
Selama perjalanan pulang, aku hanya menatap keluar jendela. Alfa pun juga sama fokus menyetir tanpa mengajakku berbincang.
"Apa salahku!!? Memang aku yang mengajak ketemu Rico. Tahu dia ada disini saja baru hari ini. Tapi kenapa seakan-akan aku janjian." ucap batinku tanpa bisa didengar Alfa. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati.
Aku membuka pintu mobil dan langsung menutup pintu setelah kami sampai dirumah. Tak kupedulikan keberadaan Alfa disampingku.
Aku masuk ke kamar dan langsung menuju kamar mandi mengunci pintu dari dalam. Kunyalain kran air untuk mengisi bathtub dengan tekanan yang full. Aku pun menangis. Ya, dengan cara itu jalan pernafasanku lega.
Entah sudah berapa lama aku didalam kamar mandi. Yang kutahu, ketika kubuka pintu, kulihat Alfa sedang duduk dipinggir tempat tidur sambil memandangku.
Aku berpaling, aku tak mau terlihat habis menangis. Aku berjalan ke lemari untuk mengambil baju. Baru saja kubuka pintu lemari, sebuah tangan memelukku.
"Maaf, Se" kata Alfa dengan kepala bersandar di pundakku. Hembusan nafas tidak beraturan terasa dileherku.
"Buat apa?" tanyaku dengan pelan. Sebenarnya aku tahu apa maksud perkataan maafnya tapi untuk meyakinkanku jadi aku bertanya.
"Aku salah telah mendiamkanmu padahal kamu sama seperti aku yang tidak tahu apa-apa. Tapi rasa terbakar didadaku membuat semua kacau" jawabnya tanpa melepaskan pelukanku.
Aku hanya diam tanpa berniat membalas jawabannya. Aku tahu dia cemburu tapi apa tidak bisa berfikir dewasa.
"Apa kamu tidak mau memafkan aku, Se?" tanyanya sambil membalikkan badanku.
__ADS_1
Alfa melihat mataku yang bengkak habis menangis. Diciumnya dua kelopak mataku dengan lembut turun ke hidung dan dikecupnya bibirku.
"Maaf sudah membuatmu menangis"
Aku yang sudah tidak tahan membendung air mata langsung menangis lagi. Kupukul Alfa dengan kencang bertubi-tubi
"Jahat"
"Maaf" hanya kata itu yang keluar dari mulut Alfa selanjutnya sambil mencoba memeluk untuk menenangkanku.
Aku sudah berada dalam pelukan Alfa lagi.
"Jangan menangis lagi. Aku sangat mencintaimu" bisik Alfa disela-sela pelukan kami. Aku melonggarkan pelukanku dan melihat wajahnya yang tidak pernah kubosankan. Aku berjinjit dan kukecup bibirnya yang tipis. Alfa yang memang laki-laki penuh hasrat langsung membalas ciumanku. Bibir kami bertemu untuk waktu yang sangat lama.
Setelah aku berpakaian, Alfa mengajak tidur siang. Ya, hari ini sungguh melelahkan. Perjalanan ke pantai dan pertemuan dengan mantan pacar membuat segala keribetan.
***
Aku terbangun kala perutku lapar. Siang tadi aku hanya makan sedikit.
Aku lekas mandi dan setelah selesai aku langsung keluar. Kulihat Alfa masih tidur dengan nyenyak. Tidak tega juga membangunkannya.
__ADS_1
Setelah berpakaian, aku turun ke bawah dan menuju dapur. Membuka kulkas dan mencari bahan makanan. Walau dari kecil untuk masalah makanan aku lebih sering dimasakin tapi aku sudah terbiasa masak sendiri ketika masih tinggal dengan nenek.
Aku memasak nasi, sop udang dan omelet telur. Setelah selesai aku kembali ke kamar. Posisi Alfa masih sama tidak ada berubah. Aku berjalan mendekat.
"Kak" kataku mencoba membangunkannya. Alfa hanya berdeham namun tidak berniat membuka mata.
"Kak" kataku lagi.
Alangkah kagetnya bukan membuka mata dia malah menarikku ke dalam pelukannya. "Ada apa?"
"Ayo bangun, aku lapar"
Alfa langsung bangun. "Kamu lapar? Kenapa tidak membangunkanku dari tadi?"
Aku tertawa kecil. "Aku sudah masak, Kakak ayo bangun. Kita makan bareng"
"Sebentar ya, aku cuci muka dulu"
Aku menunggu Alfa selesai dan kami pun turun ke bawah untuk balas dendam makan siang yang sedikit tadi.
"Enak" kata Alfa setelah menelan makanan yang baru saja masuk ke mulutnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Terima kasih pujiannya" kataku tersenyum
Kami pun makan dengan bersenda gurau. Masalah tadi sudah kami lupakan.