Dia Terbaik

Dia Terbaik
Bab 68


__ADS_3

Alfa Pov


Setelah hampir seharian aku diperjalanan, sampai juga aku di hotel. Kurebahkan badan dikasur yang kosong ini. Mulai malam ini selama kurang lebih sebulan lamanya, aku akan tidur sendiri.


"Huft" hela nafasku. Andai bukan kewajiban pasti aku akan mengirim stafku kesini daripada jauh dari Sese.


Aku kangen Sese. Wajah yang membuat hati jadi tentram ketika memandangnya, senyum yang hangat serta tubuh yang bisa membuat laki-laki ingin memilikinya. Untungnya hanya aku yang boleh menyentuhnya.


Membayangkan kami memadu kasih membuatku memejamkan mata tertidur.


**"


Drrrt..drrttt..drrttt.


Bunyi handphoneku membangunkanku, kuraba kasur mencari sumber suara.


"Ketemu" kataku. Kulihat layar dan ternyata Sese yang menelpon.


"Kakaaaakkk" teriak Sese setelah aku mengangkatnya.


Menampilkan sebuah wajah dengan senyum mengembang. Ya, kami sedang melakukan video call.


"Ada apa, sayang?" ucapku langsung duduk ketika mendengar Sese berteriak.


"Ga papa, hanya kangen. Aku membangunkan kakak tidur ya" katanya.

__ADS_1


Aku mengangguk dengan senyum khasku. "Kalau kamu yang bangunin, kakak rela."


"Kenapa gitu?"


"Bisa ehem-ehem" kataku nakal.


"Kakak, ih mesum dah" kata Sese malu-malu. Padahal wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus.


"Sayang, gimana ini baru sehari ga ketemu sudah kangen. Bagaimana kalau sebulan? Bisa jadi zombie lah"


Bukan menjawab, Sese malah tertawa. "Kalau kakak jadi zombie, Aku cari suami baru"


"Lah, bukannya ikut jadi zombie malah cari suami baru. Bagaimana ceritanya ini?"


"Ha.. ha.. ha..biar aku ada yang belai jadi ga ikut-ikut kakak jadi zombie" katanya membuatku mulai kesal.


"Cie, marah" katanya tanpa rasa bersalah. Bukannya menenangkanku dia masih saja tertawa.


Namun, aku sudah hapal dengan Sese. Dia hanya bicara seperti itu cuma dimulut saja, dia sama halnya denganku sama-sama tidak bisa jauh dari satu sama lain.


"Ga, cuma cemberut aja"


"Sama, kakak" katanya tertawa. " Ayo bangun mandi, kan mau ketemu klien hari ini. Jangan malas-malasan biar kita segera bertemu".


Benar kata Sese, semakin cepat bertemu klien dan selesai maka makin cepat aku bisa menyentuh Sese. "Pengen dibangunin dengan itu" kataku menggodanya.

__ADS_1


"Itu apa?" tanyanya bingung.


"*****" jawabku tanpa sensor.


Dia kaget namun melakukan apa yang kuminta. Diangkat bajunya dan melihatkan sebuah gundukan putih dengan put**g kemerahan. Menggoda untuk diterkam. Andaikan dekat gundukan itu akan kusedot perlahan. Membuat pemiliknya akan bergerak kesana-kesini. Lalu aku akan memainkan jari didaerah sensitifnya.


Dia mainkan perlahan membuat sesuatu mengeras dibalik celanaku.


"Sayang, kenapa pagi-pagi kamu membuatku harus olahraga jari" kataku menahan hasrat ingin menumpahkan. Sepertinya hari ini aku akan bermain solo dikamar mandi. Entah akan berapa banyak aku akan bermain di kamar mandi jika jauh dari Sese


"Ha.. ha.. ha.. Sudah dulu ya kak, aku tutup telponnya.." katanya sambil tertawa


"Seseee, tanggung jawab" gantian aku yang berteriak.


"bye.. bye.." dia tertawa lalu handphone mati.


"Dasar, istri nyebelin" kataku. Aku berlari ke kamar mandi menumpahkan yang seharusnya kutumpahkan di rahim Sese sekalian mandi. "Awas aja kalau ketemu, kubuat ga bangun seharian" ucapku mengomel.


***


Setelah sejam aku dikamar mandi, akhirnya aku keluar dan segera berganti pakaian. Kulihat handphoneku ada pesan dari Sese. Sebuah foto dirinya dengan senyum khasnya.


"Semangat ♥️♥️" sebuah pesan di bawahnya.


"Terima kasih sayang. Tunggu aku" balasku cepat.

__ADS_1


Aku segera berganti pakaian dan menelpon sekretaris yang ikut denganku. Perjalanan bisnis kali ini aris yang menemaniku. Aris adalah mantan sekretaris Papa dulu ketika masih memimpin perusahaan. Jadi, dia lebih berpengalaman.


***


__ADS_2