
Aku menginjak pedal gas dengan kuat agak cepat sampai ke tempat alamat yang dikirim Rere. Bukan karena aku ada rasa dengannya tapi aku sebagai laki-laki yang dimintai tolong akan membantunya.
Tanpa menunggu lama sampailah aku disebuah bangunan bercat putih.
Terlihat biasa aja seperti tidak terjadi apa-apa. Aku meraih handphoneku dan menekan nomor Rere.
"Halo, Fa. Kamu dimana?" tanya suara diseberang. Hanya dalam hitungan satu kali dering sudah diangkat.
"Aku sudah didepan rumah yang kamu bilang"
"Kamu bisa kesini, Fa. Aku takut orang itu datang lagi" ucapnya dengan suara bergetar. Aku tidak tahu kalau itu hanya tipuan. Aku keluar dari mobil dan segera menuju pintu rumah tersebut.
Ting.. tung.. ting.. tung..
Kreet.. Suara pintu terbuka. Sebuah kepala keluar dan menyuruhku masuk.
"Kamu kenapa?" tanyaku
"Bisakah kamu masuk dulu, Fa. Aku akan jelaskan. Aku takut orang itu masih berada disini" ucap Rere memaksaku untuk masuk.
__ADS_1
"Apa dirumahmu tidak ada orang?" tanyaku. Aku tidak enak masuk ke rumah wanita yang masih lajang. Takut terjadi apa-apa.
Rere menggeleng. Aku cemas dan bingung.
"Bisakah kita hanya mengobrol diluar?" tanyaku lagi.
"Aku takut, Fa. Kalau kamu resah untuk masuk ke rumahku lebih baik tidak usah datang ke sini membantuku, Fa" ucapnya menyindirku.
Rasa bimbang menghantuiku. Haruskah aku tetap didepan pintu begini atau aku masuk duduk?
Rere tidak sabar dan menarik tanganku untuk segera masuk. Aku kaget. Dan alangkan lebih kagetnya ketika Rere didalam hanya mengenakan baju tidur tipis menampilkan molek tubuhnya.
"Re?" tanyaku agak meninggi. "Apa yang kamu perbuat?"
Aku menelan ludahku. Laki-laki mana yang tahan digoda oleh wanita yang hampir saja t*******g. Tubuhnya yang putih mulus menggodaku dengan dua gunung yang kenyal.
"Kamu membohongiku, Re?"
Rere diam membisu. Tidak menjawab pertanyaanku. Aku sudah tahu apa yang terjadi. Aku harus tahan, aku tidak mau menghianati wanita yang akan menjadi istriku nanti.
__ADS_1
"Alfa, apa kamu tidak tertarik dengan tubuhku ini?" goda Rere kembali setelah dia kembali sadar dengan tujuannya menyuruhku kesini.
"Aku tidak tertarik tubuh wanita manapun kecuali istriku nanti. Jangan coba-coba kamu mendekat, Re. Atau aku akan melaporkanmu" ancamku.
Rere semakin dekat dan akhirnya dia tepat didepanku. Aku mundur dan brakk aku malah jatuh di sofa. Rere bahagia melihatku dengan posisi itu. Dia tepat berada didepanku.
"Alfa aku mencintaimu. Aku ingin jadi wanitamu. Kenapa kamu tidak mencintaiku? Hanya dalam waktu seminggu kamu sudah mengakhiri hubungan kita. Apa tidak ada tempat untukku dihatimu? Siapa wanita itu?" teriak Rere. Sepertinya Rere mengetahui ada nama wanita yang selama ini bersemayam dihatiku.
Rere mendekatkan wajahnya dan hampir saja menciumku. Ini tidak boleh, aku tidak akan memberikan ciuman pertamaku untuk wanita seperti ini. Dengan berat hati, aku harus kejam dengan wanita ini.
Brakk.
Aku mendorong tubuh Rere dengan kasar. " Maafkan aku, Re. Kufikir kamu wanita baik-baik tapi. nyatanya kamu wanita seperti ini. Maaf hatiku sudah punya wanita lain yang lebih baik darimu." ucapku dengan sarkas
Rere menjerit dan berteriak histeris setelah aku mendorongnya. Apa yang dia buat ini salah. Tidak seharusnya dia memberikan tubuhnya kepada laki-laki yang bukan pasangannya.
Aku langsung buru-buru ke pintu dan segera membuka. Aku tidak mau lama-lama satu ruangan dengan wanita ini.
Huft.
__ADS_1
Aku menghela nafas setelah sampai dimobil. Kejadian hari ini benar-benar diluar dugaan, aku tertipu dan hampir saja keperjakaanku hilang ditangan wanita yang tidak aku cintai.
***