Dia Terbaik

Dia Terbaik
Bab 42


__ADS_3

Sese Pov


Entah sudah berapa jam aku tertidur, badanku sakit. Mungkin akibat terbentur lantai. Kulihat Alfa duduk disampingku dengan mata terpejam sedangkan Ello tidur disofa.


Jam dikamar rumah sakit menunjukkan waktu sebelas malam. Dari kejadian tadi berarti aku sudah tertidur sekitar enam jam.


Aku menggerakkan tanganku dan tanpa sengaja menyentuh Alfa. Alfa yang menyadari aku terbangun ikut membuka mata.


"Kamu sudah bangun, Se? Ada yang sakit?" tanyanya tanpa mengerem. Aku bingung untuk menjawab antara mengangguk atau menggeleng.


Aku tertawa. "Aku baik-baik aja, Kak"


"Syukurlah., siapa mereka, Se. Yang membuat kamu jadi begini" ucap Alfa penuh kekhawatiran.


"Jika aku memberitahu apa kamu percaya denganku, Kak"


"Aku tidak pernah tidak mempercayaimu, Se. Apakah dia orang yang kukenal?"


Aku mengangguk. "Dia, Wanita yang pernah menyatakan cintanya ke kamu."


Alfa masih berfikir. "Apa masih banyak wanita yang lain yang pernah menyatakan cintanya sampai dia berfikir lama" ucapku dalam batin.


"Maf, Se. Aku tidak tahu yang mana" ucapnya nyengir.


"Ah, saking banyaknya wanita yang mengejarmu ya. " Sindirku.


Ello terbangun karena mendengar keributan kecil kami.


"Kamu sudah bangun, Se? Kenapa bisa seperti ini?" tanyanya.


"Karena Fans Alfa. Cinta ditolak otak menjadi gila" ucapku sembarangan.

__ADS_1


Plak. Sebuah pukulan mendarat dibahu Alfa. "Apa kubilang jangan baik sama wanita, beginikan jadinya adikku kena sasaran."


"Iya, Lo. Maaf" ucap Alfa.


"Sudah, Kak. Alfa ga salah."


"Kamu ini, Se. Alfa itu terlalu baik ga bisa kasar kalau berurusan sama wanita. Ntar jangan sedih ya kalau ada apa-apa" ucap Ello dengan kesal.


"Jadi, wanita mana yang mengganggumu, Se?" tanya Alfa sekali lagi.


"Wanita yang pernah menyatakan cintanya di kampus? Yang aku lihat pas sedang di Cafe" ucapku dengan jelas


Terlihat raut wajah Alfa yang sedang berfikir. Tiba-tiba dia berseru " Elsa?"


Aku mengangguk


"Bukankah dia menerima keputusanku. Kenapa dia berbuat begini." tanyanya


"Jadi, kamu sudah ingat siapa pelakunya, Fa?"


"Sudah, Lo"


"Terus apa yang akan kamu lakukan?"


"Tunggu aja perkembangannya, akan kubuat dia menyesali mengganggu calon istriku" ucap Alfa. Alfa kalau marah seram sekali.


*"*


Esok harinya, Alfa izin pergi ke kantor. Yang menemaniku Mama Alfa dan Mamaku.


Bukan menemani ini tapi malah membahas persiapan pernikahan kami.

__ADS_1


"Jadi kita pakai gaun ini ya, jeng" ucap Mama Alfa


"Boleh, mba. Tapi gaunnya yang tertutup. Alfa pasti nolak kalau sedikit terbuka. " jawab Mama


"Iya, benar itu. Alfa ga akan mau kalau wanita pakai yang terbuka. Untuk keluarga kita pakai warna yang senada ya. Setelah Sese keluar kita ukur baju". Mama Alfa benar-benar mengambil bagian yang terpenting. Katanya Alfa anak satu-satunya jadi dia harus ikut handil.


"Gimana, Se? Kamu setuju kan dengan rencana mama" tanya Mama Alfa kepadaku.


"Aku setuju aja, Ma. Kalian pasti ngasih yang terbaik kan" Kataku.


"Emang Sese ga pernah ngecewain Mama" Kata Mama Alfa sambil memelukku.


Tiba-tiba teleponku berdering. Dimas, teman kampusku menelpon.


"Halo, Sese. Hari ini dikampus heboh." ucapnya


"Ada apa?" tanyaku.


"Terima video callku"


Aku pun mengganti telepon menjadi video call. Terlihat Elsa meminta maaf dan memohon kepada Alfa.


"Apa yang terjadi, mas?" tanyaku


"Pak Alfa marah ke Elsa. Dia meminta kampus mengeluarkannya. Padahal tinggal satu semester lagi. Sangat disayangkan. Jadi Elsa meminta Pak Alfa untuk mencabut tuntutannya. Tapi Pak tidak mau mencabut tuntutannya" jelas dimas panjang lebar.


"Baiklah, Mas. Terima kasih ya" ucapku


Dia mengangguk dan telepon pun berakhir.


Kejadian kemarin pasti sudah tersebar-luas dikampus. Ternyata ini pembalasan Alfa. Ada rasa kasihan mengingat tinggal satu semester lagi Elsa menyelesaikan kuliah.

__ADS_1


__ADS_2