
"Bagaimana istri saya, Dok" kataku.
"Mari bapak ikut saya ke dalam" ajak dokter tika dan aku mengikuti dia dari belakang.
Para keluarga menunggu diluar.
"Maaf, Pa Alfa. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin namun takdir berkata lain, Ibu Sese keguguran" kata dokter tika.
Bagai petir disiang bolong, hatiku kosong. Apalagi cobaan ini, belum selesai masalahku dengan Sese ada saja masalah yang datang.
"Pa Alfa" dokter tika memanggilku.
"Iya, dok"
"Ibu Sese masih tidur, Pa. Untuk keadaannya nanti saya serahkan ke Pa Alfa"
Aku hanya mengangguk. Entah apa yang akan aku lakukan nanti saja. Aku keluar memberitahu kedua orang tuaku dan Om Rio. Mamaku dan Mama Sese menangis.
Sayup-sayup terdengar suara mamaku "Sese, anakku sabar ya, sayang". Disamping mamaku ada mama Sese yang menenangin. Aku heran dengan mamaku yang lebih shock dibanding dengan Mama Sese.
Aku kembali masuk dan terlihat Sese sudah bangun.
"Se" sapaku dan dia menoleh.
"Bagaimana anak kita?" tanyanya langsung. Aku tidak kuasa untuk memberitahunya, air mataku turun dan kupeluk dia.
"Se, maaf. Dia sudah kembali ke Sang Pencipta" ucapku.
__ADS_1
Tidak terdengar tangisan tapi baju yang aku kenakan basah. Aku tahu hancurnya hati seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya. Kupeluk badannya yang sedikit kurusan. Semua ini salahku, aku yang membuat keadaan menjadi berat.
"Aku mau pulang" ucapnya.
Aku melepas pelukanku. "Kamu yakin?" kataku. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, Sepi. "Baiklah, Kakak akan panggil dokter dulu ya".
Aku berjalan keluar dan segera mencari dokter Tika, memberitahu keinginan istriku.
"Tapi, Pak Alfa. Ibu Sese masih belum sehat kembali harus dipantau." kata dokter Tika memberitahuku tentang keadaan Sese.
"Maaf, dok. Saya minta izinnya" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku. Aku tak ingin berdebat dengan dokter. Aku tahu apa yang sekarang ada di fikiran Sese.
"Baik, Pak Alfa. Tapi jika ada kemungkinan terjadi sesuatu tolong segera dibawa ke rumah sakit"
Aku mengangguk.
***
"Aku antar ke rumah mama ya" kataku. Namun sama seperti yang telah terlewati, lagi-lagi tak ada jawaban
"Huft, ya sudah" ucapku dalam hati.
Sesampainya dihalaman rumah keluarga Sese, Sese langsung membuka pintu mobil tanpa menungguku. Dia berjalan dengan cepat.
"Se" ucap Mama.
Kulihat Sese hanya mengangguk dan melewati Mama yang sedang berdiri didepan pintu rumah. Aku segera berjalan mengikuti jejak kaki Sese.
__ADS_1
"Ma, Alfa keatas dulu ya" kataku berpamitan pada Mama.
"Iya, Fa. Mama minta tolong dijaga Sese ya"
Aku sudah sampai didepan kamar Sese. Terdengar dari luar apa yang terjadi didalam kamar. Suara tangis seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya.
Aku terenyuh. Sakit. Kuurungkan niatku membuka pintu kamar. Aku kembali turun ke bawah membiarkan Sese menumpahkan segala kesedihannya.
"Ada apa, Fa?" tanya Mama melihatku turun.
"Tidak ada apa-apa, Ma. Hanya membiarkan Sese tenang" kataku memberi alasan. Untungnya Mama mengerti.
"Alfa, ayo makan. Kamu pasti belum makan kan sesampainya dari bandara?"
Aku sampai lupa jika hampir seharian aku belum ada menyentuh yang namanya "makanan". Rasa laparku terkalahkan oleh rasa bersalah.
Aku mengikuti Mama menuju ruang makan. Mama berniat mengambilkanku makan.
"Tidak usah, Ma. Biar Alfa saja yang mengambil" kataku menolak dengan halus..
"Baik, Fa. Kamu makan yang banyak ya. Mama istirahat dulu. Lelah sekali hari ini"
"Iya, Ma" kataku. Mama kembali ke kamarnya dan aku menyantap makanan yang sudah ada didepan mata. Benar, hari ini lelah sekali.
***
***
__ADS_1