
"Innalilahi waina ilaihi raji'un," ucap Rendi dan Zahira secara bersamaan, mereka tidak pernah mengira jika Aira akan pergi secepat itu, terlebih lagi Aira meregang nyawa ditangan Ayah kandungnya sendiri.
Rendi memanggil Perawat untuk membantunya mengangkat tubuh Mama Risa yang saat ini pingsan, kemudian Mama Risa dibawa ke dalam ruang perawatan untuk diperiksa oleh Dokter.
"Dok, bagaimana kondisi Mama saya?" tanya Zahira ketika Dokter selesai memeriksa Mama Risa.
"Mama Anda tidak apa-apa, beliau hanya merasa syok mendengar kematian Putrinya. Kalau begitu saya permisi dulu, kalau ada apa-apa, Nona bisa memanggil saya," ujar Dokter.
Rendi memeluk tubuh Zahira yang saat ini terlihat menangis.
"Zahira sabar ya, semua ini sudah takdir Allah SWT, dan kita harus ikhlas menerimanya," ujar Rendi mencoba memberi kekuatan kepada Zahira.
"Makasih banyak Mas, Zahira tidak tau apa jadinya jika tidak ada Mas Rendi."
"Sekarang Mas adalah Suami kamu, dan sudah menjadi kewajiban seorang Suami selalu ada untuk istrinya. Kalau begitu, sekarang Mas pergi dulu untuk mengurus administrasi kepulangan jenazah Aira dulu ya, Zahira tidak apa-apa kan jika Mas Rendi tinggal sebentar?"
"Tidak apa-apa Mas, Mas hati-hati ya," ucap Zahira dengan tersenyum, dan senyuman Zahira mengingatkan Rendi kepada Nabila.
Istighfar Ren, saat ini Zahira adalah istri kamu, dan kamu harus berusaha melupakan bayang-bayang Nabila, ucap Rendi dalam hati.
Setelah Rendi selesai mengurus administrasi kepulangan Jenazah Aira, Rendi menelpon Nenek Puspa untuk memberitahukan kabar kematian Aira.
📞"Assalamu'alaikum Ren, kalian baik-baik saja kan?" tanya Nenek Puspa yang terdengar panik, apalagi saat ini Daddy Indra berhasil melarikan diri dari kejaran Polisi.
📞"Nek, sebenarnya Aira meninggal dunia," ucap Rendi dengan lirih.
📞"Innalillahi waina ilaihi raji'un, Nenek tidak mengira jika Aira akan pergi secepat ini. Kasihan Aira karena sudah menjadi korban keserakahan Indra. Ren, kalian hati-hati ya, karena Indra berhasil melarikan diri dari kejaran Polisi, padahal tadi Polisi sudah berhasil menembak kakinya," ujar Nenek Puspa.
📞"Nenek juga hati-hati ya, kalau begitu Rendi tutup dulu telponnya, karena Rendi harus segera melihat Zahira dan Mamanya yang masih pingsan," ujar Rendi dengan berlari menuju kamar perawatan Mama Risa, karena saat ini Rendi khawatir jika Daddy Indra akan mencelakai Zahira dan Mama Risa.
Rendi terkejut saat memasuki kamar perawatan Mama Risa, karena Zahira dan Mama Risa sudah tidak ada di sana.
"Apa Om Indra yang sudah membawa Zahira dan Mama Risa pergi dari sini?" gumam Rendi yang terlihat panik, kemudian melapor kepada pihak keamanan Rumah Sakit supaya bisa melihat rekaman CCTV.
Setelah melihat rekaman CCTV, ternyata benar dugaan Rendi, kalau ada lelaki yang memaksa membawa Mama Risa yang baru saja sadar dari pingsannya, juga mendorong kursi roda Zahira ke luar dari Rumah Sakit, dan dari ciri-cirinya bisa dipastikan kalau itu adalah Daddy Indra meski pun lelaki tersebut memakai topi dan masker.
__ADS_1
Rendi kembali menelpon Nenek Puspa untuk memberikan kabar hilangnya Mama Risa dan Zahira, dan Nenek Puspa menyarankan supaya Rendi meminta bantuan Polisi dan juga mengerahkan anak buahnya. Nenek Puspa juga menyarankan supaya Rendi menyuruh pihak Rumah Sakit untuk mengantarkan Jenazah Aira ke kediaman keluarga Airlangga, karena bagaimanapun juga Aira adalah Keponakan Nenek Puspa, meski pun semasa hidupnya Aira sudah berbuat kejahatan.
......................
Saat ini kondisi Nabila sudah berangsur-angsur pulih, dan Nabila sudah dipindahkan ke ruang Perawatan karena Nabila sudah berhasil melewati masa kritisnya.
Ken terus mengucap syukur melihat kondisi Nabila yang sudah lebih baik.
"Sayang, Ayah hampir saja mati melihat Bunda yang tidak sadar juga," ujar Ken dengan memeluk tubuh Nabila.
"Ayah jangan bicara seperti itu, Ayah harus selalu kuat untuk Bunda, karena selama ada Ayah, Bunda pasti akan baik-baik saja," ujar Nabila dengan tersenyum.
Nabila meminta Ken membelikan jilbab untuknya, karena Nabila sudah bertekad untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi selama dirinya masih diberikan kesempatan hidup.
Ken dan Nabila memilih jilbab dan pakaian muslim lewat aplikasi online, karena Ken tidak mau meninggalkan Nabila meski pun hanya sebentar saja, kecuali untuk ke kamar mandi dan melakukan kewajibannya sebagai Umat muslim.
Beberapa saat kemudian pesanan belanja online Ken sampai dengan cepat, dan Ken membantu Nabila untuk memakai jilbab.
