
Setelah acara selesai, Penghulu dan para saksi berpamitan untuk pulang, sementara Ken dan Nabila masuk ke dalam kamar Pengantin mereka untuk mengganti baju serta beristirahat sebelum kembali mengobrol dengan Nenek Puspa yang saat ini tengah beristirahat juga.
Ken dan Nabila saat ini telah berada di dalam kamar pengantin mereka, kemudian Ken memeluk tubuh Nabila dari belakang.
"Sayang, semua ini masih seperti mimpi untukku," ucap Ken dengan menghirup aroma tubuh Nabila dalam-dalam.
"Begitu juga untukku, Suamiku. Mulai sekarang sepertinya kita harus mengganti panggilan deh, setidaknya jika di depan Rendra, supaya Rendra nanti mengikuti panggilan yang kita gunakan."
"Memangnya kamu ingin aku panggil apa cintaku?" tanya Ken.
"Ayah dan Bunda aja gimana?" tanya Nabila.
"Aku akan mengikuti semua keinginan kamu," ujar Ken yang terlihat enggan melepaskan pelukannya dari tubuh Nabila.
"Yah, kalau begini terus, Bunda kapan ganti bajunya," ucap Nabila.
"Ya sudah, kalau begitu, Ayah bantuin Bunda ganti baju," ujar Ken dengan membuka resleting baju Nabila, sehingga terpampang kulit putih mulus Nabila yang membuat Ken semakin terpesona, dan Ken langsung menghujaninya dengan ciuman.
"Ingat, ini masih siang," ujar Nabila sebelum Ken hilang kendali.
"Gimana kalau kita bikin Adiknya Rendra sekarang saja," ujar Ken.
"Ini masih siang Ayah, lagian Bunda masih takut, dulu aja rasanya sakit sekali," ujar Nabila dengan bergidik ngeri ketika mengingat Ken mengambil kesuciannya.
"Tapi kata orang-orang sakit itu cuma saat pertama saja," ujar Ken yang terus membujuk Nabila.
"Nanti malam saja ya, kasihan Rendra dari tadi dijagain sama Mas Rendi terus," ujar Nabila, dan Ken langsung cemberut.
"Kenapa sih Ayahnya Rendra jadi manja begini, dikit-dikit cemberut, gak malu apa sama Anaknya," ujar Nabila dengan memeluk tubuh Ken, tapi Nabila lupa jika resleting pakaiannya sudah Ken buka, sampai akhirnya pakaian Nabila terjatuh di atas lantai, dan Ken yang melihatnya langsung saja membulatkan matanya ketika melihat keindahan yang saat ini ada di depan matanya.
Ken tidak menyia-nyiakan kesempatan yang tidak datang dua kali, karena ketika Nabila hendak mengambil pakaiannya, Ken langsung menggendong Nabila, dan meletakkannya secara hati-hati di atas ranjang pengantin mereka.
__ADS_1
Nabila merasa malu ketika Ken terus saja melihat tubuhnya, sehingga Nabila menyilangkan tangannya di depan dada, apalagi saat ini keduanya sudah sama-sama polos.
"Jangan ditutupi sayang, aku sudah pernah melihatnya, bahkan merasakannya," ucap Ken dengan menjelajahi jengkal demi jengkal tubuh Nabila, sehingga Nabila hanya pasrah dengan semua yang Ken lakukan.
"Terimakasih untuk semuanya sayang, kamu tetap yang terindah," ucap Ken dengan mencium kening Nabila, setelah mereka menyelesaikan ritual siang pertama mereka sebagai Suami istri, kemudian Ken membawa Nabila ke dalam pelukannya, dan mereka memutuskan untuk tidur siang terlebih dahulu karena merasa kelelahan.
Dua jam kemudian, Ken dan Nabila yang telah selesai mandi, melaksanakan Shalat Dzuhur berjamaah, dan keduanya begitu bahagia karena ini adalah pertama kalinya mereka melaksanakan Shalat berjamaah sebagai pasangan Suami istri.
Setelah selesai berdo'a, Nabila mencium punggung tangan Ken, dan Ken memeluk serta mencium kening Nabila dengan tiada hentinya mengucap syukur.
"Yah, sebaiknya kita ke luar sekarang ya, kasihan Rendra pasti nyariin kita."
"Iya Bunda sayang, untung saja Rendra sudah lepas Asi, jadi sekarang giliran Ayahnya," ujar Ken dengan tersenyum penuh arti.
