Dia Terbaik

Dia Terbaik
Bab 83


__ADS_3

Sudah dua minggu sejak kejadian aku keguguran. Aku dan Alfa sudah kembali seperti biasa. Alfa menjelaskan semua kejadian yang berlalu dari pertama kali bertemu dengan Claire. Rasa cemburuku sudah mulai berkurang.


"Sayang, jangan lupa malam ini kita diundang perjamuan. Nanti kujemput setelah pulang kuliah" sebuah pesan muncul dilayar handphoneku. Aku tersenyum, Baru beberapa jam tidak bertemu sudah kangen saja.


Malam ini, Kami berdua diundang perjamuan Keluarga Gunawan. Kebetulan perjamuannya di hotel milik Alfa. Aku sudah memesan satu kamar, biar kami menginap. Besok juga libur.


"Baik, Sayang" balasku.


Pukul satu siang, kuliah berakhir. Aku segera membereskan segala peralatan yang ada di meja.


"Makan bareng yuk" Ajak Dimas setelah berhasil duduk disampingku.


Aku menoleh dan memukul bahunya "Kagetin aja kamu"


Dia hanya menyengir. "Bisakan?"


"Maaf, dimas. Hari ini aku sudah janji makan bareng Alfa. Malam ada undangan"ucapku meminta maaf


"Ah, ga seru. Aku makan sama siapa dong" ucapnya sambil menaruh tangan dibawah kepala.


"Pacarmu mana?" tanyaku


"Hari ini, dia juga ada janji sama keluarganya mau datang ke acara sepertimu, Se."


"Kamu tidak diundang?"

__ADS_1


"Diundang tapi kami laki-laki kan tidak perlu berdandan lama-lama. Pakai celana, kemeja, sepatu dan parfum sudah beres. Ga seperti kaum wanita, lama sekali" cerocos Dimas


Aku hanya tertawa mendengar penuturan Dimas. Handphoneku berdering.


"Sayang, kuliahmu belum selesai? Kakak sudah didepan." begitu bunyi pesan yang baru masuk.


"Sudah, Kak. Sebentar Sese keluar" balasku


"Mas, Aku duluan ya. Alfa sudah didepan. Atau kamu mau makan bareng kami?" tanyaku sedikit merasa bersalah pada sahabatku satu ini.


"Kamu pengen aku ditelan Alfa karena mengganggu lunch kalian." ucapnya


"Ha.. ha.. ha.. Ya kalau kamu mau"


"Sudah sana pergi, biarkan aku makan sendiri" katanya dengan nada yang dibuat-buat sedih.


***


"Sudah lama, Kak?" Kataku setelah berhasil duduk disamping Alfa.


Cup. Bibir Alfa sudah mendarat dibibirku. Padahal masih diparkiran kampus tapi Alfa berani saja menciumku


"Kak, ini masih dikampus" kataku


Dia tersenyum "Baru beberapa jam gak ketemu sudah kangen aja. Apa kamu tidak tertarik dengan tawaranku, sayang?"

__ADS_1


"Sayang, kita kan sudah bahas. Setelah aku lulus, aku akan kerja di perusahaan Papa. Kalau kangen kan bisa datang" ucapku dengan tersenyum. Alfa memintaku setelah lulus bekerja diperusahaannya agar dia bisa melihatku setiap saat. Berangkat dan pulang bareng.


"Ah, aku masih ditolak" katanya dengan nada sedih.


Laki-laki hari ini pada kenapa ya, kok barengan sedihnya.


"Kita jadi makan?" tanyaku mengalihkan perubahaan raut wajahnya.


Dia mengangguk.


Setelah makan, kami kembali ke rumah untuk bersiap-siap. Waktu sudah menunjukkan jam enam sore.


"Makin cantik" kata Alfa tepat ditelingaku setelah dia mandi.


"Apaan sech" ucapku geli. Bagaimana tidak geli kalau digoda di area sensitif.


Alfa membalikkan kursiku. Dia mengecup bibirku dan mulai memainkan lidahnya didalam sana. Aku mengikuti permainan bibirnya. Ciuman yang tadinya pelan berubah menjadi ciuman yang penuh nafsu. Nafasku mulai tersengal-sengal


"Sayang, belum bisakah?" tanyanya dengan mata yang sayu ketika bibir kami terlepas. Setelah keguguran, kami belum pernah melakukan hubungan suami-istri.


Aku memegang wajahnya. "Maaf, ya" hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan.


"Baik, kakak akan bersabar menunggumu" dikecupnya keningku. Ada rasa bersalah yang terlintas dibenakku.


"Sabar ya, Kak" ucapku dalam hati sambil melihat dia berganti pakaian.

__ADS_1


***


***


__ADS_2