
Sesampainya aku dilantai ruang Alfa. Meja sekretaris Alfa, Lala kosong menandakan Alfa juga tidak ada diruangannya.
Aku memasuki ruangan Alfa dan menulis memo.
"Aku tunggu di rumah saja dari istrimu, Sese ❤️"
Kutinggalkan memo didekat komputer dan aku berjalan keluar.
***
Tidak butuh sejam, aku sudah sampai dirumah. Jika tidak ada Alfa, rumah terasa sepi. Aku dan Alfa belum berencana mencari asisten rumah tangga untuk membantu mengurus rumah. Masalah makan kami biasa beli atau salah satu dari kami masak.
Hari ini serasa lelah sekali, kepala mulai nyut-nyutan.
Aku merebahkan badanku dikasur dan dalam hitungan menit sudah tertidur.
***
Alfa Pov
Rapat diluar kantor mencuri waktu yang sangat lama dari biasanya. Bagaimana tidak kalau klien adalah teman sendiri. Pasti hal masa lampau akan terungkit kembali.
Aku mengecek handphoneku dan ada panggilan tak terjawab dari Sese. Aku termasuk orang yang jika sedang rapat tidak akan mengecek handphone. Dan orang yang bekerja denganku sudah mengetahuinya. Jadi, jika tidak ada jawaban dariku pasti aku sedang rapat. Sese juga termasuk yang sudah hafal.
Sampailah aku dan Lala dilantai ruanganku berada dan baru saja keluar dari lift seorang satpam yang berjaga dilantaiku memberitahu bahwa istriku tadi kesini dan sekarang dia sudah pulang.
"Aku duluan, La" kataku meninggalkan Lala dibelakang.
__ADS_1
"Baik, Pa" balas Lala menunduk
Aku mengambil handphoneku yang tadi diperjalanan ku taruh ditas. Aku memencet angka "1" dan sudah terhubung di nomor Sese namun tidak ada jawaban.
"Kemana lagi, Sese" ucapku bergumam setelah beberapa kali mencoba menelpon.
Kulihat sebuah memo berada didekat komputer dan aku membacanya. Kulihat jam ditanganku dan sudah pukul 17.15, sudah waktunya pulang. Kuraih tasku dan segera kutinggalkan ruangan.
Aku melewati Lala yang masih mengurus beberapa berkas buat hari-hari selanjutnya. Lala berdiri dan menunduk melihatku buru-buru.
Aku bergegas mencari mobil setelah sampai di parkiran. Kujalankan mobilku dengan kecepatan sedang takut ada apa-apa dengan Sese.
"Sese sudah pulang, Pa? tanyaku ke satpam didepan rumah yang sedang membukakan pagar.
"Sudah dari tadi, Pa" balasnya.
"Oke, terima kasih" ucapku
Aku sudah sampai parkiran mobil dan kulihat mobil Sese juga ada. Aku segera menuju ke kamar setelah tidak melihat kehadiran Sese dibeberapa ruangan yang kulewati.
Kreek.
Kubuka pintu kamar dan kudekati Sese yang sedang berbaring di tempat tidur dengan keadaan yang pucat.
"Se, kamu demam?" tanyaku setelah menyentuh dahinya.
Sese terbangun dan membuka mata.
__ADS_1
"Kak, sudah pulang? Maf tidak bisa menyambut. Kepalaku sedikit pusing." katanya dengan terbata-bata.
"Kita ke dokter ya, Se? Kamu demam dan pucat" ajakku namun dia menggeleng.
"Aku ga papa, Kak." kata dia mencoba bangun.
"Sudah, kalau kamu ga mau ke dokter. Kamu g sah bergerak dulu. Istirahat aja dikamar." ucapku sambil memapah Sese kembali tidur.
Aku segera ke dapur membuatkan minuman hangat dan bubur untuk dimakan Sese. Beberapa menit berlalu, teh hangat dan bubur sudah siap.
Aku buka pintu kamar dan kulihat Sese tertidur.
"Se, ayo bangun" ucapku sambil mengelus pipinya yang bersih tanpa jerawat.
"Kak"
"Ayo makan dulu. Kakak sudah bawakan bubur dan teh hangat. Biar enakan"
Sese mengusap matanya dan segera duduk. Baru saja kudekatkan bubur dibibirnya. Sese menyingkirkan tanganku dan segera berlari ke kamar mandi.
"Hueek..hueek..hueek" terdengar suara Sese di dalam kamar mandi.
Segera kutaruh semangkok bubur yang baru saja kubuat dan berlari mengikuti arah suara muntah Sese. Kulihat Sese memuntahkan segala makanan yang ada di perut.
"Ke dokter ya" kataku sambil memijat tengkuk lehernya.
Sese membalikkan badan dan mengangguk.
__ADS_1
"Ayo" kubantu Sese berdiri dan kami segera pergi ke rumah sakit.
***