Dia Terbaik

Dia Terbaik
Bab 77


__ADS_3

Sese Pov


"Kak" aku berlari menghampiri Ello yang sudah menungguku didepan pintu. Aku memeluknya. Rasa hangat menghampiriku.


"Semua akan baik-baik saja" elus Ello dikepalaku. Dia tahu semua rasa kekhawatiranku. "Ayo, pulang. Mama dan Papa sudah menunggumu"


Aku mengangguk. Selama perjalanan aku bercerita bagaimana aku disana dan kenapa aku bisa meminta cerai ke Alfa.


"Semalam aku mengecek handphoneku yang sudah lama tidak kusentuh. Ada nomor yang tidak kukenal mengirimiku pesan. Ketika kubuka foto mereka berdua sedang tidur, Kak. Wanita itu tanpa busana" aku menceritakannya.


Aku menangis mengingat foto itu. Bagaimana rasanya dikhianati suami sendiri yang sudah kita kenal lama.


Ello meminggirkan mobilnya dan mengelus kepalaku. Dia yang biasanya cerewet dan suka mengganggu, hari ini menjadi seorang kakak yang menenangkan adiknya.


***


Kami sampai dirumah, mama dan papa sudah menungguku. Aku tahu mereka mengkhawatikanku.


"Maafkan, Sese ya Ma. Sudah meminta mama untuk tidak bertanya apa-apa"


"Apa kamu sekarang sudah tenang, sayang?" tanya Papa.


Aku mengangguk.


"Kamu sudah makan, nak?" tanya Mama


"Belum, Ma"


"Kalau begitu, ayo kita makan dulu bersama"

__ADS_1


***


"Aku mau pisah dengan Alfa, Ma Pa" ucapku ketika semua keluarga sudah selesai makan


Mama dan Papa terkejut mendengar perkataanku.


"Kamu yakin, Se?"


"Jika ditanya yakin apa tidak yakin, aku juga bingung. Namun, apakah harus bertahan jika sudah ada perselingkuhan di dalam rumah tangga. Alfa mengkhianati, Sese"


"Tapi kamu lagi hamil, sayang. Fikirkan baik-baik, bagaimana dengan anakmu nanti, apa dia lahir tanpa kehadiran seorang ayah?" kata Mama.


Aku mencerna kata-kata Mama. Apa yang dikatakan benar. Bagaimana jika anak ini lahir?


"Tolong kamu fikirkan baik-baik, sayang. Kami semua mendukung apapun keputusanmu" Mama memelukku.


Mama dan Papa setuju dengan rencanaku. Ello mengantarku kembali ke apartemen yang aku beli dari uangku sendiri. Apartemen ini kosong tidak ada yang tempati. Aku tidak ada niat menyewakannya.


"Kalau ada apa-apa hubungin kakak ya, Se. Kakak pamit pulang dulu" ucap Ello setelah membantuku menyimpan barang.


"Terima kasih ya, Kak. Salam buat kak Sinta dan Chibby" kataku


"Oke"


Setelah Ello pergi, tinggallah aku sendiri di apartemen ini. Setiap sudut ada bayang-bayang Alfa yang sedang bersamaku.


Kami paling senang duduk berdua didekat jendela, melihat pemandangan kota dari ketinggian sambil meminum cokelat panas. Sangat indah.


Sekarang semua hampa, tidak ada Alfa disini. Hanya aku seorang diri.

__ADS_1


Handphoneku berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Aku mengabaikannya namun panggilan itu tidak berhenti.


Aku berjalan mendekati tasku dan mengambilnya.


"Nomor siapa ini" ucap batinku. Dari nomornya bukan daerah sini.


"Halo" sapaku ketika kujawab panggilan tersebut


"Halo, Se. Aku Claire." sapa suara disebrang sana.


"Ada apa kamu menelpon? Sepertinya kita sudah tidak ada urusan" jawabku dengan sinis.


"Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan. Semua yang terjadi adalah rencanaku. Aku mengambil kesempatan ketika Alfa tidur tapi sumpah kami tidak melakukan apapun. Foto yang aku kirim itu hanya trik supaya kamu berpisah dengan Alfa. Aku tahu itu salah. Maafkan aku, Se"


"Apa kamu menyukai Suamiku?" tanyaku. Sebenarnya aku masih shock dengan penuturan dia tapi aku harus tetap tenang tidak boleh gegabah mengambil keputusan.


"Aku menyukai Alfa dari kecil, karena keadaan aku harus pergi keluar negeri mengikuti keluargaku. Tolong kembalilah ke Alfa. Dia tidak bersalah. Dia sangat kacau kehilanganmu, Se"


"Masalah kami selanjutnya biarkan kami yang mengurus, kamu sudah tidak perlu ikut campur"


"Baiklah, sekali lagi aku minta maaf" ucapnya.


Aku langsung mengakhiri panggilan. "Bodoh" ucapku. Entah buat siapa aku mengatakan ini. Buat aku atau buat Alfa.


***


**


"

__ADS_1


__ADS_2