
"Bolehkah aku menciummu?" tanya Alfa
Aku memundurkan badanku dan segera bangun. "Maaf" kataku sambil membuka pintu kamar. Dibalik pintu , aku sudah meneteskan air mata. Aku masih saja marah pada Alfa. Karena dia semua terjadi. Aku belum bisa menerima kehilangan bayiku.
Kuhapus air mataku dan turun ke bawah. Ada Mama sedang menonton film.
"Sudah bangun, sayang?" tanya Mama ketika melihatku turun.
Aku mengangguk dan tetap berjalan ke dapur. Saat ini perutku sudah sangat lapar.
"Mau makan , sayang?" tiba-tiba Mama sudah berada dibelakangku.
"Aku lapar, Ma" ucapku menjawab pertanyaan Mama.
"Sebentar, kamu tunggu di kursi ya. Mama panasin dulu makanannya"
"Iya, Ma"
Aku segera duduk di kursi, sambil memainkan handphoneku.
"Alfa mana, Se? Masih tidur?" tanya Mama dan alhasil bayang-bayang Alfa yang ingin menciumku kembali hadir. Apa salahnya hanya mencium, dia sudah hampir sebulan tidak mendapatkan jatahnya. Dan sekarang dia juga harus libur lagi karena keguguranku.
"Iya, Ma. Masih diatas" jawabku.
"Ajak makan, Se. Tadi Alfa makan sedikit sekali. Hari ini sangat berat buat kalian berdua tapi kamu juga harus mengerti posisi Alfa. Dia juga kehilangan anaknya, apa harus kehilangan istrinya?" ucap Mama. Sepertinya Mama tahu aku masih menjauhi Alfa.
Selesai makan, aku kembali kekamar. Sepi. Mungkin Alfa masih tidur.
__ADS_1
Kubuka pintu kamar perlahan. Terlihat Alfa masih tidur. Kuberjalan mendekati namun terlihat wajah yang pucat.
Kuraba wajahnya ternyata dia demam.
"Kak. Kak." aku menggoyang badannya.
"Ada apa, Se?" tanyanya dengan suara yang parau.
"Kamu demam. Ayo, kita ke dokter" ajakku.
"Ga usah. Aku ga papa"
"Tapi badanmu panas sekali"
"Aku ga papa, sayang. Besok juga sudah sembuh" katanya sambil memegang pipiku.
"Aku kompres ya untuk menurunkan demamnya" kataku sambil mengompres air ke keningnya.
Sambil menunggu kompresan, aku mencari obat dilaci P3K.
"Ayo diminum, Kak" kataku mencoba membangunkannya. Alfa menurut.
"Terima kasih, sayang. Kamu sudah makan?" tanyanya sambil kembali berbaring
"Sudah, apa kamu mau makan, Kak?" tanyaku balik sambil masih mengompresnya
Dia menggeleng. "Itirahatlah, aku sudah enakan. Kamu juga pasti masih sakit habis kejadian tadi"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, biarkan aku merawatmu" ucapku. Memang daerah kewanitaanku masih sakit tapi melihat suami sakit begini lebih tidak tega.
Setelah minum obat dan panas mulai turun, Alfa kembali tidur. Lebih tenang dari sebelumnya. Aku kembali ke dapur membuatkan bubur untuknya.
"Kamu lagi apa, Se?" tanya Papa tiba-tiba muncul di belakang.
"Astaga, Papa. Kagetin aja tau" ucapku sambil memegang dada.
"Ya kamu itu yang melamun. Papa dari tadi sudah manggil kamu tapi tidak ada jawaban. Jadi sekarang kamu sedang apa? tanya Papa lagi
"Sese lagi bikin bubur buat Alfa, Pa. Dia demam"
"Alfa sakit? Kenapa gak dibawah ke dokter, Se?" ucap Papa khawatir.
"Dia gak mau, Pa. Tapi sekarang sudah mendingan kok setelah minum obat" kataku sebelum Papa tambah panik.
"Syukurlah, kalau ada apa-apa bilang ke Papa atau Mama ya. Kamu gimana? Sudah sehatan? Semoga kamu dan Alfa segera diberi kepercayaan lagi ya" Kata Papa. Aku tahu Papa sedih kehilangan cucunya tapi dia tidak mau memperlihatkan kepadaku.
"Aamiin. Sese sudah enakan, Pa. Tolong doakan yang terbaik untuk kami berdua ya, Pa" balasku.
Papa mengangguk dan izin kembali ke ruang kerja. Masih ada yang mau diurus. Sedangkan Mama tadi sudah bilang hari ini ada arisan dirumah temannya.
Aku kembali ke kamar dengan semangkuk bubur ditangan. Kutaruh bubur diatas meja. Sambil menunggu dingin, aku pergi mandi.
***
***
__ADS_1