
Rendi merasa terkejut dengan perkataan Ken, pasalnya Rendi tidak suka dengan Aira yang selalu saja bersikap sombong terhadap oranglain.
"Apa? kamu yang benar saja Ken, aku tidak akan sudi jika sampai Tuan Indra menjodohkan aku dengan Aira."
"Kamu tinggal menolaknya Ren, apa susahnya sih, tapi kalau kamu berminat, Aira punya kembaran yang sangat baik."
"Aku kira Aira Anak tunggal?"
"Om Indra menutupi keberadaan Zahira, karena Zahira terlahir cacat, padahal Zahira mempunyai hati yang baik, tapi nasibnya sangat malang karena dibuang oleh keluarganya sendiri."
"Anak adalah titipan, tidak seharusnya Tuan Indra memperlakukan Anaknya sendiri seperti itu. Tidak ada seorang pun di Dunia ini yang ingin terlahir cacat, tapi lebih baik cacat fisik daripada cacat hati," ujar Rendi.
"Iya Ren, kamu benar. Aku ingin sekali menolong Zahira untuk ke luar dari rumah Om Indra, tapi Om Indra mempunyai syarat jika aku ingin membawa Zahira pergi."
"Apa syaratnya Ken?"
"Aku harus menikahi Zahira, supaya Om Indra bisa mendapatkan harta kekayaan keluarga Airlangga."
"Benar-benar orangtua yang tidak punya hati, tega sekali kepada Anak sendiri."
"Iya Ren, Om Indra bahkan tidak segan-segan menyiksa Zahira dan istrinya, karena istri Om Indra sangat menyayangi Zahira. Aku merasa kasihan dengan nasib yang menimpa Zahira, tapi aku tidak mungkin menikahinya karena aku tidak memiliki perasaan apa pun terhadapnya."
Rendi merasa kasihan terhadap Zahira setelah mendengar cerita Ken, sehingga dalam hatinya terbesit rasa ingin menolong Zahira.
Apa aku nikahi saja Zahira? mungkin dengan menikahi perempuan lain, aku bisa segera melupakan Nabila, juga bisa membantu Zahira untuk ke luar dari rumah Tuan Indra, ucap Rendi dalam hati.
"Ren, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ken yang melihat Rendi terus melamun.
"Aku baik-baik saja Ken."
"Ya sudah, sekarang kamu minum obatnya, jangan sampai kamu mengganggu malam pertamaku karena kami harus menjagamu," celetuk Ken.
"Kamu tenang saja Ken, aku akan segera baikan setelah minum obat. Terimakasih karena kalian telah merawatku. Kalau begitu sekarang kamu pergi dari kamarku, aku mau istirahat," usir Rendi.
"Apa kamu sedang berusaha untuk mengusirku Ren?" tanya Ken.
__ADS_1
"Memangnya kamu mau menghabiskan malam di kamar ini bersamaku? tidak kan? lagian aku tau kalau kamu ingin selalu berada di dekat Nabila."
"Terimakasih banyak ya Ren, kamu sangat pengertian," ujar Ken dengan memeluk tubuh Rendi, tapi tiba-tiba terdengar suara Nabila yang menggoda mereka.
"Apa yang sedang kalian lakukan? jangan bilang kalian sudah berselingkuh di belakangku."
Ken yang kaget langsung melepaskan pelukannya kepada Rendi, bahkan Ken replek mendorong tubuh Rendi hingga kepala Rendi kepentok dashboard ranjang.
"Sayang, Suamimu ini masih normal, masa jeruk makan jeruk?" ujar Ken dengan bergidik ngeri.
"Sayang, aku cuma bercanda, kenapa kamu sampai mendorong Mas Rendi? kasihan kan Mas Rendi jadi tambah kesakitan."
"Maaf Ren, aku tidak sengaja," ucap Ken dengan nyengir kuda.
"Ken, kamu harus tanggung jawab."
"Memangnya aku sudah menghamili kamu sehingga kamu meminta pertanggungjawaban dariku?" ujar Ken.
Nabila dan Rendi yang mendengar Ken memutar malas bola matanya.
"Karena kami adalah Adik Kakak," ucap Nabila dan Rendi secara bersamaan.
"Woah kalian semakin hebat bisa sampai kompakan gitu ngomongnya, jangan-jangan kalian sehati ya," sindir Ken.
"Udah, gak usah bicara yang tidak-tidak sayangku. Oh iya Mas, apa Mas Rendi sudah meminum obat?"
"Aku udah minum obat barusan kok. Kalau begitu aku istirahat dulu ya," ujar Rendi.
"Ya sudah, kalau begitu kami istirahat juga. Semoga cepat sembuh ya Mas," ujar Nabila, kemudian Ken menggandengnya ke luar dari dalam kamar Rendi.
