Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 35 ( Permintaan Rendi )


__ADS_3

Setelah selesai meeting, Aldi meminta waktu untuk berbicara dengan Rendi, karena dirinya begitu penasaran dengan sosok Zahra yang begitu mirip dengan Nabila.


"Pak Rendi, apa saya bisa meminta waktunya?" tanya Aldi.


"Apa ada yang belum Tuan pahami tentang apa yang tadi sudah saya jelaskan tentang kerjasama kita?" tanya Rendi.


"Bukan masalah itu Pak, tapi ada masalah lain. Sebaiknya kita bisa membicarakan semuanya sambil makan siang," ujar Aldi.


Rendi sebenarnya sudah tahu apa yang akan Aldi bicarakan, tapi Rendi tidak mungkin menolak permintaan Aldi, karena bisa-bisa Aldi akan curiga, sampai akhirnya Rendi menyetujui ajakan makan siang dari Aldi.


Mereka memilih Restoran di dekat kantor supaya tidak terjebak kemacetan saat jam makan siang seperti ini, dan ketika mereka berdua sudah mendapatkan tempat duduk, handphone Rendi berbunyi, dan ternyata Nabila melakukan video call.


"Sayang, tumben kamu video call? padahal baru saja Mas mau telpon," ujar Rendi ketika mengangkat panggilan video dari Nabila.


"Anak kita kangen sama Ayahnya, makanya Zahra melakukan panggilan video. Mas lagi dimana? Mas udah makan belum?" tanya Nabila.


"Mas baru saja mau makan siang, ini juga lagi di Restoran. Gimana kepalanya, masih pusing tidak?" tanya Rendi.


"Alhamdulillah udah gak kerasa pusing lagi, akhir-akhir ini kepala Zahra suka pusing. Semoga saja ingatan Zahra segera kembali," ujar Nabila, dan Aldi tidak sengaja mendengar semua itu.


Aldi pasti sudah mendengar semuanya. Bagaimana ini? aku harus berkata apa jika Aldi menanyakan tentang Nabila yang hilang ingatan? apa aku jujur saja kepada Aldi, ucap Rendi dalam hati.


"Kalau begitu Mas makan siang dulu ya, jangan lupa sayang juga makan siang," ujar Rendi, kemudian menutup panggilan videonya.


"Jadi benar kalau Zahra itu adalah Nabila?" ujar Aldi.


Rendi beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum menjawab pertanyaan Aldi.


"Kalau benar, memangnya kenapa? Nabila atau Zahra saat ini adalah istri saya, bahkan dia sedang mengandung buah cinta kami."


"Kenapa bisa Nabila menikah dengan kamu? bukannya Ken sangat mencintainya?" tanya Aldi.


"Mungkin mereka tidak berjodoh, dan Zahra lebih memilih saya dibandingkan dengan Ken," ujar Rendi.


"Aku tidak percaya jika Nabila bisa dengan mudah berpaling hati, apalagi tadi aku mendengar sendiri jika secara tidak langsung Nabila mengatakan kalau saat ini dia hilang ingatan."

__ADS_1


"Mau hilang ingatan atau tidak, pada kenyataannya Zahra adalah istri saya, dan Anda tidak berhak ikut campur dalam rumah tangga kami, karena Anda hanyalah mantan Suami yang sudah tega menjualnya," tegas Rendi.


"Aku tau kalau aku sudah melakukan kesalahan besar kepada Nabila, dan aku ingin menebusnya dengan cara apa pun."


"Kalau begitu, lupakan Nabila, dan jangan pernah muncul lagi dalam kehidupannya, karena saat ini Nabila sudah bahagia hidup menjadi istri dan calon Ibu dari Anak saya," ujar Rendi.


"Apa aku boleh meminta maaf langsung kepadanya?" tanya Aldi.


"Maaf Tuan, saya tidak mau kondisi kesehatan istri saya memburuk apabila kembali bertemu dengan lelaki yang sudah menghancurkan hidupnya. Jika memang Anda ingin menebus semua kesalahan Anda kepada istri saya, saya mohon jauhi Zahra, biarkan ingatannya hilang, supaya Zahra tidak kembali mengingat rasa sakit yang telah Anda torehkan pada hatinya saat menjadi Nabila. Kalau begitu saya permisi dulu, saya rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi," ujar Rendi, kemudian memutuskan untuk langsung pulang setelah menelpon Sekretarisnya, karena saat ini pikirannya sedang kacau setelah bertemu dengan Aldi.


"Rendi benar, aku hanya menorehkan luka pada hati Nabila, sebaiknya mulai sekarang aku tidak boleh mengganggu kehidupannya lagi, biarkan dia tetap menjadi Zahra dan melupakan masalalu yang sangat menyakitkan sebagai Nabila, dengan begitu aku tidak akan terus merasa bersalah terhadap Nabila," gumam Aldi.


......................


Saat ini Nabila tengah memasak makanan kesukaan Rendi, meski pun Asisten rumah tangganya sudah melarang Nabila, tapi saat ini Nabila ingin sekali memasak untuk lelaki yang dia ketahui sebagai Suaminya.


