
Malam ini, Aku dan Alfa sudah berada di perjamuan. Seperti biasa banyak kenalan Alfa di sini. Alfa dari memasuki pintu ballroom sudah memegang tanganku, takut aku hilang seperti kucing.
"Kak Alfa, kangen" peluk seorang wanita tiba-tiba ketika kami baru saja mau menyapa salah satu partner kerja Alfa.
"Lidya, mana sopan santunmu?" ucap laki-laki seumuran Papaku.
"Apaan Pa, aku kan hanya menyapa Kak Alfa sudah lama tidak ketemu" balas wanita tersebut. Jika dilihat mungkin usianya tidak jauh berbeda denganku.
"Apa kamu tidak lihat Alfa sedang bersama siapa?" ucap laki-laki yang dikenal dengan Pak Gunawan.
Lidya melepaskan pelukannya, dan melihat ke arahku. Dipandangnya aku dari atas sampai bawah. Dan dia sedikit kecewa ketika melihat Alfa memegang erat tanganku.
"Trus kenapa? Bukannya dia baru saja keguguran. Menjaga anak yang diperut saja tidak bisa apalagi menjaga suaminya" jawab Lidya santai.
Aku yang mendengar ucapan Lidya seketika kaget. Tanpa terasa ada air mata yang hampir saja jatuh. Rasa bersalah yang sudah mulai menghilang tiba-tiba hadir kembali.
"Lidya. Cepat minta maaf" bentak Pak Gunawan. Namun yang dibentak tetap pergi tanpa menghiraukan ucapan ayahnya.
"Nak Alfa, Bapak minta maaf atas kelakuan Lidya. Tolong dimaklumi" kata Pak Gunawan yang sudah melihat perubahan wajahku.
Alfa melihatku. "Maaf, Pak Gunawan saya izin permisi dulu".
__ADS_1
Pak Gunawan mengangguk dengan rasa bersalah atas sikap anaknya. Sebenarnya untuk datang ke acara Alfa harus siap mental karena akan ada berbagai macam wanita yang mencari perhatiannya. Namun, kali ini sangat menusuk hati.
"Se, kamu baik-baik saja" tanya Alfa ketika kami sudah sedikit menjauh dari keramaian.
*Apa aku terlihat baik-baik saja, Kak? Apa yang diucapkan dia benar. Aku tidak bisa menjaga anakku" ucapku dengan pelan. Sebuah air mata lolos jatuh ke tanah.
Alfa menarik tanganku dan membawaku ke dalam pelukannya.
"Ini semua salah Kakak bukan kamu. Kakak yang membuat segala masalah jadi seperti ini. Tolong jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Jika kamu mau menyalahkan, salahkan suamimu ini" ucap Alfa.
"Apa kamu mau istirahat duluan? Kakak antar kamu ke kamar" ucap Alfa.
Aku mengangguk. Alfa mengantarku sampai didepan pintu kamar hotel yang akan kita tempati malam ini.
"Aku ga papa, Kak. Kakak kembali aja ke acara." kataku meyakinkan Alfa lagi. Alfa tadi menawarkan diri untuk menemaniku di kamar namun aku tidak enak dengan Pak Gunawan dan ini pasti akan membahas bisnis mereka.
"Baiklah, kalau ada apa-apa langsung telepon kakak ya, Se" ucap Alfa.
"Iya, Kak"
"Ya udah, Kakak kembali ke bawah ya. Kalau sudah ngantuk tidur duluan saja, tidak usah menunggu kakak" kata Alfa sambil mengecup keningku.
__ADS_1
"Siap, bos" ucapku sambil tersenyum dan dibalas cubitan kecil dipipiku.
"Senyum ini yang Kakak suka"
Alfa mulai berjalan menjauh meninggalkan aku yang masih memandang sosoknya. Alfa berbalik dan melambaikan tangannya. Aku membalasnya sambil tertawa.
"Dasar, suamiku"
***
Setelah tidak terlihat sosok Alfa, aku langsung menutup pintu kamar dan segera berganti baju. Memakai gaun lama-lama membuat badanku gerah.
"Baru pukul sembilan" kataku ketika melihat jam di handphone
Handphone yang ada ditanganku tiba-tiba bergetar menandakan ada panggilan.
"Halo, Kak" kataku setelah mengangkatnya.
"Halo, sayang. Kakak sudah kangen padahal belum ada sejam berpisah" ucap seseorang disebrang sana dengan nada sedih
Aku tertawa melihat kelakuan suamiku ini.
__ADS_1
"Kak, malam ini mau menyentuhku?" tanyaku dengan pelan.