
Sese Pov
Sebuah kata "Keguguran" membuat segala duniaku runtuh. Harapan dan impian tiba-tiba sirna. Dia, yang aku jaga beberapa minggu ini menghilang tanpa berpamitan. Hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipiku. Rasa bersalah menghimpit relung jantung.
Setelah telepon dari Claire membuatku mendadak pusing. Ketika kulihat kebawah sudah mengalir darah segar dari kakiku. Segera kuambil tas dan turun ke bawah. Kebetulan ada taxi yang baru saja menurunkan penumpang.
"Pa, bisa antarkan saya ke rumah sakit" kataku kepada supir taxi.
"Baik, Non. Ayo masuk" Supir tersebut juga kaget melihat keadaanku. Dia menjalankan mobilnya dengan terburu-buru. "Non, masih kuat?" tanyanya.
"Masih, Pa" jawabku dengan nafas yang sudah mulai tidak teratur.
Sesampainya dirumah sakit, kulihat supir taxi tersebut sudah memanggil perawat. Aku mengambil dompetku dan mengeluarkan beberapa lembar uang untuk dikasih ke Pak Supir
"Mari, Non" ujar supir taxi membukakan pintu dan aku langsung tidur di ranjang rumah sakit.
"Makasih ya, Pa. Ini uangnya" kataku.
"Banyak banget, Non" ucap Pak Supir setelah melihat uang yang aku kasih.
"Tolong diterima ya, Pa" kataku.
"Baik, Non. Terima kasih banyak" ucapnya sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
Aku tersenyum.
Didalam ruangan, ada dokter Tika yang sudah menunggu.
"Bu Sese, ada apa ini?" tanyanya.
Aku hanya menggeleng sudah tidak ada tenaga buat menjawab. Kulihat dokter tika memeriksa dan terdengar samar-samar bahwa aku akan dikuret. Sebuah suntikan membuatku mati rasa. Kelopak mataku pun sudah tak kuasa menahan rasa kantuk. Akupun tertidur.
Suara yang tidak asing terdengar sangat dekat. Bukankah dia masih diluar negeri? Kenapa sudah disini. Kubuka mataku ternyata sosok yang saat ini kubenci namun kurindukan sedang berbicara dengan dokter Tika.
Entah apa yang mereka bicarakan. Alfa membuka pintu dan tak berapa lama dia masuk kembali.
"Se" sapanya.
"Bagaimana anak kita?" tanyaku langsung.
Otakku blank dan aku tidak tahu harus apalagi. Yang kufikirkan kenapa aku lagi yang mengalaminya. Aku tidak membalas pelukan Alfa tapi air mataku menetes perlahan dan jatuh dipundak Alfa.
"Aku mau pulang" kataku.
***
Aku segera masuk ke kamar setelah sampai dirumah. Kutinggalkan Alfa dibelakang, aku sudah tidak pedui. Hanya ingin menyendiri.
__ADS_1
Dikamar ini, ada foto usg terbingkai cantik diatas meja. Aku mengambil dan menyentuhnya.
"Maafkan, Mama" ucapku dengan lirih. Air mata mengalir deras melewati pipi, jatuh mengenai foto.
Aku mengusap dengan perlahan. Ku taruh foto ke dalam dekapan dadaku dan perlahan aku tertidur.
***
Aku membuka mata perlahan karena perutku lapar.
"Sudah jam berapa ini?" ucap batinku. Kuingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Dalam ingatanku, aku tidur dilantai kenapa sekarang ada ditempat tidur. Aku menengok ke samping, ada Alfa.
Kupandangin dia yang sedang tertidur. Ada perubahan yang terlihat jelas diwajahnya. Sepertinya dia kurusan dan dia tidak merawat wajahnya dengan baik. Terbukti dengan banyaknya bulu-bulu tumbuh di bawah hidungnya.
Tanganku sudah ingin menyentuhnya tapi segera kutarik kembali. Namun, gagal. Alfa sudah menarik tanganku dan menciumnya.
"Kenapa tidak jadi?" tanyanya dengan nada yang sedikit lelah.
"Ga papa" ucapku. Padahal aku kaget karena ketahuan
"Aku kangen kamu, Se. Sangat kangen" kata Alfa makin mendekat. Posisi kami tidur berhadap-hadapan. Tangan Alfa tepat dibawah kepalaku. Sepertinya aku tidur sambil memeluk Alfa. Sudah jadi kebiasaanku, tangan Alfa menjadi bantal.
"Boleh aku menciummu?" tanyanya tiba-tiba.
__ADS_1
***
***