
Nenek Puspa merasa penasaran tentang jati diri Nabila yang sebenarnya, karena beliau merasa dekat dengan sosok Nabila, padahal mereka baru pertama kali bertemu.
"Ken, sejak kapan kalian berdua menikah?" tanya Nenek Puspa.
"Sejak kemarin Nek," jawab Ken yang terlihat gugup. Maaf Ken terpaksa berbohong kepada Nenek supaya Nenek berhenti menjodohkan Ken dengan perempuan yang tidak Ken suka, apalagi dengan Aira si ganjen itu, lanjut Ken dalam hati.
"Kenapa kamu menikah gak minta ijin dulu sama Nenek?" tanya Nenek Puspa.
"Maaf Nek, acaranya mendadak, karena Nabila ingin berpacaran setelah menikah, dan Ken telah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Nabila, jadi Ken membuktikan keseriusan Ken dengan langsung menikahinya saat itu juga."
"Nenek bahagia karena kamu telah mendapatkan pendamping hidup yang cocok, apalagi Nabila sangat cantik dan baik, dan yang paling Nenek suka adalah kesederhanaannya. Semoga kalian berdua selalu bahagia ya, maaf jika selama ini Nenek sudah menjodohkan Ken dengan perempuan yang tidak Ken suka, padahal Nenek tau kalau Ken tidak suka dengan Aira yang manja," ujar Nenek Puspa sehingga Ken bisa bernapas lega.
"Iya tidak apa-apa Nek, makasih banyak do'anya," ucap Ken dengan memeluk tubuh Nenek Puspa.
Meskipun Ken bukan darah daging Nenek Puspa, tapi Nenek Puspa sangat menyayangi Ken seperti Cucu kandungnya sendiri, apalagi Ken di adopsi oleh Nenek Puspa dari semenjak bayi, setelah Anak dan Menantu Nenek Puspa meninggal dunia, sedangkan Cucu kandungnya sampai ini belum juga ditemukan keberadaannya.
"Nek, sekarang Mataharinya sudah semakin terik, sebaiknya sekarang kita masuk ya, besok kita berjemur lagi," ujar Nabila yang dibantu oleh Ken mendorong kursi roda Nenek Puspa.
Setelah sampai di dalam rumah, Ken dan Nabila mengantar Nenek Puspa untuk beristirahat di dalam kamarnya.
"Sekarang Nenek istirahat ya, nanti Nabila akan memberikan terapi untuk Nenek supaya penyakit stroke yang Nenek derita bisa segera sembuh," ujar Nabila dengan menyelimuti tubuh Nenek Puspa.
"Makasih banyak ya sayang, Nenek bahagia karena bisa bertemu dengan Nabila, dan Nenek menjadi semangat untuk sembuh. Sekarang sebaiknya kalian beristirahat, kasihan Pengantin baru harus diganggu oleh Nenek tua ini,"
"Nenek jangan berbicara seperti itu, kalau Nenek mau, Nabila akan tidur bersama Nenek supaya Nenek tidak merasa sendirian."
"Ngomong apa kamu itu Nak, sekarang kamu adalah seorang istri, dan seorang istri harus melayani Suaminya dengan baik," ujar Nenek Puspa.
Nabila yang mendengar perkataan Nenek Puspa tersenyum kecut, karena kenyataannya, Suaminya sendiri tidak menginginkan Nabila.
__ADS_1
Nabila hanyalah istri yang tidak diinginkan Nek, ucap Nabila dalam hati.
Ken tau betul kalau Nabila saat ini sedang sedih, sehingga Ken memutuskan untuk membawa Nabila ke dalam kamarnya.
"Sayang, sebaiknya sekarang kita istirahat, kasihan Nenek mau tidur juga," ujar Ken dengan menggenggam erat tangan Nabila.
"Nek kalau begitu kami pamit dulu ya," ucap Nabila, kemudian mengucapkan Salam sebelum ke luar dari kamar Nenek Puspa.
Nenek Puspa yang melihat Ken terus menggenggam erat tangan Nabila, tersenyum bahagia, karena Ken bisa sembuh dari traumanya.
"Alhamdulillah, Ken sepertinya sudah sembuh dari penyakitnya, buktinya dia tidak kenapa-napa meskipun bersentuhan dengan Nabila," gumam Nenek Puspa.
