
Rumah Sakit
Aku langsung membawa Sese ke dokter Rio. Dokter Rio kebetulan adalah Kakak kandung Mama. Sebenarnya bisa saja dia datang kerumah namun hari ini jadwal dia bekerja dirumah sakit daripada menunggu lama jadi aku mengajak Sese menemuinya langsung.
"Kamu bisa tunggu disini, sayang?" tanyaku kepada Sese yang masih terlihat pucat.
Sese hanya mengangguk tanpa menjawab.
Aku lekas berdiri dan segera menghampiri perawat yang berjaga didepan ruang dokter Rio.
"Permisi, mbak."
"Pak Alfa ya?" tanya perawat tersebut.
Aku mengangguk.
"Mau bertemu dokter Rio? tanyanya lagi
"Iya, mbak. Istri saya sakit. Bisa dijadwalkan?" tanyaku sambil melihat Sese yang sedang duduk dikursi tunggu.
"Pak Alfa, jika saya boleh sarankan. Lebih baik segera bawa istri bawa ke IGD saja daripada menunggu lama disini. Takutnya istri bapak tidak kuat. Nanti saya akan kabarin dokter Rio" Kata perawat tersebut setelah melihat Sese yang duduk dikursi tunggu
"Begitu ya, mbak. Terima kasih ya" kataku
"Sama-sama, Pa"
Aku pun membawa Sese ke IGD.
***
"Ada apa, Pa?" tanya perawat yang sedang berjaga di ruang IGD.
Aku menjelaskan apa yang terjadi dengan Sese dan perawat tersebut memintaku segera membaringkan Sese di tempat tidur.
"Tolong bapak silahkan tunggu disana ya, saya akan periksa istrinya dulu"
__ADS_1
Aku segera keluar dan menunggu perawat tersebut selesai memeriksa Sese.
Tak berselang lama, tirai terbuka. Perawat tersebut kembali ke tempat duduk dan memberitahu dokter yang sedang berjaga.
"Pak Alfa?" panggil dokter laki-laki yang bernama jo.
Aku mendekat menghampiri dokter tersebut.
"Begini, pa. Istri bapak akan kami pasangin infus karena demamnya sangat tinggi. Untuk apa yang terjadi dengan istri bapak nanti dokter Rio yang menjelaskan" jelas dokter jo
"Baik, dok. Terima kasih"
Aku menghampiri Sese yang masih saja lemas.
"Masih pusing?" tanyaku cemas ke Sese yang terbaring lemas di tempat tidur dengan muka pucat.
Dia hanya mengangguk lemas.
Drrt.. Drrt.. Handphone yang berada disaku berbunyi. Kuliat nama "Mama" memanggil.
"Iya, kakak angkat aja dulu"
Aku berdiri dan sedikit menjauh.
"Halo, Ma?"
"Gimana kabar menantu cantik mama? Sudah diperiksa om Rio?"
"Om Rio masih ada pasien, Ma. Kami masih menunggu. Nanti Alfa kabarin" jelasku ke Mama. Hari ini sebenarnya Lelah badanku namun apa yang terjadi dengan Sese membuatku lupa dengan rasa lelah.
"Oke, Mama tunggu kabarnya. Dijaga menantu mama dengan baik ya. Jangan ditinggal"
"Ma, sebenarnya anak mama Alfa apa Sese? Kenapa Mama terlihat lebih peduli dengan Sese dibanding Alfa" tanyaku heran kepada Mama.
"Ha.. ha..ha.. Alfa kamu anak Mama di kartu keluarga tapi Sese anak kesayangan Mama" ucapnya tanpa ragu
__ADS_1
"Astaga"
Mama hanya tertawa terbahak-bahak. "Ya udah mama tutup teleponnya. Mama tunggu"
Panggilan pun berakhir.
Aku kembali ke ruangan Sese ternyata sudah ada om Rio disana dan dokter wanita yang lain yang sedang memeriksa.
"Halo, Fa" sapa Om rio melihatku kembali.
"Halo, Om." balasku.
"Dok, ini suami ibu Sese dan kebetulan keponakan saya." katanya Om Rio memperkenalkan aku ke dokter wanita itu.
"Perkenalkan saya dokter tika, dokter kandungan disini." sapa dokter itu sambil menjabat tanganku. "Pertama-tama saya ucapkan selamat ke Pak Alfa. Istri bapak sedang hamil 4 minggu. Namun, kondisi istri bapak lemah. Jadi, keadaannya sangat mengkhawatirkan. Jika boleh saya sarankan, istri bapak dirawat beberapa hari di sini untuk kami pantau. Bagaimana pa?
Aku mendengarkan penjelasan dokter tika dengan degup jantung yang mau meledak. Bagaimana tidak hampir dua bulan aku menikah, Tuhan sudah mengirim janin di rahim istriku.
"Fa?" tegur Om Rio
"Iya, dok. Saya minta bantuannya tolong berikan yang terbaik untuk istri saya" ucapku dengan sumringah.
"Baik, Pa. Terima kasih. Saya permisi dulu" ucap dokter Tika. "Mari dokter Rio, saya duluan'
"Iya, dok" balas kami berdua hampir berbarengan.
Dokter Rio yang notabene adalah dokter jantung sedikit membantu memberi penjelasan apa yang harus aku lakukan. Hampir lima belas menit kami bercerita dan aku lupa jika ada yang menunggu kabarku.
"Om aku permisi dulu ya mau kabarin Mama" ucapku.
"Oh iya, baik Fa. Om juga mau lanjut. Sekali lagi selamat ya buat kalian berdua"
"Terima kasih, Om"
"Sama-sama"
__ADS_1
Om Rio pun pergi. Aku menghampiri Sese yang sudah kembali tertidur. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.