Dia Terbaik

Dia Terbaik
Sebuah Jawaban


__ADS_3

Mobil berhenti di pusat kota. Alfa mengajakku turun setelah memarkirkan mobilnya. Mengajak mencari tempat duduk yang jauh dari keramaian.


Berhentilah kami setelah mendapati sebuah kursi kosong menghadap lapangan.


"Kita duduk disini aja, Se? Ada yang mau kamu beli?" tanya Alfa


"Ga, Kak." Aku menjawab dan langsung kurebahkan badanku.


Sunyi dan hening dalam waktu beberapa menit tidak ada suara dari Alfa. Hanya suara anak kecil bermain yang terdengar ditelingaku.


"Maf, Se. Bolehkah aku menagih jawabanmu?" ucapnya memecah keheningan.


"Sekarang Kak"


"Iya, Se. Aku tidak bisa menahan lagi untuk menunggu jawabanmu. Apapun keputusanmu aku hargai."


Aku menghela nafas.


"Aku tidak tahu perasaan apa yang kumiliki ke kakak. Perasaan menyukai kakak sebagai laki-laki atau perasaan menyukai kakak sebagai saudara seperti ke Ello. Tapi untuk mengetahui perasaan itu, aku harus mencobanya. Aku mau menjalin hubungan lebih dengan kakak" ucapku dengan muka yang panas.


Alfa tersenyum dan kulihat dia menarik sesuatu dari kantongnya.


"Apapun hasil jawabanmu. Aku ingin memberikanmu hadiah ini, Se"


Sebuah kalung liontin bertulisan namaku.


"Boleh aku memakaikannya?"


Aku mengangguk.


"Terima kasih"


Tepat hari ini, statusku hubunganku berubah bukan lagi "jomblo" tapi sudah "berpacaran". Kami tidak langsung pulang. Alfa mengajakku main sambil menunggu waktu makan malam.


"Boleh kupegang tanganmu?" tanyanya sebelum mendapat izin.

__ADS_1


"iya"


Kami pergi ke toko buku sambil berpegangan tangan. Inikah rasanya bertahun-tahun menunggu dan akhirnya datang juga. Seperti Alfa yang dari tadi terukir senyum diwajahnya.


Jatuh cinta membuat orang lupa.


"Kamu sudah lapar, Se?"


"Belum kak. Ga papa kalau kakak masih mencari buku aku temanin"


"Makasih ya"


"Dari tadi bilang makasih mulu, aku batalin ntar hubungan kita"


"Jangan dong." Sentil dia ke hidungku


Aku terkekeh.


"Alfa" Sebuah suara mengagetkan kami berdua. Kulihat seorang wanita berjalan mendekati kami.


"Gimana kabarmu, Fa? Lama banget kita tidak bertemu" ucapnya sambil mengajak jabat tangan.


"Baik. Perkenalkan ini pacarku, Sese" kata Alfa


Aku fikir Alfa akan lupa kehadiranku karena wanita cantik ini.


Sekilas kudengar mereka teman sewaktu kuliah. Basa -basi mereka membosankan untukku. Baru saja aq mau pergi tanganku sudah digenggam kembali oleh Alfa


"Kami permisi dulu ya, Cleo. "


"Oiy, Fa. Maf mengganggu waktu kalian. Ntar kalau ada reuni kelas datang ya"


"Baik, diusahakan"


Kami segera pergi menjauh keluar dari toko buku.

__ADS_1


"Bosan ya?"


"Sudah tahu masih juga ditanya"


Alfa mencolek hidungku dan tertawa.


"Tambah cantik kalau manyun" godanya.


"Apaan sech"


Kita sudah sampai disebuah restoran setelah memesan dan hidangan datang tanpa aba-aba kami sudah melahapnya.


Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Alfa mengantarku pulang. Besok kami masih harus mengurus acara Ello. Kebetulan Ello menikah di hotel milik Alfa.


Sebelum keluar dari mobil, tanganku ditahan. Alfa mendekat dan mencium keningku.


"Selamat malam dan istirahat, sayang"


"Selamat malam juga, Kak" ucapku dengan muka merona merah. Lekas-lekas kubuka pintu mobil, rasa malu sudah hampir meledak.


Setelah Alfa pergi, aku masuk ke rumah.


"Ada yang berseri, sepertinya berhasil" goda Ello mengagetkanku


Aku hanya cengengesan.


"Mana Mama sama Papa?"


"Sudah tidur. Katanya lelah"


Aku mendekat dan duduk disamping kakakku yang masih sibuk menonton film.


Tanpa terasa aku juga ikut nimbrung menonton sampai habis. Malam semakin larut. aku izin ke Ello kembali ke kamar.


***

__ADS_1


__ADS_2