Dia Terbaik

Dia Terbaik
Bab 73


__ADS_3

Dia menutup mulutnya seakan tidak percaya apa yang baru saja dia lihat. Dengan air mata yang tepat dihadapanku menetes dari wajah putihnya. Dia hanya berlirih "Maaf".


Bantingan pintu menyadarkanku bahwa ini bukan mimpi.


"Alfa, ada apa?" kata Claire seakan semua baik-baik saja.


"Brengsek" aku menghempaskan selimut yang menutup badanku dan segera berlari sambil mengancingkan kemeja.


***


Sese Pov


Tidak terasa pesawat yang membawaku ke Prancis telah mendarat dengan baik. Aku segera mencari taxi untuk mengantarkanku ke apartemen Alfa.


"Mumpung masih pagi dan Alfa belum berangkat kerja. Dia pasti kaget" ucap batinku


Sesampainya di apartemen, aku bertemu dengan recepsionist dan menjelaskan tujuanku. Tanpa panjang lebar, dia menyerahkan kunci duplikat dengan bukti bahwa aku istri sah Alfa.


Aku menekan tombol sesuai nomor apartemen Alfa. Kubuka pintu apa dengan perlahan. Ada sepasang sepatu wanita yang berjejer dengan sepatu Alfa. Air mata mulai menumpuk di ujung mata.


Krekk..


Apa yang aku curigai ternyata benar. Alfa sedang tidur dengan seorang wanita yang kukenal bernama Claire, teman masa kecilnya.


"Maaf" hanya itu yang mampu keluar dari mulutku. Aku segera menarik koperku dan pergi keluar. Orang yang selama ini kurindukan malah mengkhianatiku.


Pintu lift terbuka, aku lekas masuk dan terdengar suara dari kejauhan memanggil namaku.

__ADS_1


"Sese, dengar dulu penjelasanku" suara Alfa berteriak.


Aku segera menekan tombol dan pintu tertutup. Aku keluar dari lift dan segera mencari taxi yang kebetulan baru saja mengantar penumpang.


"Mau kemana, Mbak" ucap bapak tersebut dengan bahasanya


"Bisakah bawa saya pergi dari sini terlebih dahulu, Pa" jawabku membalas.


"Baik"


Bapak tersebut segera meninggalkan apartemen mewah yang beberapa bulan ini ditinggalin Alfa. Terlihat dari kaca, Alfa baru saja keluar dari pintu masuk apartemen.


Drrrtt.. drrtt.. drrrtt..


Suara handphoneku berbunyi, aku tahu siapa yang menelpon. Tidak kuangkat. Kubiarkan seperti itu terus. GPS di handphone kumatikan.


"Entah, Pa. Saya Sese" balasku.


"Sekarang mbak Sese mau saya antar kemana?" tanya Pa James


"Saya tidak tahu mau kemana, Pa. Jika ke hotel suami saya pasti bisa menemukan saya."


"Apa mbak Sese mau ke rumah bapak? Dirumah bapak ada istri dan anak bapak satu. Dia perempuan seumuran mbak Sese"


"Apakah boleh, Pa?" tanyaku


"Boleh saja, Mbak. Anak saya malah senang jika ada teman. Tapi maaf rumah bapak mungkin tidak sebagus rumah mbak Sese"

__ADS_1


"Tidak masalah, Pa"


Mobil yang dikendarai Pa James sudah sampai disebuah rumah berlantai satu. Rumahnya cukup asri dengan banyak tanaman tumbuh di depan rumah.


"Pagi, Ma" ucap Pa james kepada istrinya yang sedang menyiram bunga


"Loh, Pa. Kok sudah pulang? Belum ada sejam bapak pamit"


Pa james menceritakan kejadian yang baru saja menimpaku. Tiba-tiba istri Pa james berjalan mendekatiku.


"Perkenalkan saya rose. Mbak bisa panggil saya ibu Rose. Tinggallah dirumah saya untuk beberapa waktu sebelum kembali ke negara asal"


Aku memeluknya "Terima kasih, Ibu. Mohon maaf merepotkan"


Ibu Rose membalas pelukanku dan membawaku ke dalam rumah. "Anak ibu Anna masih kuliah, kalian bisa tidur dikamar yang sama. Tidak masalah kan?" tanya Ibu Rose


"Tidak masalah, bu."


Ibu Rose mengajakku ke kamar Anna. "Istirahatlah disini dulu, nak. Kamu pasti lelah. Sudah berapa minggu kandunganmu?"


"Jalan sebelas minggu, Bu"


Ibu rose mengangguk. "Istirahatlah, Jika kamu sudah tenang. Ibu ada diluar"


"Iya, Bu"


Bersyukur sekali dinegara orang bertemu dengan keluarga Pa James.

__ADS_1


***


__ADS_2