? berarti Nabila dan Ken sudah menikah?" gumam Aldi, kemudian melajukan mobilnya menuju perusahaan yang saat ini akan bekerja sama dengan perusahaannya.


Ketika Aldi sampai di Perusahaan yang ia tuju, Aldi kembali terkejut karena saat ini Nabila tengah berada dalam pelukan seorang lelaki yang wajahnya begitu familiar, tapi Aldi belum mengingat nama lelaki tersebut.

__ADS_1


"Nabila, kenapa kamu berpelukan dengan lelaki ini? aku kira kamu sudah menikah dengan Ken?" tanya Aldi.


Deg


Jantung Rendi berpacu dengan cepat ketika bertemu dengan Aldi, tapi Rendi berusaha tenang supaya Nabila tidak curiga.


Jadi Aldi Bramantyo yang akan bekerja sama dengan perusahaan tempat aku bekerja adalah Aldi mantan Suaminya Nabila? kenapa dunia ini begitu sempit? kamu harus tenang Rendi, jangan sampai Aldi dan Nabila curiga, karena aku tidak rela jika harus berpisah dengan Nabila, ucap Rendi dalam hati.


"Maaf Tuan, kenapa dari tadi Tuan memanggil saya dengan sebutan Nabila? harus saya bilang berapa kali kalau nama saya adalah Zahra, dan Mas Rendi ini adalah Suami saya."


"Rendi, iya aku ingat, kamu Rendi Asisten nya Ken kan?" ujar Aldi.


"Sepertinya Tuan juga salah mengenali orang, karena saya tidak kenal dengan yang namanya Ken," ujar Rendi.


"Tidak mungkin, nama dan wajah kalian saja sama persis, dan aku sangat yakin jika kamu adalah Rendi Asisten nya Ken."


Nabila memegang kepalanya yang terasa sakit ketika berkali-kali mendengar nama Ken."


"Kepala Zahra sedikit pusing Mas."


"Kalau begitu sekarang kita ke Dokter ya," ujar Rendi yang terlihat khawatir.


Rendi sepertinya sangat mencintai istrinya, apa benar aku sudah salah orang? ucap Aldi dalam hati.


"Zahra pulang saja Mas."


"Ya sudah, ayo Mas antar pulang dulu."


"Mas bukannya ada meeting ya? Zahra naik angkot lagi saja."


"Tidak sayang, Mas tidak mau kalau sampai Zahra kenapa-napa," ketika Rendi sudah menggandeng Nabila untuk mengantarnya pulang, Rendi mendapatkan telepon dari Sekretarisnya untuk segera menghadiri meeting yang sebentar lagi akan dimulai.

__ADS_1


"Sayang, tidak apa-apa kan kalau Zahra di antar sama Supir? soalnya Mas harus masuk ruang meeting sekarang?" ujar Rendi.


"Tidak apa-apa Mas, Zahra baik-baik saja kok."


Rendi memanggil Supir kantor yang kebetulan berada tidak jauh dari sana.


"Pak, tolong antar istri saya pulang ya, hati-hati bawa mobilnya" ujar Rendi dengan memberikan kunci mobil kantor kepada Supir tersebut.


"Sayang hati-hati ya, sayang Ayah juga jangan nakal," ujar Rendi dengan mencium kening dan perut Nabila.


Setelah Rendi menutup pintu mobil yang ditumpangi oleh Nabila, Rendi bergegas masuk perusahaan menuju ruang meeting, dan tidak menghiraukan keberadaan Aldi yang masih diam mematung melihat interaksi Rendi dan Nabila.


"Nanti aku harus berbicara lagi dengan Rendi, karena aku yakin jika Rendi adalah Asisten Ken, dan Zahra adalah Nabila," gumam Aldi, kemudian menyusul Rendi menuju ruang meeting.


......................


Setelah sampai Rumah Sakit, Megan yang baru saja mengalami kecelakaan mobil, langsung di bawa ke ruang IGD untuk mendapatkan penanganan medis, dan Andri terus saja mondar mandir di depan ruang IGD.


Beberapa saat kemudian, Dokter ke luar dari ruang IGD karena harus meminta persetujuan operasi dari Andri.


"Dok, bagaimana Anak dan istri saya?" tanya Andri.


"Bayi yang berada dalam kandungan pasien saat ini telah meninggal dunia, dan kita harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkannya, Pasien juga mengalami patah tulang pada sebelah kakinya, sehingga kita harus melakukan amputasi pada kaki yang patah tersebut," jelas Dokter.


"Innalillahi waina ilaihi raji'un, maafkan Ayah yang tidak bisa menjaga kamu Nak," gumam Andre.


"Dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya, yang penting istri saya dapat diselamatkan," ujar Andri.


"Baiklah, kalau begitu Bapak segera tandatangani persetujuan operasinya, biar kami bisa segera melakukan tindakan kepada Pasien.


Setelah Andri menandatangani semua berkas persetujuan operasi Megan, Megan langsung di bawa menuju ruang operasi.

__ADS_1


"Kamu harus kuat Megan, kamu pasti bisa bertahan, dan aku akan selalu menunggumu di sini," ujar Andri dengan mencium tangan Megan sebelum Megan dibawa masuk ke dalam ruang Operasi.


__ADS_2