Rendi yang baru pulang, langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Nabila, kemudian menghirup aroma tubuh perempuan yang sangat dicintainya, meski pun Rendi tau jika semua itu salah, karena mereka bukanlah Suami istri, tapi Rendi tidak pernah melakukan lebih dari sekedar pelukan.


"Mas, kok sudah pulang lagi? bukannya barusan Mas bilang mau makan siang?" tanya Nabila.


"Mas, lepasin dulu pelukannya, malu kalau sampai ada yang lihat," ujar Nabila.


"Memangnya kenapa kalau ada yang lihat, kita kan Suami istri. Aroma masakannya enak sekali, tau aja kalau Ayah lagi lapar," ujar Rendi kemudian membawa Nabila untuk duduk.


"Kok malah ngajak duduk? nanti Ayam kecapnya gosong," ujar Nabila.


"Sekarang Bunda duduk saja, biar Ayah yang mengaduk masakannya," ujar Rendi dengan membuka jas yang ia pakai, kemudian melipat kemeja sampai siku.


Nabila tersenyum bahagia melihat Rendi yang saat ini tengah menggantikannya memasak, dan Nabila begitu bersyukur memiliki Suami seperti Rendi.


Terimakasih Mas Rendi, karena selama ini telah menjadi sosok Suami yang baik, ucap Nabila dalam hati.


......................


Setelah selesai melakukan operasi, sudah satu minggu ini Megan mengalami koma, dan Andre selalu setia mendampinginya.

__ADS_1


Andre yang melihat tangan Megan bergerak, begitu bahagia melihatnya, apalagi sesaat kemudian mata Megan mulai terbuka.


"Dre, mana Anak kita?" tanya Megan dengan lirih ketika pertama kali membuka matanya, karena ketika koma, Megan terus saja memimpikan Anaknya.


Andre bergegas menekan tombol untuk memanggil Dokter, dan beberapa saat kemudian, Dokter datang ke kamar perawatan Megan.


Dokter saat ini memeriksa kondisi Megan secara seksama.


"Apa saat ini ada keluhan yang Nyonya rasakan?" tanya Dokter kepada Megan.


"Kepala saya masih pusing Dok, sebelah kaki saya juga tidak bisa merasakan apa pun," jawab Megan.


Andre yang mendengar perkataan Megan bergegas menghampirinya kemudian memeluk tubuh Megan supaya tidak memberontak ketika Dokter memberitahukan musibah yang telah menimpanya.


"Saya turut berduka cita atas musibah yang menimpa Nyonya, dan saya harap Nyonya akan menerima semuanya dengan ikhlas," ujar Dokter, kemudian membuka selimut yang menutupi kaki Megan untuk melihat kondisi kakinya yang telah di amputasi, dan Megan langsung menjerit histeris ketika melihat sebelah kakinya telah hilang.


"Andre, kemana kakiku? kenapa kamu membiarkan mereka mengamputasinya?" teriak Megan dengan menangis, karena selama ini Megan selalu membanggakan kaki yang dia gunakan untuk berlenggak lenggok di atas catwalk.


"Maaf Nyonya, kami terpaksa mengamputasi kaki Nyonya, karena kaki Nyonya patah saat mengalami kecelakaan, dan jika kami membiarkannya, maka kaki Anda akan membusuk dan bisa membahayakan nyawa Anda," jelas Dokter.


"Tidak, tidak mungkin kakiku patah, kakiku sangat berharga untukku, bagaimana bisa aku menjadi model jika aku tidak mempunyai kaki," teriak Megan.


"Kamu harus sabar sayang, kamu harus ikhlas menerima cobaan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita."


"Kemana Anak kita Dre? apa dia baik-baik saja?" tanya Megan yang kembali mengingat bayinya.


"Mungkin kita masih belum dipercaya untuk memiliki Anak," jawab Andre, dan jantung Megan rasanya berhenti berdetak.


"Tidak mungkin, tidak mungkin Anakku meninggal Dre? kenapa semua ini terjadi kepadaku? Dre, aku tau kalau selama ini aku telah berbuat jahat, aku tau kalau selama ini aku sudah menjadi istri durhaka, tapi kenapa aku harus kehilangan bayi dan juga sebelah kakiku secara bersamaan? kenapa Engkau memberikan hukuman yang begitu berat untukku Tuhan?" teriak Megan kemudian pingsan.


"Dok, kenapa dengan istri saya?" tanya Andre dengan memeluk tubuh Megan yang saat ini kembali tidak sadarkan diri.


"Istri Anda mengalami syok ketika mengetahui kenyataan buruk yang telah ia alami, tapi saat ini kondisinya sudah stabil, semoga saja pasien bisa menerima semuanya dengan ikhlas ketika siuman nanti," ujar Dokter, kemudian ke luar dari kamar perawatan Megan.


"Semoga dengan kejadian ini, kamu bisa menyadari semua kesalahan yang telah kamu perbuat Megan, dan aku akan selalu berada di sampingmu serta menerima kamu apa adanya," ucap Andre dengan terus menggenggam erat tangan Megan.

__ADS_1


__ADS_2