
Alfa Pov
Setelah meninggalkan Sese, aku kembali ke acara perjamuan. Tapi sekarang aku merasa sepi. Beberapa mengajakku untuk mengobrol sambil menawarkan minuman beralkohol.
"Halo, Kak Alfa. Kok sudah sendirian, kemana istri ya?" tanya wanita yang berada disampingku.
"Dia lelah, lid jadi balik ke kamar?" kataku
"Owh, wanita lemah" ucap Lidya. Aku yang mendengarnya ingin sekali memarahinya namun aku tidak ingin membuat perkara di acara orangtua Lidya.
"Kak Alfa, Lidya bisa memberikan apapun yang Kak Alfa mau?" bisik lidya ditelingaku. Nada yang begitu menggoda.
Aku menarik nafasku. "Maaf, Lid" ucapku sambil sedikit menjauh
"Apa baiknya wanita itu sampai Kak Alfa menolakku? Masalah cantik aku tidak jauh beda. Dia sudah membunuh anak kalian, Kak. Kenapa Kak Alfa masih bertahan dengan dia?" ucap Lidya dengan wajah yang memerah
"Maaf Lidya, dia satu-satunya wanita yang ada dihatiku" kataku lalu pergi meninggalkan dia yang terlihat marah. Aku menjambak rambutku sedikit kasar.
Aku melihat jamku, baru setengah jam aku meninggalkan Sese dikamar hotel. Rasa bosan menghantuiku.
Kuambil handphone yang berada disaku celana dan mencari nama istriku.
"Halo, Kak" Jawab Sese.
__ADS_1
"Halo, sayang. Kakak sudah kangen padahal belum ada sejam berpisah" ucapku dengan nada sedih dan terdengar Sese tertawa.
"Kak, malam ini mau menyentuhku?" katanya disebrang sana.
"Kamu sudah yakin, sayang?" tanyaku. Sudah hampir dua minggu kami tidak melakukan hubungan suami istri. Aku menghargai keputusan Sese.
"Iya, Kak" ucapnya. Aku yang mendengar jawabanya tiba-tiba tersenyum, akhirnya hari ini datang juga.
"Oke, nanti Kakak kesana ya. Kakak izin dulu dengan Pak Gunawan" kataku
"Iya, Sese tunggu disini" katanya dengan malu-malu.
Aku bergegas mencari Pak Gunawan disekitar ruang acara. Namun, tidak juga kutemukan. "Kemana lagi, Pak Gunawan ini" gerutuku didalam hati.
"Minum dulu, Pa" ucap pelayan laki-laki lewat didepanku sambil menyodorkan segelas air putih.
"Terima kasih" kataku. Kuteguk dengan cepat minuman itu sampai habis. Namun, ada sebuah reaksi yang tidak biasa muncul didalam tubuhku. Rasa panas.
"Brengs*k, siapa yang ingin mengerjaiku" kataku sambil melihat gelas yang sudah kosong. Aku melonggarkan dasiku untuk membuat rasa panas didalam tubuh sedikit berkurang.
"Aku harus segera menemui Sese" kataku lagi. Namun, baru beberapa langka sosok Lidya menghampiriku dengan senyuman.
"Aku bisa bantu melepaskan hasratmu, Kak" katanya menggodaku dengan tangan nakalnya yang sudah menyentuh dadaku.
__ADS_1
"Lepaskan, ternyata kamu pelakunya" ucapku dengan sedikit emosi. Rasa panas kembali datang, aku harus segera mengusir ular ini.
"Istrimu tidak akan bisa membantumu, Kak. Hanya aku yang bisa membantumu sekarang ini. Aku akan membawamu pada kenikmatan yang tidak kamu temui pada wanita itu"
"Wanita itu? Jaga sikapmu, Lid. Yang kamu sebut "wanita itu" lebih berakhlak daripada dirimu. Lihat saja pakaianmu, istriku tidak pernah menggoda laki-laki tidak seperti dirimu yang mempertontonkan segala lekuk tubuhmu" Kataku dengan tajam, aku sudah tidak mau tahu anak siapa Lidya ini, aku harus segera pergi dari sini. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Kamu?" hampir saja Lidya menamparku kalau tidak tangannya ditahan Pak Gunawan.
"Lidya, apa yang kamu lakukan?" teriak Pak Gunawan ditengah acara.
"Pak Gunawan, masalah bisnis kita mungkin akan saya fikirkan kembali. Saya sudah harus pergi" kataku memecah kekacauan ini
"Ada apa ini, Pak Alfa. Bukankah Pak Alfa sudah setuju?" tanya Pak Gunawan.
"Bapak bisa tanyakan kepada Lidya, apa yang sudah dia lakukan. Saya permisi dulu" ucapku sambil pergi. Terdengar suara Pak Gunawan berteriak kepada Lidya. Aku tidak mau tahu. Aku harus segera bertemu Sese untuk membantuku mengatasi rasa panas ini.
"Kak" kata Sese dengan senyuman setelah aku membunyikan bel dan dia membuka pintu.
Aku menerobos masuk ke dalam kamar dan langsung meraup bibirnya dengan rakus.
"Ada apa?" tanya Sese.
***
__ADS_1