
"Kak Alfa" kataku kaget.
Dia hanya melipat tangannya sambil menatapku. Sepertinya amarah masalah tadi belum juga reda.
"Habislah aku" gerutuku dalam hati.
"Kenapa? Kaget?" tanya Alfa masih dengan posisi yang sama.
"Ee... " kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Alfa berdiri dan mendekatiku. Dia langsung menutup pintu yang berada dibelakangku.
Dikecupnya bibirku tanpa aba-aba. Semakin lama semakin dalam. Alfa tidak memberi jeda dalam ciuman kami.
"Kak.. humm.. Kak.." aku mulai kehabisan nafas. Alfa melihatku dan langsung melepaskan pangutan dibibir kami.
"Ini hukuman ringan buat kamu yang sembarangan bicara. Nanti malam hukuman beratnya. Jadi, tolong dipersiapkan" ucap Alfa ditelingaku.
"Ha?" aku menatapnya. Sebenarnya aku sudah tahu arah pembicaraan Alfa.
Dia hanya tersenyum. "Kakak balik ke kantor dulu, nanti hubungin aja kalau mau pulang" katanya sambil mencolek hidungku.
Aku hanya diam dan tidak bergerak dari posisiku. Ketika pintu tertutup pertanda Alfa sudah pergi baru aku kembali bernafas.
"Astaga, sepertinya malam ini bergadang lagi" kataku mengacak rambut.
***
"Se?" Ello sudah berada didepan pintu tanpa mengetuk.
__ADS_1
"Apa?" kataku.
"Ayo, ikut aku ketemu klien diluar"
"Kapan?" tanyaku.
"Lima belas menit lagi, nanti kujemput." katanya
"Oke" kataku sambil mengacungkan jempolku.
Pintu kembali tertutup. Jam masih menunjukkan pukul satu. Aku mematikan komputer dan mengemasi barang-barangku yang akan dibawa ke pertemuan nanti.
Setelah memberitahu Nisa bahwa aku akan rapat dengan Ello, aku memberi pesan ke Alfa.
"Sudah siap?" tanya Ello tiba-tiba dan aku mengangguk. Kami berjalan beriringan sampai parkiran mobil. Karyawan yang beremu dengan kami menunduk memberi hormat.
Aku menepuk tangannya. "Apa-apaan seh pertanyaan kakak tadi?" cecarku menghela nafas
"Sorry, Se. Kakak bercanda tadi"
Aku diam pura-pura marah. Ello melihatku memanyunkan bibir dan merasa bersalah.
"Ayolah, adikku tersayang yang paling cantik sedunia. Jangan marah lagi, ya. Kakak benar-benar minta maaf. Sebagai permintaan maaf, kamu boleh deh minta apa saja" bujuk Ello.
"Yakin?" tanyaku langsung dengan mata berbinar-binar. Ello mengangguk.
"Oke, Sese fikirkan dulu. Nanti kakak aku kasih tahu"
"Oke, ayo turun kita sudah sampai" ajak Ello setelah memarkirkan mobil disebuah Cafe ternama dikota ini.
__ADS_1
Aku membuka pintu dan segera turun dilanjutkan dengan Ello. Setelah mengunci pintu, kami berdua langsung memasuki cafe tersebut.
"Selamat siang, bisa saya bantu?" tawar seorang waitress didepan pintu.
"Bisa antarkan kami ke meja Bapak Kevin?" ucap Ello.
"Baik, Pak. Silahkan ikuti saya" Waitress tadi berjalan didepan dan kami mengikutinya. "Silahkan, Pak. Ini mejanya. Mau pesan sekarang apa nunggu Bapak Kevin datang?"
"Nanti saja pesannya dan terima kasih" Ello tidak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuan seseorang.
"Sama-sama, Pak. Saya tinggal dulu" pamit Waitress tersebut.
Sepeninggal Waitress tersebut, kami berdua duduk bersampingan. Sekitar lima menit dari kedatangan kami, seseorang duduk didepan kami.
"Maafkan keterlambatan saya, Ello. Pesawatnya delay" kata laki-laki itu dan dia memperhatikanku.
"Perkenalkan ini adikku, Vin. Sese"
Kevin segera menjulurkan tangannya untuk mengajak berkenalan denganku. Aku meresponnya.
"Kevin" ujarnya
'Sese"
Agak sedikit lama kami menjabat tangan , tidak seperti pada umumnya.
"Maaf" ucapku untuk menyadarkan lamunannya.
"Sorry..sorry" dia pun langsung melepaskan tangannya. Ello memperhatikan kami berdua
__ADS_1