
Jarum jam berputar seperti biasa namun aku merasa berputar lebih cepat.
"Sese, sudah siap?" Kata Mama
"Ma, Aku deg-degan." ucapku pelan tapi terdengar oleh Mama
"Ga papa, Sebentar lagi akan hilang dengan sendirinya. Percaya dech" Kata Mama menguatkanku.
Sesampainya diballroom, janji pernikahan antara Alfa dan Papaku sudah terucap. Aku berjalan perlahan menuju tempat pelaminan dimana sudah ada Alfa menungguku.
Aku tidak berani menatapnya. Malu itu yang aku rasakan.
"Awas jatuh kalau jalanmu tetap menunduk begitu" ucap Alfa mengejekku setelah aku dekat dengannya.
Kuhela nafas dan kuberanikan menatap wajah suamiku. Hari ini dia terlihat berbeda, ini yang dinamakan aura kebahagiaan.
"Nanti malam saja menatap wajah ganteng suamimu. Sekarang fokus menjamu tamu" ledeknya
"Siapa yang ngelihatiin kamu. Pede" ucapku membela diri
Alfa malah tertawa. "Cantik" ucapnya ditelingaku
Wajahku memerah seperti tomat. Malu. Alfa menyebalkan.
Sudah berjam-jam kami berdua berdiri disini, duduk berdiri duduk berdiri lagi untuk menerima tamu yang memberi selamat. Alfa banyak menggangguku dan sering kali dia mendapat cubitan kecil dipinggangnya.
"Sakit, Se. Baru juga jadi suami dah Kdrt aja kamu" ucapnya
"Kakak yang dari tadi ganggu mulu" kataku sambil memanyunkan bibir
__ADS_1
"Biar kamu ga suntuk. Itu bibir dimanyun-manyunin pengen dicium. Tunggu sebentar lagi juga kita bermesraan" Katanya sambil tersenyum
Astaga, benar-benar Alfa.
"Tau ah"
Ha..ha..ha..
"Kalian berdua bisa ga kelahinya nanti dikamar aja. Ini masih banyak undangan malah ribut aja" Kata Ello
"Ini Kak Alfa ganggu mulu" Kataku
"Kok masih manggil Kakak sih, Se. Alfa dah jadi suamimu loch. Panggil Ayang kah, Abang kah, Mas juga bisa" goda Ello.
"Mas aja, Se. Lebih enak didengar" jawab Alfa ikut nimbrung.
Mereka malah tertawa kompak.
***
Tidak terasa acara selesai, masih ada beberapa tamu yang masih berada diballroom hotel. Para kolega Papaku dan Papa Alfa. Apalagi kalau tidak membahas bisnis mereka.
"Mas Alfa, Mbak Sese. Ayo kita ganti baju" Kata Mina mengajak kami.
Alfa menggandeng tanganku kembali ke kamar.
Sesampainya dikamar, Mina membantu melepaskan segala pernak-pernik dirambutku.
"Mbak Sese, mau dibantu buka gaunnya?" tanya Mina
__ADS_1
"Ga usah, Mbak. Biar saya saja yang bantu Sese buka" ucap Alfa
Aku menoleh. "Gawat, apa yang mau dilakukan Alfa." ucap batinku
"Baiklah, Mas Alfa. Kalau begitu saya tinggal ya"
"Iya, Mbak. Terima kasih ya"
Mbak mina sudah keluar dari kamar. Alfa mendekat ke arahku. Jantungku deg-degan tidak karuan. Alfa semakin dekat.
"Kamu kenapa, Se? Kamu sakit? " tanya Alfa heran melihat kakiku gemetaran.
"Bisa nanti malam saja kita melakukannya? masih banyak tamu dibawah" ucapku ragu-ragu
Alfa tertawa terbahak-bahak. "Aku hanya mau membantumu membuka gaun, Se. Bukan memakanmu. Ternyata kamu sudah tidak tahan untuk disentuhku ya" goda Alfa menyentuh bibirku dengan tangannya. Hari ini entah sudah berapa kali dia memggangguku.
"Alfaaaaaaaa" teriakku sambil menghempaskan tangannya.
Aku langsung pergi ke kamar mandi. Kesal dan malu
"Ga jadi dibantuin buka, Se? Bisa sedikit meraba-rabalah"
"Gak" jawabku sambil membanting pintu.
Alfa tertawa.
Aku membuka gaunku sendiri dengan sedikit kesusahan. Malas meminta tolong sama Alfa, bukan menolong tapi yang ada bikin kesal.
***
__ADS_1