
Alfa Pov
Hampir seminggu, Sese belum ada kabar juga. Hati dan fikiranku belum tenang. Belahan hatiku berada satu kota denganku tapi tidak tahu keadaannya sama sekali. Bagaimana dia makan, apa yang sedang dilakukan. Ini membuatku gila.
Ditengah kelamunanku, handphoneku berbunyi menandakan pesan masuk.
"Mari kita berpisah" sebuah pesan tertampil dilayar handphoneku. Kuulangi membaca pesan tersebut dan hasilnya sama.
Aku kaget dengan keputusan Sese dan mencoba menelponnya. Seperti biasa, hanya operator yang menjawab telepon.
"Sial" aku menghempaskan kepalaku dikursi. "Apa maksud pesanmu ini, Se"
Tok..tok..tok..
"Masuk" jawabku
"Pak Alfa, Ibu Sese sudah ketemu" ucap Aris buru-buru sepertinya dia berlari kesini.
"Dimana?" aku langsung berdiri mendengar penuturan Sekretaris pribadiku.
"Dibandara, Pak. Hari ini Bu Sese akan pulang"
"Jam berapa pesawatnya berangkat?" tanyaku
"Sekitar satu jam lagi"
Aku langsung berdiri dan bergegas pergi menuju tempat yang dimaksud Aris. Sesampainya di bandara, aku berlari mencari keberadaan Sese.
Kucari dia disetiap sudut bandara tanpa berkedip.
"Ketemu" ucapku senang.
__ADS_1
Seorang wanita dengan kopernya akan memasuki ruang check-in. Wanita yang selalu kurindukan. Wanita yang sedang mengandung anakku dan wanita yang separuh hidupku berada bersamanya
"Sese" ucapku menarik tangannya. Dia berbalik badan.
"Tolong lepaskan tangan saya" ucap dia. Suaranya berbeda dari biasanya. Aku tahu suara kebanyakan menangis.
"Apa maksud pesanmu?" tanyaku masih memegang tangannya.
Dia menghempaskan tangannya.
"Seperti pesan yang aku kirim, mari kita bercerai." ucapnya dengan keyakinan
"Ga akan, aku tidak akan menceraikanmu, Se."
"Kamu terlalu serakah, Kak. Ingin memiliki semuanya." sindir dia dengan senyumnya yang tidak aku mengerti.
"Apa maksudmu? Aku hanya mencintaimu"
"Cinta?" dia mengambil handphonenya dan handphoneku berbunyi.
"Brengsek" aku memukul dinding yang berada didekatku. "Aku tidak akan pernah menceraikanmu dan akan aku buktikan aku hanya mencintaimu" teriakku. Aku yakin Sese mendengar.
Dia pun menghilang dibalik pintu ruang tunggu. Ada satu keluarga melihat kejadian ini dengan sedih. Ya, Keluarga Pak James mengantar Sese ke bandara.
Setelah dari bandara, aku langsung pulang ke apartemen. Tidak kembali ke kantor, kepalaku pusing mengingat kejadian pagi ini.
"Aris, tolong kamu tanggung-jawab untuk masalah disini ya. Saya besok akan pulang" ucapku. Aku harus menyelesaikan masalah ini, semakin larut bisa mengakibatkan buruk terhadap pernikahanku.
"Baik, Pa"
Aku segera mencari Claire di perusahaannya untuk memperjelas semuanya. Aku harus cari bukti sebelum bertemu Sese. Dia tidak akan menerima keadaanku begitu saja tanpa bukti apa-apa.
__ADS_1
***
"Alfa?" Claire kaget dengan kedatanganku tiba-tiba ke perusahaannya.
"Apa maksud kamu mengirim foto itu ke Sese, Cla?" bentakku ke Claire
Dia terperanjat. "Aku"
"Apa, Cla? Aku kesini hanya memberimu peringatan. Aku tunggu klarifikasimu jika tidak akan aku hancurkan perusahaanmu ini meskipun kamu temanku" kataku.
Aku segera pergi meninggalkan ruangan Claire.
"Aku mencintaimu, Alfa. Seharusnya aku yang bersamamu bukan dia" terdengar kata Claire terisak-isak.
Aku tidak peduli dengan sakit hati yang dialami Claire. Yang aku pedulikan sekarang hanya Sese. Wanita yang bertahun-tahun namanya terukir indah di hatiku.
"Halo, Lo. Apakah kamu tahu hari ini Sese pulang?" tanyaku
"Maaf, Fa. Aku tahu tapi Sese melarangku memberitahumu jika aku melanggar dia tidak mau bertemu denganku lagi meski aku kakaknya"
"Aku paham, Lo. Tidak masalah. Kebetulan orang-orangku dapat menemukan Sese jadi tadi aku sempat ketemu tapi Sese mengajak cerai, Lo" kataku pelan
"Apa?" Ello berteriak membuat telingaku sakit. "Bagaimana ini, Fa? Sese tidak ada cerita tentang itu"
"Aku akan mengurus semuanya, Lo. Tolong jaga Sese sampai aku kembali"
"Baiklah, tapi jangan terlalu lama. Kamu tahu sifat Sese"
"Iya" jawabku dan panggilan kami berdua berakhir.
***
__ADS_1
***
***