Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 75 ( Rumah tangga yang Harmonis )


__ADS_3

Keesokan paginya Ken bangun dengan terus mengembangkan senyuman.


"Kenapa senyum-senyum terus? tanya Nabila yang baru ke luar dari dalam kamar mandi.


"Soalnya Ayah masih mengingat yang semalam kita lakukan," jawab Ken dengan cengengesan, dan Nabila memutar malas bola matanya.


"Buruan mandi gih, sebentar lagi Adzan Subuh," ujar Nabila dengan memberikan handuk kepada Ken.


"Kok Bunda mandi gak ngajak-ngajak Ayah sih?"


"Yang ada mandinya gak bakalan kelar kalau Bunda ngajak Ayah mandi bareng. Cepetan bangun sayang, biar kita bisa Shalat berjamaah," ujar Nabila, dan Ken bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai Shalat Subuh berjamaah, Ken dan Nabila menuju dapur untuk memasak, dan ternyata Rendi dan Zahira juga ke luar dari dalam kamar mereka.


"Ren, rambut kamu basah juga," celetuk Ken.


"Memangnya cuma kamu yang setiap Subuh rambutnya basah," ujar Rendi dengan cengengesan.


Nabila dan Zahira yang merasa risih dengan pembicaraan Ken dan Rendi memutuskan untuk pergi ke ruang keluarga membiarkan para Suami mereka yang memasak untuk sarapan.


"Sayang, kamu jangan pergi jauh-jauh," teriak Ken.


"Memangnya Bunda mau pergi jauh kemana Yah? Bunda sama Zahira mau nonton TV," jawab Nabila.


Rendi tersenyum melihat Ken yang begitu posesif kepada Nabila, karena dulu Rendi juga selalu posesif terhadap Nabila.


"Aku bahagia melihat kalian bahagia?" ucap Rendi.


"Aku kira kamu mau ngomong aku terluka melihat kau bahagia dengannya?" ujar Ken dengan terkekeh, dan Rendi melempar Ken memakai celemek.


"Mungkin dulu aku merasa seperti itu, tapi sekarang aku sudah mempunyai Zahira."


"Bagus deh kalau seperti itu, berarti sekarang aku bisa tenang," ujar Ken.


Rendi dan Ken membagi tugas dalam memasak, dan mereka memanjakan para istrinya dengan membuat cemilan untuk menemani Nabila dah Zahira nonton TV.


"Enak sekali ya Ratunya Ken dan Rendi, Suami masak, kalian malah enak-enakan nonton Televisi sambil ngemil," ujar Nenek Puspa dengan tersenyum.


"Kami beruntung memiliki Suami yang perhatian dan pengertian Nek," ujar Nabila.


"Tapi Zahira malu, karena Zahira tidak bisa membantu apa pun."

__ADS_1


"Sebentar lagi kamu akan bisa melakukan semua yang kamu mau, jadi Zahira semangat ya, karena nanti Zahira bakalan bisa melayani Suami Zahira."


"Nabila, apa aku boleh tau makanan apa saja kesukaan Mas Rendi? soalnya aku masih belum mengetahui apa pun tentang Mas Rendi."


Nabila menjelaskan secara detail makanan yang Rendi suka dan yang Rendi tidak suka, bahkan Nabila menceritakan semua yang dia ketahui tentang Rendi kepada Zahira.


"Makasih banyak ya Nabila, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mas Rendi."


"Sama-sama Zahira, aku hanya menceritakan semua yang aku ketahui saja selama tinggal dengan Mas Rendi. Tapi kamu tidak perlu berubah menjadi oranglain supaya Mas Rendi semakin mencintai kamu. Mas Rendi itu orangnya baik, jadi dia akan menerima kamu apa adanya."


"Apa kamu pernah memiliki perasaan cinta terhadap Mas Rendi?" tanya Zahira yang merasa penasaran dengan perasaan Nabila.


"Aku hanya mempunyai perasaan sayang saja terhadap Mas Rendi, karena rasa cintaku hanya untuk Ken, meski pun saat itu aku sedang hilang ingatan, tapi tetap saja aku tidak bisa mencintai lelaki lain selain Ken. Jadi, kamu tidak perlu merasa cemburu ya, karena aku yakin kalau Mas Rendi sudah jatuh cinta sama kamu."


"Maaf ya Nabila, kalau aku sempat berpikir jika kamu dan Mas Rendi memiliki perasaan lebih dari sekedar sayang," ujar Zahira yang merasa malu terhadap Nabila.


"Tidak apa-apa kok, wajar saja kamu memiliki perasaan seperti itu, karena sebelumnya aku dan Mas Rendi pernah tinggal bersama, bahkan Ken saja sampai saat ini masih sering merasa cemburu terhadap Mas Rendi."


Rendi memanggil semuanya untuk sarapan, karena saat ini masakan Rendi dan Ken sudah selesai.


"Silahkan duduk Yang mulia Ratu," ujar Ken kepada Nabila.


"Makasih Yang mulia Raja," ucap Nabila dengan mengecup pipi Ken.


"Kalau bisa pamer gak usah komen," ujar Ken.


"Udah-udah, sekarang mending kita mulai sarapan, Bunda udah lapar banget," ujar Nabila dengan mengisi piring Ken dan Nenek Puspa terlebih dahulu.


