
Beberapa bulan setengah pernikahan Ello dan tidak terasa enam bulan sudah aku berpacaran dengan Alfa. Masalah-masalah kecil sudah biasa terjadi dihubungan kami dan selalu Alfa yang mengalah.
Di hari sabtu, aku mendapat sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
"Datang ke hotel Bintang no 301" begitu tulisnya.
"Ada apa di hotel bintang"
Pesan berikutnya sebuah foto dimana seorang laki-laki berpelukan dengan perempuan. Laki-laki yang kukenal .
Aku menuruni tangga dengan terburu-buru. Kulihat Ello sedang menyuapi Sinta. Ya, Sinta sedang mengalami morning sickness. Keadaan hamil trisemester pertama yang sangat ingin berada dikamar saja.
"Mau kemana, Se?" tanya Ello melihatku buru-buru.
"Ada urusan kak. Aku pergi dulu ya. Bilangin ke mama"
Kuambil sebuah kunci dan segera kunyalakan mobil. Langsung kutuju hotel yang tertera dipesan.
Sesampainya di hotel, aku mencari lift dan memencet no 301.
"Ada yang bisa dibantu, non?" tanya karyawan yang kebetulan lewat.
"Saya mau ke kamar 301, Pa. Bisakah bukakan pintu" Jawabku dengan suara bergetar.
Karyawan tersebut membukakan pintu. Alangkan terkejutnya aku. Alfa sedang berada dikamar berdua dengan wanita yang kukenal.
Ersa, Kakak tingkatku dikampus. Yang sudah lama menyukai Alfa.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" tanyaku sambil menahan tangis. Kulihat Alfa bertelanjang dada dengan posisi diatas Ersa. Sedangkan Ersa masih menggunakan pakaian.
__ADS_1
"Se" Jawab Alfa.
Aku menutup pintu dan berlari menuju lift. Kebetulan lift sedang terbuka. Air mataku akhirnya menetes.
Aku pergi meninggalkan hotel dan tidak tahu akan kemana.
***
Alfa Pov
Hari ini aku ada pertemuan di kampus membahas donasi dikampus. Entah setelah aku minum kepalaku pusing dan tidak tahu apa yang terjadi
Ketika aku terbangun, aku sudah berada di kamar hotel dengan baju yang terlepas.
"Apa yang kamu lakukan, Ersa?" tanyaku dengan sangar.
"Aku sudah punya kekasih dan tidak mungkin menyukaimu. Aku terlalu baik denganmu sehingga kamu tega ngelakuin ini" bentak Alfa.
Ersa menarik tanganku dan menyebabkan posisiku berada diatas Ersa. Celakanya lagi, Sese wanita yang kucintai sedang melihat.
"Brengsek"
Lekas kuambil bajuku dan mengambil barangku. Kukejar Sese namun bayangannya tidak terlihat sama sekali. Kuberlari menuju pintu darurat. sesampainya dibawah, mobil Sese sudah meninggalkan hotel.
Kucoba menelpon Sese namun sudah dipastikan tidak ada jawaban.
Aku pergi ke rumah Sese. Tapi tidak juga kutemukan.
"Sese belum pulang, Fa. Tadi pergi buru-buru. Ada apa?"
__ADS_1
Aku menceritakan semua kejadian hari ini dan Ello mendengarkan.
"Nanti kalau Sese sudah pulang aku kabarin ya".
"Makasih, Lo".
Aku pergi meninggalkan rumah Sese. Aku tidak balik ke rumah. Tapi aku pergi ke kantor. Disana aku bisa menenangkan fikiran. Jika ke rumah dengan kondisi seperti ini, Mama pasti akan bertanya dan mengamuk.
***
Sese Pov
Aku masih didalam mobil setelah memarkirkan mobil dipinggir pantai. Handphoneku dari tadi berdering, aku tahu siapa yang menelpon.
Dering berbeda kudengar, kuambil handphoneku. Nama Ello tertera dilayar.
"Kamu dimana? Kamu baik-baik saja" tanyanya. Aku menangis tersedu-sedu. "Pulang, Se. Kakak akan mendengarkan ceritamu"
"Kak, boleh aku sendiri dulu?" pintaku
"Baiklah, Se.. Kakak menunggumu dirumah".
Telepon terputus. Hari ini kebetulan jadwal Ello dan Sinta menginap dirumah.
Aku masih menangis. Bayangan Alfa dengan Ersa masih menghantuiku.
"Laki-laki pembohong" ucap batinku
"
__ADS_1