Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 37 ( Melahirkan )


__ADS_3

Saat Rendi terlelap dalam tidurnya, Nabila terus bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil.


"Kenapa aku ingin buang air kecil terus ya," gumam Nabila yang berjalan secara perlahan, karena saat ini dirinya sudah mulai kesusahan melangkahkan kaki.


Rendi terbangun ketika merasakan Nabila tidak ada di sampingnya.


"Sayang, kamu dimana?" gumam Rendi, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


"Sayang, apa kamu di dalam?" tanya Rendi dengan mengetuk pintu.


Saat Nabila membuka pintu kamar mandi, Rendi merasa khawatir, karena wajah Nabila terlihat pucat.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Rendi dengan membopong tubuh Nabila.


"Mas, sepertinya aku mau melahirkan," jawab Nabila.


"Sekarang Zahra duduk dulu, biar Mas ambil tas perlengkapan bayi kita," ujar Rendi dengan mengambil tas dari dalam lemari yang sebelumnya sudah jauh-jauh hari Nabila persiapkan.


Rendi memanggil Asisten rumah tangganya terlebih dahulu supaya membantu membawakan tas ke dalam mobil, karena Rendi berniat untuk menggendong tubuh Nabila.


"Mas, gak perlu digendong, biar Zahra jalan saja."


"Tapi bagaimana kalau Anak kita tiba-tiba ke luar saat kamu berjalan," ujar Rendi.


"Mana mungkin seperti itu, bayi kita pasti akan baik-baik saja," ujar Nabila mencoba untuk menenangkan Rendi yang terlihat panik.


Setelah sampai Klinik bersalin, Rendi membawa Nabila masuk ke dalam ruang bersalin, dan Dokter segera memeriksa pembukaan Nabila.


"Dok bagaimana, apa istri saya sudah mau melahirkan?" tanya Rendi.


"Iya Tuan, tapi saat ini baru pembukaan tiga. Mungkin beberapa jam lagi baru akan lahir. Sebaiknya Anda terus mendampingi Nyonya, dan kami pasti akan terus memeriksanya secara berkala, karena biasanya jika Anak pertama pembukaannya akan sedikit lama," jawab Dokter.


"Bagaimana caranya supaya bayi kami segera keluar Dok? saya kasihan melihat istri saya meringis kesakitan terus," tanya Rendi lagi.


"Biasanya dengan banyak berjalan, pembukaan jalan lahir akan lebih cepat," jawab Dokter.


Nabila menyandarkan tubuhnya di dashboard ranjang, karena kontraksi yang ia rasakan sudah semakin sering.


"Sayang, apa ada yang Zahra inginkan?" tanya Rendi yang semakin gugup dan panik melihat Nabila terus saja meringis kesakitan.

__ADS_1


"Sebaiknya Mas bantu Zahra jalan-jalan ya, Dokter tadi kan sudah bilang supaya pembukaannya cepat, Zahra harus banyak jalan."


"Kalau begitu Mas ke dalam kamar mandi dulu ya, kok sekarang jadi Mas yang pengen buang air kecil terus," ujar Rendi yang terus saja bolak balik ke dalam kamar mandi.


Setelah Rendi merasa lebih baik, Rendi secara perlahan membantu Nabila berjalan ke luar dari ruang bersalin, karena saat ini Nabila merasa kepanasan.


"Mas, kenapa pucat seperti itu? Mas baik-baik saja kan?"


"Mas sepertinya gugup, baru kali ini Mas melewati hal semacam ini, dan rasanya lebih menyeramkan dibandingkan dengan menghadapi ujian."


"Yang penting sekarang kita terus berdo'a, semoga semuanya baik-baik saja. Terimakasih banyak ya, Mas sudah memberikan Zahra kekuatan, dan Mas selalu menjadi Suami Siaga."


"Sayang, kalian adalah sumber kekuatan dan sumber kebahagiaan untuk Mas, tidak ada yang lebih berharga di Dunia ini selain kalian," ujar Rendi dengan mengelus lembut perut Nabila, dan semua yang dilakukan oleh Rendi, selalu membuat Nabila merasa tersentuh.


Setelah bersusah payah, akhirnya Rendi berhasil memapah Nabila ke luar dari ruang bersalin menuju taman yang berada di depan ruang bersalin.


Nabila berjalan dengan pelan dan sesekali meringis kesakitan karena kontraksi yang saat ini ia rasakan, begitu juga dengan Rendi yang ikut-ikutan meringis, bukan karena kontraksi, melainkan tangannya sakit akibat Nabila terus meremasnya sekuat tenaga.


Belum mengejan saja Nabila sudah meremas tanganku sangat kuat, bagaimana nanti kalau sudah akan melahirkan, ucap Rendi dalam hati dengan bergidik ngeri.


"Mas, udaranya sejuk ya, apalagi sekarang sudah mau Subuh," ujar Nabila dengan bersandar pada bahu Rendi.


Entah sampai kapan aku bisa memeluk tubuhmu seperti ini, Aku selalu takut jika kamu akan meninggalkanku setelah ingatan kamu kembali, ucap Rendi dalam hati dengan airmata yang menetes pada pipinya.