Nenek Puspa saat ini telah menunggu Ken dan Nabila untuk membicarakan tentang rencananya mengumumkan Nabila sebagai Cucu kandungnya.
"Sayang, bagaimana keadaan Rendi sekarang?" tanya Nenek Puspa kepada Nabila.
"Mas Rendi sudah mendingan Nek, sekarang Mas Rendi sedang beristirahat," jawab Nabila.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau Rendi sudah lebih baik. Ken, kapan kita akan pulang ke Jakarta? Nenek sudah tidak sabar untuk mengumumkan kepada publik tentang Nabila yang sebenarnya adalah Cucu kandung Nenek." tanya Nenek Puspa.
Ken nampak berpikir, karena mau tidak mau Ken harus menceritakan tentang kejahatan yang telah dilakukan oleh Aira dan Ayahnya supaya Nenek Puspa mengerti dengan rencana Ken.
"Nek, sebenarnya saat ini Nabila dan Rendra berada dalam bahaya jika kita mengumumkan kepada publik tentang identitas mereka yang sebenarnya."
"Apa maksud kamu Ken?" tanya Nenek Puspa yang merasa terkejut.
"Sebenarnya ketika Rendi memutuskan untuk membawa Nabila ke sini, kondisi Nabila saat itu sedang hilang ingatan setelah mengalami kecelakaan. Nabila menjadi korban tabrak lari, dan orang yang telah menabrak Nabila adalah Aira." jawab Ken, dan Nenek Puspa begitu syok mendengarnya.
"Tidak mungkin, tidak mungkin Aira sejahat itu Ken. Selama ini Nenek tau kalau Aira adalah perempuan yang manja dan suka seenaknya, tapi tidak mungkin Aira melakukan tindak kriminal."
Ken memperlihatkan rekaman CCTV pada handphonenya kepada Nenek Puspa supaya beliau percaya dengan kejahatan yang telah dilakukan oleh Aira.
"Astagfirullah, Aira jahat sekali, tega-teganya Aira menabrak Nabila. Kenapa dari dulu kamu tidak mengatakan semuanya kepada Nenek Ken?"
"Ken takut Nenek akan syok dan jatuh sakit ketika mengetahui kebenaran tentang Keponakan Nenek. Bukan hanya itu Nek, tapi yang sudah menjebak Ken dengan memasukan obat perangsang ke dalam minuman Ken saat di acara Reuni adalah Om Indra, dan Om Indra melakukan semua itu supaya Ken menikahi Aira."
"Kita harus bagaimana Ken? Nenek tau watak Indra, dia pasti tidak akan tinggal diam saja jika sampai mengetahui yang sebenarnya."
"Sebenarnya saat ini Om Indra telah mengetahui tentang keberadaan Nabila, bahkan kemarin saat Ken pertama kali datang ke sini, Nabila hendak diculik oleh Anak buah Om Indra. Sepertinya di rumah kita masih ada mata-mata suruhan Aira dan Om Indra, dan mereka melaporkan tentang identitas Nabila yang sebenarnya."
Nenek Puspa saat ini terlihat khawatir, karena Nenek Puspa tidak mau kalau sampai berpisah kembali dengan Nabila, apalagi jika sampai Daddy Indra mencelakai Nabila dan Rendra.
"Nenek jangan khawatir ya, Ken dan Rendi sudah berencana untuk menjebak Om Indra. Nenek tidak keberatan kan jika Nenek mengakui Rendi sebagai Cucu kandung Nenek dulu supaya Om Indra berhenti mengganggu Nabila dan Rendra? nanti setelah Rendi sembuh, Nenek dan Rendi kembali ke Jakarta, dan Ken akan menitipkan Rendra kepada kedua orangtua angkat Rendi supaya tidak ada yang mengetahui identitas Rendra yang sebenarnya."
"Nenek akan mendukung rencana kalian, yang penting Nabila dan Rendra aman, Nenek akan melakukan apa pun untuk mereka. Lalu bagaimana dengan Nabila dan kamu Ken?"
"Kami akan berangkat ke Luar negeri dulu untuk mengurus perusahaan kita, sekalian Ken akan mengajak Nabila bulan madu supaya kami bisa segera memberikan Adik untuk Rendra dan Cicit yang banyak untuk Nenek."
"Yah, tapi Bunda tidak mau berpisah dengan Rendra."
"Sayang, Rendra akan baik-baik saja tinggal bersama Bu Fatimah dan Pak Udin, dan kita hanya pergi sebentar saja sampai masalah dengan Om Indra selesai. Ayah tidak mau sampai sesuatu yang buruk terjadi kepada kalian," ujar Ken dengan memeluk tubuh Nabila yang saat ini terlihat khawatir.
Maafkan aku Nabila, semua ini aku lakukan untuk kesembuhan kamu. Semoga nanti kamu mengerti alasan aku tidak membawa Rendra bersama kita, ucap Ken dalam hati.
__ADS_1