
Aku menimang-nimang apakah aku siap menjadi seorang istri bulan depan. Umurku masih muda, masih banyak mimpi yang belum tercapai.
Kulihat wajah Alfa. Teduh seperti biasa tidak ada mata yang menuntut.
"Aku siap" begitu jawabku tanpa ragu. Aku percaya bahwa Alfa akan memberiku Dunia yang Indah. Mengenal Alfa bukan hanya hitungan bulan tapi sudah bertahun-tahun dan aku tahu seperti apa dia.
"Terima kasih, Se" ucapnya.
Kami pun membahas segala keperluan dan kebutuhan untuk pernikahan. Mama Alfa memintaku besok untuk datang ke boutique langganannya buat mencoba gaun pengantinku.
Setelah merasa cukup, mereka berpamitan pulanv tanpa terkecuali Alfa.
"Nanti kutelpon ya"
Aku mengangguk. Cium kening sudah menjadi rutinitas kami sebelum berpisah.
***
Pagi ini seperti biasa aku pergi kuliah diantar Alfa.
"Masih ngantuk ya?" tanyanya setelah kami sampai dikampus.
"Salah kakak ini, Kenapa nelpon lama sekali" balasku. Kami semalam menelpon sampai pukul satu pagi dan sekarang jam tujuh sudah harus ke kampus.
"Maaf ya. Banyak yang ingin kuobrolin" Ucapnya sambil mengelus rambutku.
Aku tersenyum. "Ga papa"
Setelah berpamitan, aku memasuki kampus.
Sepasang mata melihatku sinis. Ada sebuah rencana tersusun rapi dibenaknya.
"Hari ini kita lakukan" ucap dia ke dua temannya.
***
Selesai kuliah, aku menunggu di cafe. Alfa datang terlambat karena ada rapat mendadak.
Baru saja meminum pesananku, tiga wanita menghampiriku. Salah satunya wanita yang pernah menyatakan cinta ke Alfa.
__ADS_1
"Kamu Sese kan? Ada yang ingin kubicarakan sama kamu. Bisa ikut aku sebentar" ucapnya
"Kenapa tidak bicara disini saja?"
"Banyak orang tidak enak didengar"
Aku mengikuti mereka ternyata mereka membawaku ke toilet wanita.
"Hebat ya, adik kelas sudah berani menggaet Pak Alfa." ucapnya sambil mendorong badanku. Akupun jatuh ke lantai.
Sekarang aku berada didalam toilet bersama Elsa. Dua temannya berada didepan pintu untuk berjaga.
"Maksud kamu apa?"
"Kamu anak baru banyak tanya?" katanya sambil menyiramku dengan air.
"Aku minta kamu pisah sama Alfa. Ga pantas kamu dengan Alfa, yang pantas itu aku"
"Siapa kamu bisa bicara seperti itu. Pantas atau gak pantas bukan kamu yang berhak" kataku melawan.
"Dasar wanita murahan" Elsa marah dan hampir saja menamparku kalau tidak kutahan.
Aku berulang kali disiram dengan air dan sekarang aku dikunci dikamar mandi.
"Sial, beraninya hanya main keroyok". Aku mulai kedinginan, pakaianku sudah basah kuyup. "Semoga ada yang masuk kesini"
Mataku mulai berat akibat semalam dan sekarang dikunciin.
***
Alfa pov
Aku sampai dikampus dan langsung menuju Cafe tempat biasa Sese menunggu.
Didalam Cafe tidak kutemukan Sese, kucoba menelpon namun tidak ada jawaban.
"Permisi, pak. Apa bapak mencari Kak Sese?" tanya pelayan tersebut.
"Iya, kamu tahu dia dimana?"
__ADS_1
"Tadi Kak Sese menunggu disini, Pak. Tapi ada tiga orang wanita membawanya"
"Kemana?" tanyaku dengan cepat
"Ke toilet belakang kampus, Pa"
"Oke, terima kasih ya"
Aku buru-buru mencari Sese. Aku langsung menuju tempat yang disebutkan pelayan cafe.
"Sese, kamu dimana?" teriakku sampai ditoilet. Aku melihat ada sebuah pintu tertutup rapat.
"Sese, apa kamu didalam?" ketokku dengan membabi buta. Belum ada jawaban
"Sese..Sese.." Aku mengulangi panggilanku
"Kak, apa itu kamu?" jawab suara dibelakang pintu.
"Ini aku, Se. Kamu menjauh dari pintu, aku akan mendobraknya"
"Iya"
Tanpa aba-aba, aku langsung mendobrak pintu. Aku kaget melihat Sese.
"Kamu ga papa?"
"Aku ngantuk, Kak" Katanya dan setelah itu dia tidak sadarkan diri. Aku melepas jasku dan kupasang ke badannya.
Aku gendong Sese dan buru-buru ke mobil. Kulajukan mobil menuju rumah sakit terdekat. Sekarang aku menunggu didepan pintu. Sudah kukabarin semua anggota keluarga.
"Keluarga Sherlina" ucap seorang perawat.
"Saya, Sus"
"Mba Sherlina mengalami hiportemia, Pa. Jadi mesti dirawat beberapa hari"
"Baik, Sus. Tolong bantuannya". ucapku
Sekarang aku hanya bisa menunggu Sese sadar. Aku sudah memberitahu sekretarisku kalau tidak kembali kekantor.
__ADS_1