Setelah sampai kamar Ken, jantung Nabila berdegup kencang, karena dia harus satu kamar bersama seorang lelaki yang bukan muhrimnya.
"Kenapa kamu terlihat gugup seperti itu? kamu tenang saja, aku juga tidak akan melanggar janjiku," ujar Ken kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Rasanya nyaman sekali tidur di ranjang ini, sudah lama aku tidak tidur di sini," gumam Ken dengan memejamkan matanya, sedangkan Nabila masih terlihat diam mematung.
"Lalu aku harus tidur dimana? aku kan bukan istrimu," jawab Nabila, dan Ken bergegas menutup mulut Nabila menggunakan tangannya.
"Kalau bicara jangan keras-keras, apa kamu tidak tau kalau tembok dan jendela di sini mempunyai kuping dan mata," ujar Ken dengan membawa Nabila duduk di atas ranjang.
"Apa maksud kamu eh Tuan?" bisik Nabila.
"Kamu bicara apa? kenapa suara kamu begitu kecil sehingga aku tidak dapat mendengarnya?" tanya Ken.
"Tuan bilang tadi jendela dan tembok di sini mempunyai kuping dan mata, dan saya tidak boleh bicara keras-keras."
"Tapi tidak berbisik seperti itu juga kali. Maksud aku, di sini itu banyak mata-mata yang akan mengawasi kita apakah menikah beneran atau bohongan, karena Aira si Ganjen pasti sudah mendengar berita pernikahan kita dari mata-matanya yang berada di rumah ini," jelas Ken.
__ADS_1
"Memangnya siapa Aira si Ganjen?" tanya Nabila yang merasa penasaran.
"Aira adalah Anak dari Adik tiri Nenek Puspa yang begitu berambisi memiliki harta kekuasaan keluarga Airlangga, makanya Paman Indra begitu bersemangat untuk menjodohkanku dengan Aira, karena tujuh puluh persen harta keluarga Airlangga sudah atas namaku sedangkan tiga puluh persen lagi masih atas nama Nenek Puspa."
"Kenapa banyak sekali orang yang menginginkan mempunyai banyak harta ya," gumam Nabila.
"Memangnya kamu tidak mau memiliki banyak harta?" tanya Ken dengan mengerutkan dahinya.
"Semua orang pasti menginginkan harta yang banyak Tuan, tapi harus Tuan tau jika di akhirat nanti, harta yang kita miliki akan dipertanyakan untuk apa saja, dan orang kaya yang akan paling lama mendapatkan hisab, dan nanti akan banyak juga yang harus dipertanggungjawabkan oleh mereka."
Ken terlihat mengangguk-anggukan kepalanya seakan mengerti dengan perkataan Nabila.
"Apa Tuan mengerti?" tanya Nabila.
"Tidak," jawab Ken.
"Saya kira Tuan mengerti. Jadi, kalau bisa Tuan harus menyumbangkan sebagian harta yang Tuan miliki untuk Anak Yatim dan Fakir miskin, supaya harta yang kita miliki menjadi berkah serta bermanfaat untuk oranglain."
"Iya, aku ngerti kok, ya sudah sebaiknya sekarang kamu tidur,"
"Di sini?" tanya Nabila dengan menunjuk kasur yang saat ini mereka duduki.
"Bukan, tapi di kamar mandi. Ya di sini lah, emangnya di mana lagi. Tadi kan udah aku jelasin kalau di sini itu banyak mata-mata. Kamu tenang saja, kasurnya juga besar, nanti kita pakai guling saja sebagai pembatas," ujar Ken dengan menyimpan guling di tengah-tengah kasur.
Nabila dengan ragu akhirnya membaringkan tubuhnya juga, dan tidak butuh waktu lama akhirnya Nabila tertidur pulas.
"Tadi aja ogah-ogahan, baru juga nempel sama bantal udah langsung pulas. Kasihan Nabila, sepertinya semalam dia tidak bisa tidur karena memikirkan Suaminya yang bejat itu," gumam Ken dengan memejamkan matanya, dan Ken akhirnya ikut menyusul Nabila menuju alam mimpi.
......................
__ADS_1
Aira yang mendengar berita tentang pujaan hatinya yang sudah menikah secara tiba-tiba, merasa sangat geram, sehingga Aira membanting semua barang yang saat ini berada di hadapannya.
"Lihat saja Ken, aku akan menghancurkan rumah tanggamu," ujar Aira dengan mengepalkan kedua tangannya.