"Bunda semakin cantik jika mengenakan jilbab," puji Ken dengan tersenyum.
"Gak usah gombal Yah," ujar Nabila dengan tersenyum.
"Makasih banyak Yah, Bunda beruntung memiliki Ayah dalam hidup Bunda," ujar Nabila dengan memeluk tubuh Ken.
"Bunda salah, karena Ayah yang beruntung memiliki Bunda."
Sesaat kemudian, handphone Ken berbunyi, dan ternyata itu adalah panggilan dari Rendi.
Ken begitu terkejut ketika mendengar Aira meninggal dunia, apalagi pelakunya adalah Om Indra, dan Rendi juga menceritakan semua yang terjadi di kediaman Airlangga kepada Ken, karena bagaimanapun juga Ken berhak mengetahuinya.
"Yah, siapa yang meninggal dunia?" tanya Nabila.
"Aira, Bunda."
"Innalillahi waina ilaihi raji'un, masalah umur memang tidak ada yang tau ya. Memangnya Aira sakit apa?" tanya Nabila.
__ADS_1
"Sebenarnya Aira ditusuk oleh Ayahnya sendiri," jawab Ken.
"Kenapa bisa seperti itu Yah? padahal selama ini Om Indra terlihat sangat menyayangi Aira."
Tidak mungkin aku mengatakan kepada Nabila jika Aira berusaha mengungkapkan kejahatan yang telah Om Indra lakukan, aku takut jika keadaan Nabila tambah parah seandainya Nabila mengetahui bahwa kecelakaan yang dulu Nabila dan kedua orangtuanya alami adalah perbuatan Om Indra. Aku juga tidak mengira jika Om Indra tega melakukan semua itu terhadap keluarganya sendiri, ucap Ken dalam hati.
"Sebenarnya Aira marah terhadap Om Indra yang lebih memilih menikahkan Zahira dengan Rendi," jawab Ken.
"Jadi Mas Rendi sudah menikah?" tanya Nabila dengan mata yang berbinar.
"Iya sayang, tadi Rendi sudah menikah, dan kemarin Rendi sudah menelpon untuk memberitahukan kabar bahagia itu, tapi Bunda masih belum sadarkan diri."
"Alhamdulillah akhirnya Mas Rendi menikah juga. Apalagi Bunda pernah mendengar dari Nenek bahwa Zahira adalah gadis yang baik, meski pun Zahira memiliki kekurangan. Semoga saja Mas Rendi dan Zahira bisa bahagia, dan pernikahan mereka langgeng," ucap Nabila yang di Amini oleh Ken.
Semoga saja Rendi segera menemukan keberadaan Zahira dan Tante Risa, dan mereka tidak sampai kenapa-napa. Maaf sayang, Ayah tidak bisa mengatakan semua kebenaran tentang Zahira dan Tante Risa yang telah dibawa kabur oleh Om Indra, apalagi Om Indra hampir mencelakakan Nenek. Karena saat ini kondisi Bunda belum bisa menerima kabar buruk, ucap Ken dalam hati.
......................
Saat ini Daddy Indra membawa Zahira dan Mama Risa ke luar kota yang jauh dari kediamannya.
"Dad, kenapa Daddy melakukan semua ini? Daddy telah menyebabkan Aira meninggal, dan Daddy sudah melakukan banyak kejahatan selama hidup. Sebaiknya sekarang Daddy menyerahkan diri kepada pihak berwajib untuk menebus semua kesalahan Daddy," ujar Zahira.
"Diam kamu Zahira, yang telah menyebabkan Aira meninggal adalah Suami kamu, seandainya mereka semua tidak menipu Daddy, Daddy juga tidak akan mungkin menikahkan kamu dengan si Kacung Rendi, dan Aira tidak akan marah kepada Daddy, juga berniat membongkar kejahatan yang telah Daddy lakukan kepada Airlangga dan keluarganya. Kamu harus tau Zahira, kalau Suami kamu hanyalah seorang Kacung keluarga Airlangga, karena Cucu kandung Mbak Puspa yang sebenarnya adalah Nabila."
"Meski pun kenyataannya seperti itu, Mas Rendi sudah menjadi Suami Zahira, dan Zahira beruntung mempunyai Suami sebaik Mas Rendi, karena dari awal Zahira tidak berniat sedikit pun untuk menuruti semua kemauan Daddy mengambil harta yang bukan hak kita."
"Kamu itu bodoh Zahira, menikah dengan seorang Kacung pun kamu bangga," teriak Daddy Indra.
"Zahira lebih bangga menikah dengan seorang Kacung daripada Zahira memiliki Ayah yang serakah seperti Daddy."
"Tutup mulut kamu Zahira, kalau tidak, kamu akan bernasib sama dengan Aira," teriak Daddy Indra.
"Mas, semua ini berawal dari keserakahan kamu, seandainya kamu tidak serakah dan menghalalkan segala cara untuk menguasai semua harta milik keluarga Airlangga, semuanya tidak akan terjadi. Sekarang kita sudah kehilangan Aira, kasihan Aira karena kita tidak mengurus Jenazahnya serta tidak mengadakan acara Tahlil untuknya," ujar Mama Risa dengan menangis.
Daddy Indra terbayang kebersamaannya dengan mendiang Aira dari semenjak Aira dilahirkan ke Dunia ini, dan Daddy Indra menangis dengan terus menyebut nama Aira.
__ADS_1
"Aira, Aira, maafkan Daddy Nak," ujar Daddy indra.
Tiba-tiba Daddy Indra membanting setir ketika melihat seseorang yang dalam penglihatannya seperti Aira berada di tengah jalan, kemudian mobil yang dikendarai oleh Daddy Indra, Zahira dan Mama Risa masuk ke dalam jurang.