Dia Terbaik

Dia Terbaik
Pengakuan


__ADS_3

Entah sudah berapa lama aku tertidur. Perlahan-lahan kubuka mataku dan kuamati ruangan tersebut. Ini bukan kamarku. Terlintas bayangan potongan-potongan puzzle kegiatanku hari ini. Sontak Aku terperanjat.


Bodoh !!!


Ketika kubangun alangkah kagetnya disebrangku Alfa juga tertidur dengan buku diwajahnya. Pasti seperti aku. Capek dan Lelah.


Kudekati Alfa untuk mengambil bukunya. Pasti tidak nyaman. Baru saja tanganku menyentuk buku tiba-tiba tanganku ditarik dan aku pun terduduk dipangkuan Alfa.


"Maf, Kak. Aku cuma mau membantu menyimpan buku" Kataku sambil melambaikan buku. Rasa deruan jantungku sudah tidak jelas rasa ingin meledak.


Alfa hanya diam tidak bersuara.


"Ada apa dengan dia. Tidak mungkin dia masih tidur dalam keadaan mata terbuka"


Jika dilihat dari dekat begini. Wajah kami yang hanya berjarak beberapa centi dengan bibir Alfa yang menggoda bisa jadi kami sudah menyatukan.


"Apa lagi yang aku fikirkan"


"Se" sebuah kata yang membuyarkan lamunanku sesaat.


Tanpa aba-aba aku langsung berdiri sebelum tambah kemana-mana fikiranku.


"Maf, Kak" ucapku terbata-bata. Baru saja aku membalikkan badan. Sebuah tangan memelukku, jantungku sudah tidak aman.


"Se, sudah lama kakak menyukaimu"


Aku terdiam heran dengan kelakuan sahabat kakakku ini. Bukannya dia menyukai wanita lain.

__ADS_1


Alfa melepas pelukannya. Sebenarnya aku merasakan detak jantung Alfa yang berpacu kencang. Sama halnya denganku.


"Bukannya Kak Alfa menyukai wanita lain? teman kak Ello" tanyaku


"Aku tahu kamu bingung, tapi sejak lama aku sudah menyukaimu. Ello tahu aku menyukaimu. Selama ini dia menjadi mata-mataku. Maukah kamu jadi pendampingku??"


Apa??? Jadi Ello selama ini ngebahas wanita dengan Alfa itu maksudnya Aku


Aku bingung.


"Aku tidak memaksamu untuk menjawab sekarang."


Aku hanya bisa diam, tidak tahu apa yang harus aku jawab. Rasa ingin bertemu Ello lebih besar.


Alfa tahu aku bingung dan dia tidak memaksaku. Ini yang kusukai dari Alfa, dia bisa menahan ego dan kemauannya.


"Kamu mau diantar pulang sekarang, Se?? Tadi Mamamu sudah diantar sama mamaku." ucapnya


Didalam mobil pun aku hanya diam tak bersuara. Jalanan yang lancar terlihat macet dimataku. Rasa ingin menjauh dari Alfa karena rasa gugup membuatku resah.


Setelah melewati beberapa nama jalan sampailah dirumahku. Kubuka pintu mobil dengan cepat, aku tahu Alfa pasti memperhatikanku. Aku ga tau sudah mukaku seperti apa. Pokoknya pengen kabur.


"Terima kasih kak" ucapku sebelum tutup pintu mobil. Aku berlari.


Gila..


"Kenapa,non? Kok kayak habis lihat hantu" tanya bi rumi mengagetkanku.

__ADS_1


"Eh ga papa bi. Ello sudah pulang??"


"Barusan aja non. Bapak juga sudah pulang cuma ibu belum?"


"Baik bi. Makasih" Aku berjalan menuju kamar Ello. Kalau mama pasti masih pergi dengan mamanya Alfa.


Sesampai didepan pintu kamar Ello. Kutarik nafas perlahan dan kuketuk pintunya.


"Siapa" kata seseorang dibalik pintu.


"Aku, Kak. Boleh masuk?" tanyaku


"Masuk aja ga dikunci, Se" Aku membuka pintu dan kulangkahkan kakiku ke dalam kamar. Kulihat Ello sedang menyusun undangan. "Sibukkah kak?"


"Gak, Se. Ada apa? Tumben bicaramu ga ketus" ejek Ello.


Aku hanya nyengir.


"Kakak tahu Kak Alfa menyukaiku"tanyaku tiba-tiba dan membuat dia kaget menghentikan aktifitasnya.


"Kamu tahu darimana Alfa menyukaimu?"


"Kak Alfa tadi memberitahuku"


"Trus kamu bilang apa?" tanya Ello penasaran.


"Aku masih bingung, Kak. Emang selama apa Kak Alfa menyukaiku. Aku fikir dia menyukai teman kalian"

__ADS_1


Ello memukul keningnya dengan keras.


"Akankah Sese mengetahui Rahasia Alfa selama ini?"


__ADS_2