Dia Terbaik

Dia Terbaik
Bab 87


__ADS_3

Sudah hampir setengah tahun dari kejadian Alfa dijebak, Perusahaan Alfa membatalkan kerja sama dengan perusahaan Pak Gunawan. Gila aja jika diteruskan, bisa-bisa Alfa kecantol sama tuch wanita licik.


Hari ini, aku mulai kerja di Perusahaan Papaku sambil kuliah. Aku ditunjuk posisi manager keuangan sebelum menjadi direktur keuangan. Ya, belajar dulu lah.


"Halo, adik kecilku" Sapa Ello ketika kami bertemu di lobby.


"Malas banget, pagi-pagi sudah ketemu kakak" jawabku sambil tetap berjalan.


Terdengar dia berjalan dan menyeimbangi langkahku. Namun, yang tidak terduga dia malah mengacak rambutku.


"Kakaaaak" teriakku sambil merapikan rambut.


"Kamu lebih cantik jika begitu modelnya" katanya menertawakanku.


"Kakak kurang ajar"


Dia hanya melengos pergi masih sambil tertawa. "Jangan lupa jam 9 ke ruang rapat" katanya dibalik pintu Lift yang masih jauh dari tempatku. Dia melambaikan tangan.


Ya, karena hari ini adalah hari pertama aku ke kantor pasti ada acara perkenalan. Walaupun sudah hampir 90 persen mereka mengenalku.


Tidak menunggu waktu lama, aku sudah duduk diruanganku. Aku mengetik sebuah pesan dan langsung mengirimnya.


"Sudah sampai?" begitu pesanku


"Sudah, sayang. Semangat ya emoji "love" bertengger dibelakangnya" balas pesan tersebut.


Tok.. Tok.. Tok..

__ADS_1


"Masuk"


"Selamat pagi, Bu Sese. Perkenalkan saya Nisa yang akan membantu ibu untuk kedepannya" sapa gadis muda berusia sekitar 20 tahun.


"Pagi, Nisa. Mohon bantuannya" jawabku berdiri dan mengulurkan tangan. Dia membalas.


"Untuk acara hari ini, Ibu Sese ada rapat jam 9 dan acara selanjutnya akan dibahas setelah rapat" begitu Kata Nisa memberi tahu jadwalku hari ini.


"Oke"


Jam masih menunjukkan waktu 08.45, masih ada 15 menit lagi untuk rapat. Setelah menjelaskan jadwalku, Nisa pamit kembali ke tempatnya.


Tok..Tok..Tok.. Suara pintu kembali diketuk.


"Iya, Masuk" Jawabku dari dalam. Kalau sopan begini tidak mungkin Ello paling Nisa.


"Permisi, Bu. Ada kiriman bunga dari Pak Alfa" jelas Nisa dibalik pintu. Ada sebuket mawar ditangannya..


"Sama-sama, Bu"


Kuhirup aroma bunga mawar tersebut. Segar dan Harum. Secarik kertas tertempel di alas bunga mawar.


"Untuk Istriku semangat bekerja. I Love You. Dari penggemarmu"


Begitu tulisan dikertas. Aku tersenyum. Kuambil handphone dan segera memotretnya. Kukirim foto itu dan menulis " I Love U, too". Aku cekikikan.


"Hayo, pagi-pagi sudah ketawa. Ngapain kamu, Se?" tanya Ello tiba-tiba membuka pintu ruanganku. Aku kaget seketika hp ditangan jatuh ke lantai

__ADS_1


"Astaga, Kakak. Bisa ga seh ketok pintu dulu. Jangan asal main masuk" omelku panjang ke Ello.


"Bukannya pergi rapat malah senyam-senyum. Padahal setiap hari ketemu, satu rumah. Masih saja kurang puas. Pasangan yang aneh" gerutu Ello masih berdiri di ambang pintu.


"Syirik aja" aku segera membereskan barang di mejaku. Setelah yakin tidak perlu bawa apa-apa, aku menghampiri Ello.


"Ayo"


Dirangkulnya aku tanpa dilepas. Sumpah, malu-maluin aja ini orang! Rasanya pengen gue tabok dan kukirim ke rumah kakak iparku, Sinta.


Aku menundukkan kepalaku sesampainya diruang rapat. Sudah banyak orang disana, sebagian ada yang kukenal dan sebagian tidak. Maklum, baru kali ini aku ikut rapat pemegang saham. Dan alangkah kagetnya, ada laki-laki yang duduk disamping papaku dengan senyum mengembang. Siapa lagi kalau bukan Suamiku, Alfa. "Sejak kapan Alfa jadi pemegang saham perusahaan Papa" tanyaku.


"Sudah, kagetnya nanti aja kasihan orang-orang mulai malas ngeliatin kamu" Ello menyuruhku duduk. Aku mengikutinya.


Sepanjang perkenalan, aku hanya celingak-celinguk. Bersuara ketika waktuku perkenalan diri, setelah itu kosong. Apalagi waktu pertanyaan menyebalkan dari Ello.


"Bu Sese, sudah nikah?" pertanyaan apa itu kan. Lah masa kakak kandung ga tau adiknya sudah nikah apa belum.


Ello cekikian, Alfa tersenyum dan aku?? rasa pengen nimpuk mereka berdua. Yang lain ada yang tertawa dan ada juga yang bingung.


"Oh, kebetulan saya masih jomblo. Mungkin kalau bapak/ibu punya anak cowok bisa dijadwalkan kencan buta dengan saya" ucapku dengan senyum terpaksa. Pembalasan telak untuk mereka berdua.


Ruangan mulai rame dengan pernyataanku. Alfa memelototiku dan Ello kaget dengan jawabanku. "Mampus aku ditelan Alfa" bisik Ello terdengar disampingku.


"Ah, masa bodoh dengan Ello. Siapa suruh ngasih pertanyaan begitu" seruku dalam hati.


"Kalau tidak ada lagi pertanyaan, cukup sampai disini perkenalan dari saya" kataku sambil membungkukkan badan dengan tersenyum.

__ADS_1


***


"


__ADS_2