"Terimakasih sayang," ucap Nenek Puspa.


"Sama-sama Nek."


Semuanya memulai sarapan dengan Nabila dan Ken yang terus saja berceloteh sehingga semuanya merasa bahagia melihat keharmonisan rumah tangga Ken dan Nabila.


"Nenek jadi teringat dengan mendiang Kakek kalian, Kakek juga selalu memperlakukan Nenek seperti Ratu, dan rumah tangga kami selalu harmonis," ucap Nenek Puspa dengan berlinang airmata.


"Nenek yang sabar ya, Kakek, Mama dan Papa pasti sudah bahagia di alam sana, apalagi melihat kita yang selalu rukun dan harmonis, pasti mereka akan tersenyum bahagia," ujar Nabila dengan memeluk tubuh Nenek Puspa.


Setelah semuanya selesai sarapan, mereka langsung bersiap untuk berangkat menuju Rumah Sakit.


Jarak dari apartemen Ken ke Rumah Sakit hanya membutuhkan waktu lima menit saja, karena Ken sengaja memilih apartemen yang dekat dengan Rumah Sakit supaya lebih mudah jika penyakit Nabila sedang kambuh, apalagi saat awal melakukan kemoterapi, Nabila sering pingsan.

__ADS_1


Zahira sudah terlihat gugup ketika hendak masuk ruang Operasi, tapi semuanya terus memberikan semangat kepada Zahira.


"Sayang, kamu harus yakin kalau semuanya akan baik-baik saja, dan Mas akan selalu menunggu Zahira di sini," ucap Rendi dengan mencium kening Zahira sebelum masuk ke dalam ruang operasi.


"Iya Zahira, do'a kami akan selalu menyertai Zahira, semoga operasinya berjalan dengan lancar," ujar Nabila.


"Terimakasih ya semuanya, aku beruntung memiliki kalian."


Zahira akhirnya dibawa masuk ke dalam ruang operasi dengan semangat, karena Zahira ingin segera bisa berjalan meski pun dengan bantuan kaki palsu.


"Ren, kami antar Nenek dulu ya, kalau ada apa-apa kamu telpon saja," ujar Ken dengan menggandeng Nabila dan mendorong kursi roda Nenek Puspa.


Ken dan Nabila terus menyemangati Nenek Puspa yang akan melakukan terapi berjalan, dan selangkah demi selangkah Nenek Puspa sudah bisa melangkahkan kakinya, apalagi Dokter memberikan obat dengan menyuntikkannya pada kaki Nenek Puspa.


Ken dan Nabila begitu bahagia karena secara perlahan Nenek Puspa sudah mulai bisa berjalan.


"Alhamdulillah, Nenek bisa melangkahkan kembali kaki Nenek," ucap Nabila saat Nenek Puspa berhasil sampai di pelukan Nabila dan Ken.


"Iya sayang, Alhamdulillah, Nenek tidak pernah mengira jika Nenek bisa kembali melangkahkan kaki Nenek setelah sekian lama kaki Nenek tidak bisa digerakkan."


"Nyonya beruntung karena ada yang memberikan terapi akupuntur terlebih dahulu sebelum melakukan pengobatan oleh kami, sehingga Nyonya akan lebih cepat bisa berjalan seperti sedia kala," ujar Dokter.


"Yang sudah melakukan terapi akupuntur adalah Cucu saya yang cantik ini Dok," ujar Nenek Puspa.


"Ternyata selain cantik, Anda juga memiliki keahlian yang hebat Nona," ucap Dokter dengan menatap kagum wajah Nabila.


"Tentu saja, siapa dulu Suaminya," ujar Ken dengan memeluk tubuh Nabila.


Nabila dan Nenek Puspa memutar malas bola mata mereka, karena mereka tau jika Ken cemburu terhadap Dokter tersebut.


"Maaf Tuan, saya kira Nona ini masih singel," ujar Dokter dengan tersenyum.


"Maaf Dok, Nabila bukan Nona, tapi Nyonya, bahkan kami sudah memiliki Anak," tegas Ken dengan mengeratkan pelukannya, dan Dokter tersenyum malu mendengar perkataan Ken, padahal sebelumnya Dokter sudah naksir Nabila karena melihat kecantikannya.


Setelah selesai melalukan terapi, mereka bertiga kembali menemui Rendi, karena Rendi bilang jika saat ini Zahira sudah selesai melakukan operasi dan telah dipindahkan ke kamar perawatan, dan sepanjang menuju kamar perawatan Zahira, Ken terus saja menggerutu.


"Sayang, besok sebaiknya Bunda gak usah ikut antar Nenek terapi," ujar Ken.


"Lho, kok gitu sih Yah?" tanya Nabila.


"Ayah gak mau kalau ada yang melihat kecantikan Bunda lagi, padahal baru saja Ayah mengalahkan Rendi, eh sekarang ada yang lain lagi," gerutu Ken.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu besok Bunda pake masker biar gak ada yang bisa lihat wajah Bunda, kalau perlu Bunda pake topeng," ujar Nabila yang merasa kesal, tapi Ken malah tersenyum bahagia.


__ADS_2