
Cepat-cepat kucari kontak Alfa.
Tut..tut..tut..
Telepon berdering namun belum diangkat. Rasa khawatir dan was-was menjadi satu. Kedua orang didepanku bingung.
"Halo, Se" kata Alfa
"Kak, tidak usah diperpanjang. Mafkan saja Elsa. Kasihan dia jika dikeluarkan dari kampus, hanya tinggal satu semester lagi" kataku panjang lebar tanpa memberi salam.
"Kamu tahu dari mana?"
"Tidak usah bertanya aku tahu dari mana, Kak. Sekarang lebih baik kakak cabut laporan kakak. Aku ga mau kakak jelek dimata mahasiswa yg lain" kataku
"Tapi, Se. Elsa sudah kelewatan, dia hampir mencelakaimu. Aku harus memberi dia hukuman, biar tidak mengulanginya lagi." Alfa masih saja keras kepala.
Aku menarik nafas perlahan. " Kak, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja sekarang. Apa yang dia lakukan karena dia menyukai kakak. Kasih dia satu kesempatan lagi. Boleh ya kak, aku mohon"
Terdengar alfa membuang nafasnya berat.
"Baiklah, aku akan memafkan dia seperti permintaanmu. Tapi kejadian ini terakhir kali. Jika terulang kembali aku minta kamu jangan menghalangiku"
"Oke, Kak. Terima kasih ya."
Setelah telepon berakhir, aku menceritakan semua kejadian kepada kedua orang tua yang sekarang menemaniku. Mereka sedikit menyesal dengan apa yang aku lakuin takut kejadian yang sama terulang lagi.
"Aku tidak apa-apa, Ma. Semua baik-baik saja. Sebentar lagi aku juga akan menikah. Ada Alfa yang selalu menemani" ucapku untuk meredakan kekhawatiran mereka.
__ADS_1
"Kamu janji ya, Se. Jangan sendirian kemana-mana. Mama takut" Kata Mamaku
"Iya, Ma. Sese Janji"
Jam makan siang telah tiba, kami bertiga makan di kamar rumah sakit. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, ternyata Kak Sinta datang berkunjung.
"Ayo, masuk Kak. Kita makan bareng" ajakku
"Iya, sini sinta. Ini Mama bawa makanan yang banyak. Sese bosan makanan disini" Kata Mama
Sinta masuk dan kami sekarang berempat makan bareng. Mama Alfa menceritakan masa kecil Alfa, Mamaku menceritakan masa kecilku, dan Kak Sinta menceritakan tentang keponakanku.
Tidak lupa mereka memberitahuku tentang "Malam pertama" nanti apa yang dilakukan.
Aku terkejut. "Nanti saja dibahasnya, masih lama"
"Kenapa bisa seperti itu" tanyaku
"Ntar kamu akan tahu sendiri" kata Sinta menggodaku. Sedangkan yang lain tertawa.
Aku hanya menghela nafas.
Jam sudah menunjukkan jam lima sore. Sinta sudah berpamitan karena Ello sudah menjemputnya.
"Kami pergi dulu ya, Se. Jangan dibayangin pembahasan yang tadi kita lakukan" ledek Sinta
"Kalian emang bahas apa?" tanya Ello penasaran
__ADS_1
"Mau tahu aja" Kata Sinta sambil pergi.
"Kepo" Kataku
"Oh, Kalian sudah berkerja sama ya. Awas aja" Ancam Ello.
Aku dan Sinta tertawa.
Sebentar lagi Alfa juga datang karena dia yang akan menemani di rumah sakit. Jadi, Mamaku dan Mama Alfa sudah bersiap-siap untuk pulang.
Benar saja tidak menunggu lama, seorang pria memasuki kamarku.
"Aku datang" ucapnya. "Gimana sudah enakkan?" tanya dia selanjutnya
"Sudah, kalau tidak ada masalah besok sudah boleh pulang" jawabku.
"Heem..heem. Yang disini jangan dicuekin dong. " ledek Mama Alfa.
"Ha..ha..ha..ha.. Lupa, Sese terlalu mengalihkan pandanganku" jawab Alfa seenaknya dan dipastikan dia mendapat cubitan kecil dipinggangnya dariku. Alfa pun segera menyapa kedua orang tua kami.
Mereka izin pamit karena suami-suami mereka sudah pada menuju ke rumah.
"Ingat jangan macam-macam dirumah sakit. " Kata Mamaku mengingatkan
"Tenang, Ma. Macam-macamnya nanti kalau sudah halal biar cepat dapat cucu" jawab Alfa.
Mereka pada tertawa sedangkan aku hanya tersipu malu. Pembahasan orang tua, susah ya. !!!
__ADS_1