......................


Di lain tempat, saat ini Ken terus saja mondar mandir karena merasakan sakit perut yang tidak biasanya, keringatnya terus bercucuran, dan saat ini suhu tubuhnya terasa panas.


Ken yang sudah tidak kuat karena merasa kepanasan langsung menuju dapur mengambil air dari dalam kulkas kemudian meneguknya.


Nenek Puspa yang hendak mengambil air juga karena stok air di dalam kamarnya habis, terlihat heran ketika melihat Ken yang pagi pagi begini meminum air es.


"Ken, kamu baik-baik saja kan?" tanya Nenek Puspa.


"Nek, dari semalam perut Ken merasa mulas, Ken seperti ingin buang air besar, tapi ternyata bukan. Ken juga merasa sangat kehausan dan kepanasan," jawab Ken.


Nenek Puspa terlihat menerawang, karena beliau teringat dengan mendiang Anaknya yang dulu merasakan seperti itu ketika Menantunya akan melahirkan Nabila.


"Sepertinya Nabila akan segera melahirkan, karena dulu, Airlangga juga seperti itu ketika istrinya akan melahirkan Nabila," ujar Nenek Puspa, sontak saja semua itu membuat Ken merasa semakin mencemaskan Nabila.

__ADS_1


"Nek, kalau begitu Ken ke kamar lagi ya, Ken akan mendo'akan Nabila supaya persalinannya lancar."


Nenek Puspa tersenyum sekaligus menitikkan airmata melihat Ken yang begitu tulus mencintai Cucunya.


"Dimana pun Nabila berada, semoga selalu ada dalam lindungan Allah SWT," ucap Nenek Puspa.


Ken berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil Wudhu, kemudian Ken melaksanakan Shalat tahajud, karena saat ini jarum jam masih menunjukan pukul tiga pagi.


Dengan menahan rasa sakitnya, Ken menengadahkan kedua tangannya, memohon pertolongan semoga Nabila diberikan kelancaran serta keselamatan saat melahirkan bayi mereka.


......................


"Aaah..Mas, sekarang kontraksinya sudah semakin sering, sebaiknya kita kembali ke ruang bersalin, ujar Nabila dengan meringis kesakitan memegang perutnya menggunakan sebelah tangan, kemudian memegang bahu Rendi.


Rendi terperanjat, lalu ikut-ikutan memegang perut Nabila yang di dalamnya terdapat bayi yang semakin aktif bergerak.


"Sayang jangan Nakal ya, kasihan Bunda kalau perutnya di tendang terus, nanti kalau mau main bola sama Ayah saja," ujar Rendi dengan terus mengelus perut Nabila yang saat ini kembali di papahnya menuju ruang bersalin.


Setelah sampai ruang bersalin, Rendi bergegas memanggil Dokter untuk kembali memeriksa Nabila.


"Dok, bagaimana sekarang? apa istri saya akan segera melahirkan?"


"Iya benar, Istri Anda akan segera melahirkan. Sebaiknya Tuan terus memegangi tangan serta memberikan dukungan untuk istri Tuan," ujar Dokter, dan semua itu membuat Rendi semakin merasa tegang.


Dokter semakin sibuk mempersiapkan alat untuk membantu Nabila melahirkan, dan Rendi semakin tidak tega melihat Nabila yang bercucuran dengan keringat.


"Sayang, apa Zahra tidak mau di operasi saja? kalau di Operasi mungkin tidak akan terlalu sakit," ujar Rendi.


"Mas, orang bilang kalau setelah melahirkan secara normal rasa sakitnya akan langsung hilang, tapi kalau di Operasi rasa sakitnya akan masih terasa meski pun setelah bayinya lahir," ujar Nabila.


Wajah Nabila semakin penuh dengan keringat, seorang Perawat sesekali membantu mengelap keringat Nabila, dan saat ini Nabila terus menggenggam erat tangan Rendi, sampai akhirnya Dokter menyuruh Nabila untuk menghirup nafas dalam-dalam dan mulai mengejan.


Rendi begitu frustasi melihat hal semengerikan ini di depan matanya, dan detak jantung Rendi berpacu lebih cepat. Ketika Nabila menarik nafas, Rendi ikut menarik nafas juga, dan saat Nabila mengejan, Rendi akan menahan nafasnya.


Keadaan seperti itu terus berlanjut dalam beberapa menit, sampai rasanya Rendi sudah tidak kuat melihat Nabila yang terlihat lemas, dan dirinya merasa ikut lemas juga.


Tiba-tiba Nabila seakan mendengar sebuah bisikan pada telinganya dari seorang lelaki yang selama ini selalu masuk ke dalam mimpinya.


"Sayang kamu pasti bisa. Aku akan selalu mendo'akan kamu dan juga keselamatan Anak kita," bisik seorang lelaki, dan suaranya sangat mirip dengan suara Ken.

__ADS_1


"Keenan," teriak Nabila, dan sesaat kemudian Nabila berhasil melahirkan bayinya.


__ADS_2