"Udah, gak usah mesum," ujar Nabila dengan tersenyum malu.
"Gak apa-apa mesum juga, kan sama istri sendiri. Gimana gak sakit kan?" goda Ken, dan Nabila langsung berlari ke luar dari kamarnya, karena dirinya masih merasa malu jika membahas urusan ranjang.
"Ken, kamu itu benar-benar nakal ya, masih siang juga kamu sudah mengerjai Nabila," ujar Nenek Puspa ketika melihat rambut Nabila yang basah, sehingga Nabila merasa malu.
"Nek, Ken harus berusaha membuat Adik yang banyak untuk Rendra, bukannya Nenek juga ingin Cicit yang banyak," jawab Ken dengan cengengesan, dan Nenek Puspa hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Ken.
"Oh iya Nek, yang lain pada kemana?" tanya Nabila yang tidak melihat keberadaan Rendi serta Paman dan Bibinya.
"Bu Fatimah dan Pak Udin sudah pulang, sedangkan Rendi, mungkin lagi tidur di kamarnya," jawab Nenek Puspa.
Nabila yang merasa khawatir dengan keadaan Rendi memutuskan untuk memeriksanya ke kamar atas, yaitu kamar Rendi, Nabila dan Rendra dulu.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Ken yang melihat Nabila berdiri.
"Yah, Bunda mau lihat Mas Rendi dulu ya."
__ADS_1
Ketika Ken hendak berdiri untuk ikut dengan Nabila, Nenek Puspa memberikan kode supaya Ken tetap duduk, dan setelah Nabila pergi Ken langsung melayangkan protes.
"Nek, kenapa sih Nenek melarang Ken menemani Nabila? bagaimana kalau Rendi sampai macam-macam sama Nabila?"
"Ken, selama dua tahun ini, apa Rendi sudah melanggar batasannya, tidak kan? semua ini tidak mudah bagi Rendi, karena Rendi sudah terbiasa dengan keberadaan Nabila di sampingnya. Jadi, berikan mereka waktu untuk berbicara dari hati ke hati," ujar Nenek Puspa, dan Ken hanya diam mencerna perkataan Nenek Puspa.
......................
Nabila mengetuk pintu terlebih dahulu ketika hendak masuk ke dalam kamar Rendi, tapi tidak ada jawaban karena saat ini Rendi tengah tertidur, mungkin karena kelelahan, apalagi dari tadi Rendi terus menangis ketika masuk ke dalam kamar, karena biasanya Rendi tidur ditemani oleh Nabila dan Rendra.
Rendi merasa kehilangan sosok Nabila yang selalu mengisi hari-harinya, meski pun sudah berusaha untuk mengikhlaskan semuanya, tapi Rendi masih belum terbiasa tidur tanpa Nabila dan Rendra.
Nabila membuka pintu kamar Rendi secara perlahan, kemudian Nabila masuk untuk memastikan keadaan Rendi.
"Pantas saja gak jawab saat aku panggil, ternyata Mas Rendi sedang tidur," gumam Nabila.
Nabila merasa kasihan ketika melihat mata Rendi yang bengkak, dan Nabila sudah tau kalau Rendi pasti terus menangis.
Secara perlahan Nabila menempelkan punggung tangannya pada dahi Rendi, dan ternyata Rendi saat ini tengah demam.
Ketika Nabila hendak berdiri untuk mengambil kompres, tiba-tiba Rendi memegang tangan Nabila, dan membawa Nabila ke dalam pelukannya.
"Mas, jangan seperti ini, sekarang aku adalah istri Ken, dan aku tidak mau kalau Ken sampai salah paham," ucap Nabila.
"Biarkan seperti ini sebentar saja, aku merindukanmu Nabila," gumam Rendi dengan terus mengeratkan pelukannya.
"Mas istirahat ya, Nabila akan mengambil kompres dulu supaya suhu tubuh Mas Rendi membaik. Apa Mas Rendi sudah makan?" tanya Nabila.
"Aku tidak membutuhkan apa pun, yang aku butuhkan hanya kamu Nabila."
"Nabila tau kalau semua ini berat untuk Mas Rendi, tapi Nabila yakin kalau Mas Rendi bisa melewati semua ini, dan Nabila sangat berterimakasih karena Mas Rendi sudah merelakan Nabila untuk menikah dengan Ken, dan selamanya Nabila tidak akan pernah melupakan kebaikan Mas Rendi."
__ADS_1