
Flashback Alfa
Hari ini, aku pergi kuliah dengan seperti biasa namun sudah dari semalam aku bingung dan mencoba mencari jawaban atas kegalauanku.
"Aku harus bisa daripada memberi harapan kepada dia" ucap batinku.
Aku mengambil handphoneku dan kukirim pesan ke nomor yang ingin kutemui hari ini.
"Bisa hari ini kita ketemu?" kupencet send dan tidak menunggu waktu lama sudah centang dua dan biru. Dimana arti warna biru adalah penerima sedang membaca pesan kita.
"Bisa, Sayang. Mau ketemu dimana?" balas penerima tersebut.
"Di cafe dekat kampus aja setelah selesai kuliah" balasku cepat.
Ya, penerima tadi adalah Rere. Wanita yang sedang berpacaran denganku.
Aku memasuki kelas dan pelajaran kuliah akan segera dimulai. Hari ini ada dua mata kuliah yang aku ikuti. Aku dan rere satu jurusan namun hari ini kami tidak sekelas karena beda mata kuliah yang diambil.
Waktu terus berjalan dan mata kuliah kedua telah usai. Aku menyambar tasku dengan tergesa-gesa. Aku ingin segera sampai dan menyelesaikan segala urusanku.
Aku langkahkan kakiku menuju tempat janjian aku dan Rere. Sesampainya disana aku sudah melihat Rere duduk.
"Maf aku terlambat" kataku sebelum duduk
__ADS_1
Rere menoleh ," tidak apa-apa. Mau minum apa, Fa?"
"Aku tidak minum, Re. Ada yang ingin aku bicarakan"
Rere terlihat bingung "Kamu ingin bicara apa?"
Aku menghela nafas pelan dan mencoba mengatur rasa bersalah didalam dada. " Maafkan aku, Re. Sebaiknya hubungan kita sampai disini saja" ucapku pelan namun aku yakin dia dengar. Aku tidak mau para mahasiswa/i yang sedang nongkrong disini dengar.
"Maksud kamu apa, Fa? Kita putus? Tapi kenapa? Bukannya kita baru saja berpacaran?" tanyanya membabi-buta tanpa cela
Aku tidak tahu harus bilang apa. Tidak mungkin aku jujur jika aku berpacaran dengan Rere hanya untuk pelampiasan, akan menyakiti hati Rere.
"Aku rasa kita tidak cocok, Re. Aku minta maaf" Ucapku sambil berdiri namun tanganku dicegah oleh Rere.
Aku mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya. "Maaf, Re". Aku lalu pergi setelah berhasil melepaskan.
Aku tahu Rere pasti kecewa dengan apa yang aku lakukan. Dan aku juga tidak enak hati dengan Rere, namun Cinta tidak dapat dipaksakan.
Aku menuju mobil dan segera menjalankan mobil dengan pelan. Tidak terasa tanpa tujuan yang jelas, mobil yang aku kendarai tepat berada dipagar rumah yang aku kenali.
Rumah bertingkat dua dengan pagar disekelilingnya. Biasa aku melihat Sese bermain didepan jendela kamarnya. Namun sekarang, sosok itu sedang pergi belajar dikota orang.
"Aku kangen, Se" ucapku perlahan. Entah kapan aku akan bertemu lagi dengannya. Aku merindukan sosoknya yang periang dan mudah tersenyum.
__ADS_1
***
Seminggu setelah aku dan Rere pisah. Tiba-tiba ada telepon masuk dihandphoneku.
Drrrt.. Drrrt...drrtt
Nomor tidak kukenal terpampang dilayar. Sekali aku tidak mengangkat namun nomor tersebut menghubungi kembali.
"Halo, ini siapa?" tanyaku setelah mencoba menerima telepon tersebut.
"Alfa tolong aku" ucap penelpon disebrang sana.
Aku kaget ternyata Rere yang menelpon dan sekarang sedang meminta pertolongan.
"Kamu kenapa, Re?" ucapku buru- buru karena suara Rere terdengar sangat pilu.
"Tolong aku, Fa. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Tolong kamu kesini" Kata Rere.
"Kamu dimana? Aku akan segera kesana." tanyaku dengan kecemasan dan tanpa memikirkan yang lain.
"Aku akan mengirim alamat ke handphonemu. Cepat kesini ya, Fa. Aku takut" ucapnya sambil menangis.
Aku meraih kunci mobilku dan segera menjalankan mobil ke tempat yang diinfokan oleh Rere.
__ADS_1
***