Dia Terbaik

Dia Terbaik
Bab 78


__ADS_3

Alfa Pov


Sesampainya di bandara, aku langsung memesan taxi kerumah Sese. Selama perjalanan kutelfon Sese tapi seperti biasa tidak ada jawaban.


"Ini uangnya, Pa" kataku ke sopir taxi.


"Tunggu sebentar, kembaliannya Pa" Kata Pa sopir setelah melihat uang yang aku kasih lebih


"Tidak usah buat bapak saja, tolong doakan saya semoga masalah saya segera teratasi" kataku. Bukankah doa orang banyak biasa dikabulkan oleh Tuhan. Aku berharap!


"Baik, saya akan doakan. Terima kasih ya, Pa"


Aku tersenyum. Segera kubuka pintu mobil dan menutupnya kembali.


"Huft" aku menghela nafas. Dipesawat sampai turun perasaanku tidak enak. Bagaimana keadaan Sese? Apakah Claire sudah mengklarifikasi yang sebenarnya terjadi dengan kita berdua. Masalah ini rasanya hampir membuat kepalaku mau pecah.


Bel rumah kupencet dan tidak menunggu lama pintu terbuka.


"Alfa" seru Mama Sese.


Aku mencium tangannya. "Ma, maafin Alfa karena buat Sese jadi menangis"


"Tidak apa-apa, Nak. Ujian pernikahan. Ayo masuk, kamu pasti lelah" ajak Mama


Aku memasuki rumah mertuaku. Lelah? Pasti. Perjalanan yang menempuh ratusan kilometer dan hanya duduk yang bisa dilakukan akan membuat lelah.

__ADS_1


"Rumah kok sepi, Ma? Sese ada?" tanyaku langsung ke Mama.


Mama terdiam terlihat bingung harus menjawab apa. Aku tahu ada sebuah pertanyaan yang akan Mama keluarkan. Dan pertanyaan itu tertuju padaku.


"Apa yang dilihat Sese diapartemenmu itu benar, Fa?" tanya Mama akhirnya.


Aku menceritakan semua yang terjadi. Aku tahu tidak semuanya rekayasa tapi ada kesalahan dari aku.


Mama mendengarkan dengan seksama sekali-sekali menganggu dan menjawab "Iya".


"Sese bilang ke mama dan papa jika dia mau pisah denganmu, Fa?" kata Mama


"Alfa tidak akan berpisah dengan Sese, Ma. Alfa sangat mencintai Sese" kataku pelan ke Mama. Mama pasti mendengarnya.


"Kamu yang sabar, Fa. Sese anak yang keras kepala tapi hatinya baik"


Drrrt.. Drrrt.


Handphoneku berbunyi. Aku segera merogoh kantung celanaku mencari handphoneku.


"Dr Rio? Ada apa dia menelpon?" tanyaku pelan. "Halo, Om?" sapaku


"Alfa segera ke rumah sakit. Sese pendarahan?" Kata Om Rio sedikit berteriak. Mama yang mendengar sedikit terkejut. Aku? jangan tanya lagi.


"Alfa kamu dengar, Om?" tanya Om Rio.

__ADS_1


"Dengar, Om. Alfa segera kesana" kataku setelah Mama menggoyangkan tanganku.


"Ayo, Alfa kita segera ke rumah sakit" kata Mama setelah melihat aku mematikan panggilan telepon tersebut.


Mama memberikan kunci mobilnya kepadaku dan kami langsung menuju rumah sakit dimana Sese berada. Terlihat wajah Mama yang tidak jauh berbeda denganku. Ada rasa khawatir, cemas dan takut.


Aku dan Mama sedikit berlari setelah sampai rumah sakit.


"Alfa" teriak Mamaku sambil melambaikan tangan. Disamping Mama ada Om Rio. Mama pasti sudah dihubungin oleh Om Rio.


"Bagaimana Sese, Ma?" tanyaku sedikit membungkuk karena ngos-ngosan.


"Sese lagi diperiksa, Fa" kata Mama


"Kenapa dia bisa pendarahan?" tanyaku lagi.


"Om juga tidak tahu, Fa. Tiba-tiba ditelepon perawat kalau Sese pendarahan. Dia kesini dengan supir taxi" jelas Om Rio


Aku kaget. Satu lagi penyesalanku, ketika istriku kenapa-kenapa bukan aku yang menemaninya tapi malah orang lain, supir taxi.


Aku wara-wiri menunggu kabar Sese didepan pintu. Pintu terbuka dan keluar seorang dokter yang kukenal, dokter tika.


"Bagaimana istri saya, dok?" tanyaku.


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2