Dia Terbaik

Dia Terbaik
Bab 72


__ADS_3

Sese Pov


Dua minggu berlalu dari percakapan kami tentang pencurian bahan baku, sampai hari ini perkembangan kasus belum mencapai titik akhir meski pelaku sudah ditangkap.


Hari ini, jadwalku kontrol ke dokter kandungan. Angan-angan ditemani Alfa buyar.


Namaku dipanggil selanjutnya, aku memasuki ruangan yang sudah aku datangin beberapa bulan ini.


"Pagi, bu Sese. Bagaimana kabarnya hari ini? Masih mual?" tanya dokter Tika menyapaku dengan senyumannya


"Pagi, dok. Alhamdulillah baik. Sudah mulai berkurang untuk masalah mualnya" jawabku


"Mari berbaring, Bu. Kita periksa dulu"


Aku mengikuti arahan dokter untuk berbaring di tempat tidur. Seorang perawat memberikan gel usg di perutku.


"Tunggu sebentar ya, bu" kata perawat tersebut kemudian posisi perawat tadi digantikan oleh dokter tika.


"Mari kita periksa" ucap dokter Tika menggerakan tranducer ke perutku yang dioles gel tadi. "Ini suara jantungnya ya bu."


Suara jantung terdengar mengisi ruangan.


"Alhamdulillah, janin Bu Sese dan Pa Alfa sampai saat ini sehat" kata dokter sambil mengelap gel yang masih tersisa di perut.


Aku membenarkan bajuku yang sudah bersih dan mengikuti dokter kembali ke kursi.

__ADS_1


"Dok, apa saya sudah boleh naik pesawat menyusul suami ke prancis?" tanyaku


"Untuk ukuran kehamilan sekarang masih rentan, Bu. Tapi jika ibu sanggup mengambil resiko nanti saya akan kasih obat penguat janin. Jangan duduk terlalu lama di pesawat ya, Bu." kata dokter memberi nasehat.


"Baik, dok. Jika ada apa-apa saya akan hubungin dokter" ucapku antusias mendengar perkataan dokter tika.


Dokter Tika menulis resep dan menyerahkannya kepadaku. "Terima kasih ya, dok"


"Sama-sama, bu. Semoga selamat sampai tujuan"


***


Pagi ini selang dari 2 hari aku kontrol, aku sudah dibandara diantar oleh keluargaku dan keluarga Alfa.


"Baik, Ma. Kalian semua sehat-sehat disini ya"


Sebuah suara memberi info jika seluruh penumpang pesawat tujuan prancis agar segera memasuki pesawat. Aku yang mendengar langsung memberi pelukan kepada semua orang yang mengantarku.


***


Alfa Pov


Hari ini sangat lelah, aku menghubungi Sese namun selalu ditolak. Hanya sebuah pesan yang dia kirim. Katanya dia lagi tidak enak badan.


"Tidak enak badan tapi ga mau ditelepon" gerutuku dikantor. Kulonggarkan sedikit dasi yang menyiksa leherku. Rasa panas dikepala membuat kesal.

__ADS_1


Sudah jam 7 malam, aku masih dikantor menyelesaikan segala urusan disini. Sekretarisku, Aris juga masih menemani.


"Pa Alfa mau minum dulu?" tanya Aris membawakan sebotol wine.


"Ah, mungkin sekali-kali ga masalah. Sese juga tidak tahu" ucapku dalam batin


"Boleh, Ris" kataku


Aris menuangkan segelas wine dan langsung memberiku. Aku meminumnya langsung, Entah sudah berapa gelas kami berdua minum. Aku yang baru mencoba langsung sedikit pusing tapi membuat segala masalah di kepala hilang.


"Permisi" suara seorang wanita mengetuk pintuku. Samar-samar kulihat claire datang. Habis itu aku tidak tahu apa-apa lagi.


***


Aku mengejapkan mata perlahan, entah sudah berapa jam aku tertidur. Matahari sudah menyinari jendela kaca apartemenku.


Ada sebuah tangan melingkar diperutku. Aku menoleh dan seperti petir disiang bolong. Claire, tidur disampingku. Aku mengecek keadaanku, masih menggunakan pakaian yang sama yang digunakan semalam hanya bagian kemeja yang terbuka.


"Claire" panggilku dan sebuah suara pintu kamar apartemenku terbuka menampilkan wanita yang selama ini kurindukan berdiri


Dia menutup mulutnya seakan tidak percaya apa yang baru saja dia lihat. Dengan air mata yang tepat dihadapanku menetes dari wajah putihnya. Dia hanya berlirih "Maaf".


Apa yang akan terjadi selanjutnya??


Next Chapter ya.. Jangan lupa likenya

__ADS_1


__ADS_2