
Di kamar hotel.
Alfa membuka pintu kamar dengan tergesa. Aku masih berdiri dibelakangnya.
Klek..
Pintu kamar terbuka
Alfa langsung berhambur ke tempat tidur dan memejamkan mata. Aku terheran dengan kelakuan Alfa. Tidak biasa dia begini..
"Kak, ada apa? Kenapa kamu begini?" tanyaku duduk disampingnya
"Se?" ucapnya tapi tetap pada posisinya.
"Apa?" tanyaku.
"Kamu masih ingat cerita yang aku hanya pacaran seminggu?"
Aku mengangguk.
"Wanita tadi mantanku. Dia tidak terima hubungan kami berakhir dan" Alfa berhenti berbicara membuatku tambah penasaran.
"Aku pernah dijebaknya. Hampir saja kami melakukannya. Tapi untungnya aku sadar dan aku langsung mendorong dia"
Aku kaget dengan penuturan Alfa.
__ADS_1
"Aku ga cinta dengannya, aku terpaksa pacaran dengannya karena hatiku sakit ketika Ello memberitahuku bahwa kamu pacaran dengan Rico"
Aku memeluk Alfa yang masih dengan posisinya. Alfa membuka matanya dan mencium kepalaku.
"Maafkan aku, Se"
"Apa yang harus dimaafin, Kak. Kamu tidak salah. Kamu hanya tidak memberitahuku tentang perasaanmu. Bagaimana kalau aku menikah dengan orang lain jika kamu tetap memendam perasaanmu?" Kataku masih dalam pelukannya tanpa bergerak.
Alfa terdiam. Mungkin sedang berfikir.
"Jika kamu memberitahuku sejak lama mungkin kita sudah bersama dari dulu. Aku hanya tahu kalau kamu sahabat baik Ello"
"Aku takut jika kamu menolakku dan menjauh dari kehidupanku. Aku takut kamu akan menjaga jarak, Se."
"Kenapa kamu tertawa? Kamu bahagia jika jauh dariku" Kata Alfa sambil mencubit lenganku. Alfa sudah duduk disebelahku, tangannya mengelus rambutku.
"Ampun, Kak." kataku sambil melihat wajahnya. "Bukan karena bahagia menjauh dari kakak tapi kakak belum mencoba sudah berfikiran buruk. Belum berperang sudah mundur duluan ini namanya" Kataku lagi sambil menggoda.
"Harus ada strategi, Se. Salah langkah akan beda cerita" belanya.
Karena Alfa lagi badmood maka kami langsung segera tidur setelah mengganti baju dan sikat gigi.
***
Sinar matahari sudah mulai terasa silau dimata. Sepasang suami istri baru saja bangun.
__ADS_1
"Selamat pagi, sayang" ucap Alfa sambil mengecup kepalaku dan turun ke bibir.
"Selamat pagi juga, sayangku" ucapku malu-malu. Baru kali ini aku memanggil Alfa dengan sebutan "sayang". Dia kaget dan malah mencium pipiku berulang kali.
"Aku senang kalau kamu manggil begitu, Se.." katanya.
"Oh iya Kak, apakah kita harus segera punya anak?" tanyaku tiba-tiba serius.
Alfa mengernyitkan wajahnya "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu tidak mau segera memiliki anak yang wajahnya mirip kita?"
"Aku ..." ucapku terbata-bata. Ada rasa ingin segera memiliki anak namun dengan umurku yang masih muda dan kuliah baru semester 4 masih ada dua tahun lagi.
"Apa karena kuliahmu, Sayang. Kamu jadi bingung?" tanya Alfa melihat kerisauanku
Aku mengangguk pelan takut menyakiti hati Alfa. Mungkin Alfa pengen cepat-cepat memiliki anak.
"Se. Anak itu titipan dari yang maha kuasa. Jika kita diberi anak cepat maka berarti Tuhan percaya dengan kita. Jika belum dikasih berarti belum rezeki kita. Hamil sambil kuliah juga bisa. Kan kamu hamil ada suaminya atau kamu mau cuti ketika hamil juga tidak apa-apa. Tenang, suamimu bertanggung jawab untuk semua kebutuhanmu." ucap Alfa panjang lebar sepertinya dia sudah lupa masalah dengan masa lalunya.
Aku masih saja bingung dan resah namun apa yang dikatakan Alfa benar. Jika siap menikah maka siap juga untuk memiliki anak. Anak yang mirip dengan kami berdua.
"Fikirkan baik-baik, Sayang. Kamu tahu apa jawabanku atas pertanyaanmu tadi" ucap Alfa memberitahuku.
Alfa pun bangun dan menuju ke kamar mandi meninggalkanku yang masih duduk termenung ditempat tidur.
***
__ADS_1