Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 28 ( Amnesia )


__ADS_3

Saat ini Rendi sudah membawa Nabila ke Rumah Sakit, dan Rendi langsung berlari menggendong Nabila ke ruang IGD.


"Dok, tolong istri saya," ujar Rendi yang panik.


Dokter saat ini tengah memeriksa Nabila di ruang IGD, dan Rendi terlihat mondar mandir karena merasa cemas kepada Nabila.


"Semoga Nabila tidak kenapa-napa. Kenapa aku tidak bisa menjaga Nabila dengan baik? tadi saat di acara Reuni, Nabila hampir saja terjatuh, bahkan barusan Nabila tertabrak di depan mata kepalaku sendiri. Mulai saat ini aku tidak akan membiarkan Nabila sampai terluka lagi, dan aku akan menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku," gumam Rendi.


Beberapa saat kemudian, Dokter ke luar dari dalam ruang IGD, dan Rendi bergegas menghampirinya.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Rendi.


"Pasien saat ini masih belum sadarkan diri, tapi kami sudah menjahit luka pada kepalanya. Maaf Tuan, apa ini adalah malam pertama kalian?" tanya Dokter.


"Memangnya kenapa Dok?" tanya Rendi yang terlihat heran.


"Tadi ketika kami memeriksa tubuh Pasien, area in*tim Pasien mengalami pembengkakan, dan biasanya itu terjadi saat pertama kali pasangan Suami istri melakukannya, tapi kami sudah mengobati lukanya supaya tidak terlalu sakit," ujar Dokter dengan berlalu menuju ruangannya.


Rendi menjatuhkan tubuhnya ketika mendengar perkataan Dokter, ia tidak percaya jika Ken sudah melewati batasannya.


"Jadi Nabila meninggalkan Tuan Ken karena Tuan Ken telah melanggar janjinya," gumam Rendi dengan mengacak rambutnya secara kasar, dan semua itu membuat Rendi semakin merasa kasihan dengan nasib Nabila yang malang.


......................


Setelah selesai membereskan administrasi, Nabila dipindahkan ke kamar perawatan, dan Rendi terus menunggu di samping ranjang pesakitan Nabila dengan memegang erat tangan Nabila, sampai akhirnya Rendi yang sudah mengantuk menidurkan kepalanya di atas ranjang pesakitan Nabila.


Nabila terbangun ketika mendengar suara Adzan Subuh berkumandang, kemudian Nabila mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, tapi saat ini Nabila terlihat bingung karena dirinya tidak mengingat apa pun.


"Air, air," ucap Nabila dengan lirih, karena Nabila merasa haus.


Rendi yang merasakan pergerakan pada tangan Nabila dan mendengar Nabila meminta air, langsung membuka matanya, kemudian mengambilkan air untuk Nabila.


"Siapa kamu?" tanya Nabila ketika melihat wajah Rendi.

__ADS_1


"Apa kamu tidak mengingatku?" tanya Rendi, dan Nabila menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


Rendi menekan tombol yang berada di atas ranjang pesakitan Nabila untuk memanggil Dokter, dan beberapa saat kemudian, Dokter pun datang.


Saat ini Dokter memeriksa Nabila secara seksama.


"Dok, kenapa saya tidak bisa mengingat apa pun?" tanya Nabila.


"Sepertinya Anda mengalami amnesia karena benturan keras pada kepala Anda," jawab Dokter.


"Apa saya masih bisa sembuh?" tanya Nabila.


"Semoga saja Nona, tapi kami tidak bisa memprediksi kapan ingatan Anda dapat kembali pulih, dan hanya waktu yang bisa menjawab semuanya. Namun, Anda jangan terlalu berpikir keras, karena itu akan menyebabkan saraf motorik Anda rusak. Kalau begitu saya permisi dulu, kalau ada apa-apa, Anda bisa memanggil saya," ujar Dokter, kemudian ke luar dari dalam kamar perawatan Nabila.


Setelah Dokter ke luar, Rendi kembali duduk di samping ranjang pesakitan Nabila.


"Mas, apa Mas bisa memberitahu nama saya?" tanya Nabila.


Rendi terlihat berpikir, sampai akhirnya Rendi memakai nama belakang Nabila untuk mengganti panggilannya, karena Rendi sudah berniat akan membawa Nabila untuk menjauh dari kehidupan Ken, dan pastinya semua itu akan lebih mudah karena saat ini Nabila hilang ingatan.


"Kalau nama Mas siapa?" tanya Nabila lagi.


"Namaku Rendi, dan kamu adalah istriku."


"Maaf kalau aku sudah melupakan semuanya," ucap Nabila dengan tertunduk sedih, karena saat ini Nabila merasakan sesuatu yang hilang pada dirinya.


