
Aku kaget dan heran, laki-laki ini tetap sopan meskipun hasrat sudah menggebu. Kutatap matanya.
"Lakukan, aku sudah jadi milikmu seutuhnya, Kak" Kataku dengan tersenyum
Alfa membalas senyumanku. Dia menggendong dan membawaku ke kasur. Ditaruhnya dengan perlahan-lahan seperti menaruh gelas kaca ke meja.
Dia menyentuh rambutku, mengecup kening, mata, pipi, hidung dan berakhir dibibir. Kami melakukan ciuman yang semula hangat menjadi panas menggebu. Tangan alfa mulai nakal meraba-raba mencari titik kelemahanku.
Aku mendesah ketika tangan Alfa bermain-main dibalik baju tidurku.
"Kenapa?" tanya Alfa dengan santuy. Aku membalikkan muka, Malu. Alfa memegang wajahku dan membalikkan menghadap dia.
"Tidak usah malu, keluarin aja. Kita akan melakukan yang lebih dari ini. Aku lebih senang melihat kamu yang lebih terbuka denganku" ucap Alfa lagi.
Alfa mulai menggencarkan aksinya. Kancing bajuku satu persatu dibukanya dan sekarang terlihat yang lebih menantang. Alfa tersenyum, senyum yang memiliki arti berbahaya.
Alfa mulai turun ke bawah, ke tempat dimana kebahagiaan duniawi sebagai pasangan halal akan terjadi. Alfa membuka baju dan celananya. Didalam kamar yang dingin ini, kami hanya mengenakan pakaian dalam.
Aku sudah pernah melihat Alfa tanpa baju. Badan Alfa termasuk dalam kategori Six-packs. Meski dia pekerja kantoran yang tidak kenal waktu dalam berkerja tapi tetap menyempatkan diri untuk berolahraga beda halnya denganku yang ada waktu luang menghabiskan dengan nonton drakor.
"Pegang aja, Se. Ga sah malu" Kata Alfa menarik tanganku untuk menyentuh dadanya yang mempesona wanita.
__ADS_1
"Aku ketahuan ya" tanyaku
"Wajahmu itu ga bisa membohongi. Mau megang yang dibawah juga boleh" ucap Alfa tanpa malu-malu.
"Apaan" kataku malu
"Ha..ha..ha..ha..ha" Dia malah tertawa bahagia.
Meski kami mengobrol tangan Alfa g pernah berhenti melakukan tugasnya Ada aja yang dia pegang. Bibirnya mulai meninggalkan tanda-tanda kepemilikan di berbagai tempat.
Pakaian dalam atas sudah mulai dibuka. Dia tersenyum dan mendekatkan wajahnya untuk menerkam dibalik pakaian dalam. Aku mulai merasa ada sesuatu yang aneh didalam tubuh.
Alfa makin turun. Kulihat dia menelan ludah. Sama halnya denganku.
Aku hanya meringis ketika dia mencoba beberapa kali namun gagal
Jleb dan "Auh" ucapku sambil menitikkan air mata. Rasanya perih.
Alfa menghapus air mataku "Maaf". Alfa melanjutkan kegiatan yang tertunda dengan semangat.
Kami berdua sudah meracau *******-******* kenikmatan. Kicauan kami hanya kami berdua yang mendengar.
__ADS_1
"Semoga lekas jadi ya anak papa" ucapnya sambil mencium perutku ketika selesai petualangan kami.
Kami mengulangi kegiatan kami sampai jam satu pagi. Tidak usah bertanya bagaimana rasanya badan, hancur sekali.
"Kak, sudah dulu ya. Badanku lelah" kataku setelah mengikuti gejolak Alfa yang tidak mau berhenti.
Alfa melihatku dengan perasaan bersalah "Baik, sayang. Maaf kalau aku keterusan. Kamu bikin aku ketagihan. Tidurlah" ucapnya sambil mengecup keningku.
Dalam hitungan beberapa menit saja aku sudah tertidur.
***
Alfa Pov
Akhirnya, Sese benar-benar jadi milikku setelah pertahanannya berhasil kujebol. Aku sangat bahagia ketika melihat noda darah diseprai yang baru saja kami gunakan untuk bertempur.
Kuselimuti badannya yang belum terbungkus satu helai pun. "Jika dia masih kuat mungkin kami akan melakukannya sampai pagi" fikirku
"Terima kasih sudah membuat aku menjadi orang pertama yang menyentuhmu" ucapku sambil mengecup keningnya sekali lagi ketika dia tertidur lelap.
Aku juga sudah mengambil posisi tidur disamping Sese dan kupeluk dia.
__ADS_1
"