Dia Terbaik

Dia Terbaik
Bab 69


__ADS_3

Aku dan Aris memasuki sebuah restoran yang sudah dipesan. Ada seorang wanita dan laki-laki yang sudah menunggu kami berdua.


"Selamat pagi, maaf sudah membuat kalian menunggu" kataku


"Halo, Fa." Sapa seorang wanita berdiri menghadapku.


Aku mengkerut. Wanita itu tertawa pelan.


"Aku claire, teman masa kecilmu. Masa kamu ga ingat? Aku aja masih ingat kamu, Fa" jawabnya melihat kebingunganku.


"Claire wibowo?" tanyaku.


Dia mengangguk.


"Apa kabar?" dia mengulurkan tangannya dan aku membalasnya "Baik, cla. Kamu gimana"


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Tidak menyangka ya kita jadi partner bisnis. Kenalkan ini Miki, Sekretaris aku". kata Claire


Aku memperkenalkan diri dan juga Aris sebagai sekretarisku.


Kami mulai membahas segala bisnis yang akan kami jalanin di negara ini. Claire dan sekretarisnya setuju dengan segala rencana yang perusahaan kami tawarkan.


Ya, claire dulu sebelum pindah keluar negeri adalah teman dekatku. Kami kemana-mana selalu berdua karena dia tepat berada disebelah rumahku. Setelah beberapa tahun berlalu kami hilang kontak. Tidak ada yang tahu kabar masing-masing.


Sekarang kami berbincang seperti seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Masalah bisnis akan dibahas lagi dipertemuan selanjutnya.


"Jadi kamu sudah nikah dan istrimu sedang hamil?" tanyanya kaget ketika aku menceritakan tentang Sese. Sekretaris yang menemani kami sudah kembali ke kantor masing-masing.


"Iya, akhir tahun lalu kami menikah" kataku bahagia.


"Waa, Selamat ya. Sudah tidak ada celah buat aku" kata claire.


"Ha? maksudnya apa?"


"Bercanda, Fa". Dia tertawa. Untuk asmara, claire belum berniat pacaran katanya ada laki-laki yang dia tunggu.

__ADS_1


Kami mengobrol beberapa jam lamanya. Setelah makan siang, kami berpisah.


"Nanti aku hubungin ya untuk pertemuan selanjutnya" kataku setelah mendapatkan nomor telepon claire.


"Baik, Fa. Aku tunggu"


***


Hari sudah malam ketika aku sampai di apartemen yang aku sewa selama satu bulan ini. Kulihat jam, Sese pasti sudah tidur.


Aku belum menceritakan tentang Claire, teman masa kecilku kepada Sese ketika kami tadi video call.


"Sudahlah, nanti saja kalau sudah santai aku akan memberitahunya"


Aku segera pergi mandi dan tidur.


***


Sese Pov


Kehamilan ini membuatku bermalas-malasan. Sama halnya seperti ibu-ibu hamil lainnya setiap pagi aku menambah rutinitas ke kamar mandi apalagi kalau bukan mual.


Alfa sudah kurang lebih seminggu berada di prancis. Hari ini aku berencana untuk ke dokter kandungan.


"Pagi, Ma" kataku menyapa Mama mertuaku di dapur.


"Halo, sayang. Jadi kamu ke dokter hari ini?"


"Jadi, Ma" balasku.


"Apa perlu Mama temanin, Sayang?"


"Tidak usah, Ma. Aku bisa pergi sendiri kok"


"Ya udah, hati-hati ya." dikecupnya keningku ketika aku berpamitan.

__ADS_1


***


Aku sudah duduk dikursi tunggu. Banyak pasangan yang juga ikut menunggu. Rata-rata bareng suaminya kecuali aku.


"Huft, sabar ya sayang hari ini kita berdua saja kontrolnya. Semoga bulan depan papa bisa nemanin" kataku dalam hati mengelus perut.


"Sendiri saja, mbak? kemana suaminya? biasanya kalau masih muda semangat nemeninnya" sapa seorang ibu disebelahku. Waa, ini mulai julid.


"Iya bu. Kebetulan suami saya lagi ke prancis ada urusan kerjaan" jawabku kesal. Ini ibu pasti mau mengira-ngira saya hamil diluar nikah dah.


"Alah pasti bohong dah ga mau ngaku. Masih muda masa suaminya ga mau nemanin periksa" kata si ibu bercerita ke teman sebelahnya.


Aku hanya mengelus dada "Sabar".


"Sese" tegur om rio melihatku di ruang tunggu


"Halo, om" sapaku


"Sendirian? Alfa masih di prancis?" tanya Om Rio


Terdengar suara ibu disampingku bergosip "Alfa keponakan dr Rio kan yang jadi direktur perusahaan papanya kan. Mana ganteng banget orangnya. Itu berarti istrinya, Bu. Benar saja dia sendiri kalau Alfa di Prancis"


"Matilah aku sudah ngatain mbanya ga benar" ucap ibu yang mengajakku bicara.


Aku yang mendengar hanya menyunggingkan senyum sekilas. "Makanya mulut dijaga"


"Iya Om, Masih di Prancis" jawabku .


"Ibu Sherlina, silahkan masuk". Aku mendengar seorang perawat memanggilku.


"Sana, Se. Dah dipanggil. Om juga mau praktek. Hati-hati ya kalau pulang" kata Om Rio


"Baik, Om. Terima kasih"


Aku berjalan melewati dua ibu yang baru saja bergosip tentangku. "Permisi, saya duluan ya, bu"

__ADS_1


Aku segera masuk ke ruang praktek dokter kandunganku, dr dewi.


***


__ADS_2