Maaf Nabila, aku harus membohongi kamu, karena aku tidak mau kalau sampai ada orang yang kembali berusaha untuk mencelakaimu, dan mulai sekarang kita akan membuka lembaran baru dengan meninggalkan kota ini, ucap Rendi dalam hati.


......................


Keesokan paginya, Ken mengerjapkan matanya ketika cahaya matahari menerobos masuk lewat jendela, kemudian Ken duduk dengan memegang kepalanya yang sedikit pusing.


Ken kembali mengingat kejadian semalam saat dirinya merenggut kesucian Nabila, dan Ken begitu terkejut karena saat ini Nabila tidak ada di sampingnya.

__ADS_1


"Sayang, kamu dimana?" teriak Ken.


Ken mencoba mencari Nabila ke dalam kamar mandi, tapi Nabila tidak ada di sana, dan Ken semakin terkejut ketika melihat noda darah di atas sprei, bahkan Ken merasakan sakit pada punggung dan dadanya bekas cakaran dan gigitan Nabila.


"Apa yang sudah aku lakukan kepada Nabila? aku sudah melanggar janjiku, aku sudah merenggut kesuciannya. Nabila pasti marah padaku sehingga dia pergi meninggalkanku," gumam Ken dengan memeluk sprei yang menjadi saksi penyatuannya semalam dengan Nabila.


Ken menyimpan sprei tersebut sebagai kenangan terindah dalam hidupnya, meski pun Ken tau kalau dirinya telah menghancurkan kehormatan seorang gadis, tapi Ken akan berusaha mencari Nabila untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.


Ken mencoba menelpon Asisten Rendi, tapi handphone Rendi tidak aktif.


"Kemana Rendi, tidak biasanya handphone Rendi sampai mati," gumam Ken.


Ken memunguti satu persatu pakaiannya, tapi dia tidak menemukan kemeja yang semalam dia kenakan.


"Sepertinya Nabila memakai kemeja yang aku kenakan semalam, karena aku sudah merobek bajunya. Padahal aku sudah menyiapkan pakaian untuknya," gumam Ken dengan membuka lemari untuk mengambil kemeja, karena kamar tersebut adalah kamar pribadi Ken, jadi banyak pakaian milik Ken yang sudah tersedia di sana jika sewaktu-waktu Ken menginap di hotel miliknya.


Setelah Ken membersihkan diri, Ken meminta petugas keamanan untuk mengecek rekaman CCTV semalam, dan Ken langsung menitikkan airmata ketika melihat Nabila yang berjalan tertatih-tatih menahan rasa sakit akibat perbuatannya.


Beberapa saat kemudian Rendi terlihat menyusul Nabila, dan ketika Ken melihat CCTV yang menghadap jalan raya, jantung Ken rasanya berhenti berdetak melihat Nabila yang tertabrak mobil, dan Ken tau betul jika mobil yang menabrak Nabila adalah milik Aira.


"Lihat saja Aira, aku akan membuat perhitungan denganmu," gumam Ken, kemudian menelpon Anak buahnya supaya mencari keberadaan Nabila ke seluruh Rumah Sakit yang berada di Jakarta.


"Sampai ke ujung Dunia pun aku akan terus mencarimu Nabila," gumam Ken dengan airmata yang terus mengalir pada pipinya, karena saat ini separuh jiwa Ken sudah pergi bersama Nabila.


Ken kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil barang milik Nabila, karena Nabila tidak membawa apa pun ketika pergi, bahkan handphone dan dompetnya tidak Nabila bawa juga.


"Apa yang harus aku katakan kepada Nenek jika aku tidak pulang bersama Nabila," gumam Ken yang saat ini terlihat putus asa.


Ketika sampai di halaman rumah, Nenek Puspa sudah terlihat menunggu kedatangan Ken dan Nabila dengan berjemur, tapi Nenek Puspa terlihat celingukan karena tidak melihat Nabila.


"Ken, dimana Nabila? kenapa dia tidak ikut pulang? kalian tidak sedang bertengkar kan?" tanya Nenek Puspa.


Ken hanya diam mematung karena tidak tau harus menjawab apa, sampai akhirnya tas selempang milik Nabila yang dipegang oleh Ken terjatuh sehingga membuat semua barang Nabila berantakan.

__ADS_1


Mata Nenek Puspa membulat sempurna ketika melihat kalung milik Nabila karena kalung tersebut sama persis dengan kalung milik Cucunya yang hilang.


"Ken, apa ini kalung milik Nabila?" tanya Nenek Puspa dengan mata yang berkaca-kaca.


__ADS_2