Dia Terbaik

Dia Terbaik
Bab 88


__ADS_3

"Ah, akhirnya selesai" kataku meregangkan tangan setelah berakhirnya rapat dan berjabat tangan dengan para pemegang saham. Namun, ada sedikit keganjalan dan hawa panas yang sedang menghantuiku.


"Se" colek orang sebelahku yang tak lain Kakakku sendiri, Ello.


"Apa?" tanyaku kepada dia. Ello memberiku kode untuk melihat kedepan.


Aku mengikuti arah kemana Ello menunjuk. Astaga, jelas aja ada perasaan aneh ternyata aku lupa akan sesuatu.


"Loh, Pak Alfa belum pulang?" tanyaku pura-pura tidak tahu bahaya sedang mengikuti. Aku tahu dia masih marah dengan yang kuucapkan tadi tentang masalah status hubunganku.


"Sese" ucap Alfa dengan muka merah padam.


"Ada apa, Pak Alfa?" tanyaku kembali padahal dalam hati aku sudah ingin tertawa


Alfa diam dan Ello masih mencolek lenganku. "Bahaya, Se" ucap Ello sedikit berbisik.


"Jika tidak ada yang ingin dibahas, saya pamit undur diri dulu" Kataku sambil berdiri dan langsung lari.


"Sese, mau lari kemana kamu?" teriak Alfa masih didalam ruangan rapat. Aku cekikikan namun tidak menghentikan langkahku.


"Bisa bahaya kalau ketangkap ini. Aduh, Sese kenapa juga bilang begitu" gerutuku. Aku memencet angka dimana ruanganku berada.


"Ya udah, Alfa juga tidak mengejar paling dia langsung balik ke kantornya berarti masih aman" ucapku lagi ketika aku sudah hampir sampai di ruanganku


"Bu Sese" colek seseorang mengagetkanku


"Astaga, Nisa. Kaget aku"

__ADS_1


Nisa tertawa. " Ibu dari tadi Nisa panggilin, tapi ibu sepertinya lagi sibuk dengan dunianya" kata Nisa tetawa lagi.


Aku menggaruk kepala yang tidak gatal karena malu.


"Tadi Bapak berpesan jika Ibu Sese sudah kembali disuruh ke ruangan bapak" Kata Nisa memberitahuku kenapa dia memanggilku.


"Oh, Oke nanti aku keruangan Papa. Makasih ya" kataku dan dia membalas dengan anggukan.


Aku masuk ke dalam ruanganku menaruh berkas yang tadi dikasih oleh bagian keuangan untuk aku pelajari. Kulihat handphoneku tidak ada telepon atau pesan yang masuk.


"Apa Alfa benar-benar marah ya" fikirku


Aku berjalan menuju ruangan Papa dan kuketuk pintu.


"Masuk" kata Papa didalam ruangannya.


Aku membuka pintu dan kumasukan setengah badanku. "Papa cari Sese?" tanyaku masih dengan posisi yang sama.


Aku masuk dan langsung duduk dikursi berhadapan dengan Papa. Ruangan Papa cukup besar tapi tidak sebesar ruangan Alfa. Diruangan ini tidak ada kamar karena Papa selalu pulang ke rumah meski malam beda dengan Alfa yang masa muda "Gila Kerja".


"Gimana dengan hari pertama kerjamu disini, Se?" tanya Papa menatapku.


"Sejauh ini masih enjoy, Pa. Sese menyukainya, banyak yang membantu" jawabku dengan jujur.


"Baguslah kalau kamu menyukainya. Oiya, Se. Ada masalah gara-gara ucapanmu tadi. Ada beberapa pemegang saham yang ingin kamu kencan buta dengan anaknya?" kata Papa.


Aku tertawa mendengar penuturan Papa. "Bagaimana aku pergi kencan buta kalau sudah punya suami" ucapku dalam hati

__ADS_1


"Papa bingung dengan kamu, kenapa bisa bicara sembarangan begitu. Padahal Alfa ada disitu? Dia tidak marah?"


"Trus Papa jawab?" tanyaku penasaran


"Ya, Papa bilang kalau kamu bercanda dan diruangan itu ada suamimu yang duduk bersebelahan dengan Papa."


"Oh" Aku masih saja senyam-senyum mengingat wajah telak Alfa yang shock mendengar pernyataanku.


"Se, kamu belum jawab Papa. Alfa tidak marah?" tanya Papa sekali lagi


"Entah, Pa. Aku belum bertemu dia lagi" ucapku dengan santai.


"Ya udah, itu saja yang ingin Papa bicarain sama kamu. Kamu bisa kembali ke ruanganmu" Kata Papa.


"Oke, Pa. Sese balik dulu ya". Aku pun keluar dan kembali ke ruanganku.


Sesampainya didepan ruanganku, ketika aku mau membuka pintu.


"Bu Sese" tegur Nisa sedikit membuatku kaget


"Ada apa?" tanyaku bingung


"Ehmm.. Ga jadi deh, Bu. Semangat ya" ucapku membuatku tambah bingung.


Aku membuka pintu dan kutemukan seseorang duduk di kursiku.


"Kak Alfa"

__ADS_1


***


***


__ADS_2