
Didalam kamar aku hanya bisa menangis mengingat apa yang telah dilakukan Alfa terhadapku. Apa yang harus aku lakukan sekarang!!
Ponselku kembali berdering, bukan nama Alfa yang muncul di layar tapi "Ello".
Aku masih malas mengangkat. Entah ada berapa missed call dan pesan yang terlewat. Kubanting handphoneku ke tempat tidur.
Puzzle-puzzle cerita kami berdua terlintas jelas dikepala. Sedih, sakit hati, dan kecewa menjadi satu.
"Kenapa kamu tega, Kak" kataku dalam hati.
***
Alfa Pov
Setelah kehilangan jejak Sese didepan apartemen. Aku kembali ke atas, ke lantai dimana ada kamarku.
Kulihat Claire sudah rapi. Kucari handphoneku dan kutekan nomor Sese. Berulang kali tetap sama tidak ada jawaban.
Kupantau maps terakhir dan titik keberadaannya di daerah aparteman ini.
"Sialan" teriakku.
Aku keluar dari kamar dan kudatangin Claire yang sedang duduk santai di ruang tamu.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi, Cla? Kenapa kamu bisa ada dikamarku?" bentakku kepadanya. Dia kaget namun masih bisa menguasai keadaan.
"Semalam kamu mabuk, Fa. Aku tidak tega meninggalkanmu jadi aku mengantar kamu pulang dan karena sudah malam jadi aku menginap disini" kata dia menjelaskan.
"Astaga, bisa gila aku. Kenapa kamu harus tidur disampingku, Cla? Kamu seharusnya tidak usah mengantarku biar aku tidur dikantor saja" kataku masih menahan emosi.
"Apa kamu tidak tahu dan tidak merasakan apa yang selama ini aku lakukan, Fa? Aku mencintaimu. Kenapa kamu meninggalkanku dan menikah dengan orang lain" ucap Claire.
Aku kaget dengan perkataan cinta yang keluar dari Claire. Ternyata kebaikannya selama ini bukan karena pertemanan masa kecil namun karena dia mencintaiku.
"Sekarang atas perbuatanmu, aku kehilangan istriku, Cla. Aku selama ini hanya menganggap kamu teman tidak lebih dari itu. Tolong segera kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini"
"Fa, aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau istrimu akan datang. Aku tahu aku salah. Aku bersedia menjadi istri keduamu" ucap Claire.
"Alfa" lirihnya.
Aku pergi meninggalkan dia dan segera masuk ke kamar. Aku menghela nafas kasar dan menjambak rambutku.
"Maafkan aku, Se" kataku sembari mengingat wajah Sese yang menangis.
Kucoba menghubungi tetap sama tidak ada jawaban.
"Se, tolong angkat teleponku. Aku akan menjelaskan semuanya. Aku tidak pernah mengkhianati pernikahan kita. Apa yang kamu lihat hanya kesalahpahaman." begitu bunyi pesan yang kukirim ke nomor Sese.
__ADS_1
Kudengar pintu terbuka dan langsung tertutup, kurasa Claire sudah pergi dari rumahku. Aku berdiri dan segera mandi, semoga saja setelah mandi ada balasan dari Sese.
Namun, ternyata hampa. Tidak ada respon sama sekali dari Sese ketika aku mengecek handphone. Aku yakin Sese marah sekali.
Aku menelpon Ello untuk meminta bantuan. Ello awalnya marah mendengar ceritaku namun dia paham kalau aku juga korban disini.
"Oke, aku akan bantu, Fa. Tapi apapun keputusan Sese aku tidak bisa mengubah" kata Ello
"Iya, Lo. Makasih banget sudah sering aku repotin"
"Sudah biasa" Dia tertawa.
Setelah sambungan telepon kami terputus, aku menghubungi Aris untuk meminta bantuan mencari Sese.
"Tolong cari Sese disegala hotel atau penginapan di kota ini" Kata ku memberi perintah.
"Baik, Pa. Akan saya lakukan" jawabnya.
Aku yakin Sese tidak akan mungkin langsung balik pulang mengingat keadaan dia yang sedang hamil muda. Dia tidak akan mengambil resiko menyakiti anak yang sedang dikandungnya.
"Aku akan menemukanmu dimana kamu berada, Se"
***
__ADS_1