Dia Terbaik

Dia Terbaik
Rencana Ello Part 2


__ADS_3

Malam pun tiba dan kami baru saja selesai makan. Kulihat dari tadi Kak Ello gusar. Ya, bukan hal mudah juga sech untuk meminta izin. Walau umur baru mau nenuju dua puluh lima tahun tapi untuk tingkat kedewasaan, dia sudah dewasa.


"Lo, tumben malam minggu ada dirumah?" tanya papa


"Eh, anu pa". Kalianpun akan sama melihat tingkat Ello yang kebingungan. Kupegang tangan kakakku satu-satunya itu dan kuanggukan kepala.


"Kalian kenapa? Ada masalah?" mamapun ikut nimbrung


"Pa. Ma. Ello mau nikah. Apakah sudah boleh?" ucap Kak Ello akhirnya


Papa dan mama saling melirik dan tertawa.


"Jadi kamu dari tadi gusar tidak jelas itu mau ngomong ini, Lo" Ucap papa


Ello hanya mengangguk kepala menatap papa.


"Papa sama mama tidak pernah mempermasalahkan pernikahan. Jika kalian sudah siap dan yakin. Papa dan mama setuju. Hanya pinta kami, jangan jadikan pernikahan mainan. Apapun masalah nanti hadapi berdua." nasehat papa dan dianggukin kepala mama


"Jadi ello diizinin ini pa?" kulihat dia mulai sumringah.


Papa dan mama menganggukkan kepala.


"Alhamdulillah. Kufikir akan dilarang. Aku mau nikah, Se. Terima kasih" Peluk dia kepadaku.


(***)


Alfa Pov


Malam ini malam minggu dan entah malam keberapa aku selalu seperti ini. Sibuk dengan buku atau handphone.

__ADS_1


Sebenarnya banyak yang mengajak untuk menjalin suatu hubungan. Tapi entah kenapa hati tidak bisa berpindah ke lain.


Pernah mencoba tapi daripada dipaksa, hanya menyakiti orang lain dan diri sendiri lebih baik diakhiri. Itupun cuma seminggu. Ah, tiba-tiba kangen Sese.


Bisa dipastikan dia sedang telponan dengan pacarnya. Kapan kah dia putus? Mungkin ini doa yang tidak baik dan jangan kalian ikuti


drrt.. drrt.


Tiba-tiba handphone berbunyi membuyarkan lamunanku. Kulihat Ello menelpon


"Ada apa? Tumben malam minggu nelpon?" Kataku


"Heheheh, lagi ga jalan aku. Kamu gak kesini kah?"


"Weh, ada apa gerangan ini orang ga pergi pacaran?"


"Sudah mumpung aku disini sekalian ngapelin Sese" Ketawa Ello


"Nah gitu donk. Kutunggu ditaman ya"


"Oke"


Setelah telepon dimatikan, segera kuganti baju dan berpamitan ke papa dan mama yang ada diruang tamu.


"Mau kemana, Fa. Ini sudah malam?" tanya mama


"Ke rumah Ello, Ma sekalian mantau Sese." cengirku


"Tumben malam minggu ke luar dari sarangnya"

__ADS_1


Akupun cuma tertawa.


Sesampainya dirumah Ello, aku memencet bel dan dibukain pintu oleh anak bibi rumi. Kuberi salam ke papa dan mama ello dan segera kumenuju taman


Disana sudah ada Ello dan Sese. Seperti biasa, Sese mengenakan celana selutut dan kaos dengan rambut diurai berbandana.


"Malam" Kataku


Dan mereka berdua menoleh bersamaan. Sudah kupastikan, mereka tidak menyadari kedatanganku.


"Hi, bro. Sini" kata Ello sambil menarik kursi disamping Sese. Kebetulan tempat duduknya melingkar jadi aku berada ditengah-tengah mereka.


Segera kulangkahkan kaki menuju area yang ditunjuk Ello.


"Hai, Se. Apa kabar?" tanyaku


"Baik, Kak. Gimana?? Kok disini ga pergi malming?" ketika Sese nanya begitu, Ello kulihat ngerecokin rambut sese


"Apaan, kenapa rambutku diacak?"


"Kamu ini gak sopan nanyanya. Alfa kesini mau ngapelin kamu malah ditanya begitu." Jawab Ello


"Iyakah? ah tau aja kalo aq kesepian" tawanya


"Iya ini" Kataku kikuk. Tapi kuyakin Sese hanya menganggap candaan.


"Tadi kakak yang menyuruh Alfa kesini. Dia kan jomblo pasti kesepian dikamar dengan buku-bukunya"


"Enak aja" kataku sambil jitak kepalanya

__ADS_1


Lanjut dibab selanjutnya ya


__ADS_2