
Aku membuka mataku perlahan dan ternyata matahari sudah menampakkan senyumannya. Kalau bukan karena mau ke kamar mandi mungkin aku masih tidur dalam pelukkan Alfa. Kucoba mengangkat tangan Alfa dan baru saja aku mencoba bangun "Auh" bagian bawahku sakit. Apa yang dibilang Sinta ternyata benar.
Alfa terbangun dengan suara rintihanku. "Ada apa, Se?" tanyaku setelah duduk
"Aku mau buang air kecil, Kak. Tapi sakit" jawabku dengan malu-malu
Alfa tersenyum. "Sebentar ya". Alfa bangun dan segera memakai celananya. Dia mengelilingi kasur dan menuju ke tempatku. Aku digendong dan dibawanya ke kamar mandi.
Aku melihat Alfa mengambil air hangat. "Siram pakai air hangat ini biar tidak terlalu perih" katanya.
Aku melakukan apa yang dibilang Alfa. Benar baru saja mengeluarkan setetes, daerah kewanitaanku perih dan aku meringis seperti luka pisau yang kena air.
Alfa melihatku dan menghampiri " Maaf ya, sayang".
"Ga papa, Kak."
"Istriku memang baik. Aku isi air hangat dulu buat kamu mandi ya" katanya setelah kembali menggendongku dan membawaku ke kasur.
Kulihat Alfa tetap seperti biasa mungkin karena sering berolahraga jadi otot-ototnya tidak kaku beda denganku yang sangat malas berolahraga.
Aku menarik nafas dengan kasar.
"Sayang, airnya sudah penuh. Mau mandi sekarang?" tanyanya dibalik pintu.
"Iya, Kak. Mandi sekarang aja" teriakku.
__ADS_1
Baru saja aku mau turun dari kasur, Alfa sudah berlari.
"Jangan banyak bergerak dulu. Biar aku gendong"
"Aku bukan anak kecil, Kak. Sakit begini bisa kutahan" belaku.
"Nurut aja ya, Sayang" Kata Alfa sambil mencoel hidungku.
"Baiklah" jawabku mengalah. Alfa kembali menggendongku dan membantuku mandi dibathtub. Mandi kali ini ga ada drama dia minta jatah katanya kasihan kalau dihajar mulu. Jadi aku hanya berendam.
Setelah aku berendam kurang lebih 15 menit, badan sudah merasa mendingan. Aku keluar dan kulihat Alfa sedang membereskan selimut seperti ada yang dirobek.
"Sudah selesai mandinya, Sayang?" katanya sambil menoleh.
"Baik, sayang"
Ketika aku memakai baju dan kaget dengan apa yang terjadi dibadanku. "Bagaimana aku keluar kalau banyak tanda merah seperti ini dileher" ucapku dalam batin.
Alfa sudah selesai mandi dan keluar dengan memakai handuk dipinggang.
"Kenapa, Sayang? Kok melamun." Kata Alfa melihatku duduk didepan cermin
"Aku gimana keluar, Kak. Kalau begini" rengekku sambil menunjuk tanda-tanda yang ditinggalkan Alfa.
Bukan belas kasihan yang kudapat, dia malah tertawa padahal tanda yang kudapat dia yang melakukannya
__ADS_1
"Emang mau kemana, sayang? Kita dikamar aja ya memadu kasih biar cepat dapat dedek bayi" balasnya nyengir
"Fikiranmu cuma tentang itu aja, kak. Kalau kita dikamar aja trus kita ga sarapan? emang kakak ga lapar?" tanyaku dengan penasaran.
Padahal kemarin karena resepsi makan kita porsinya mungkin sangat sedih. Rasa laapr terkalahkan dengan rasa lelah.
"Sese.. sese. Sekarang sudah jam berapa? masa kita mau sarapan. Ini sudah mau jam makan siang"
Aku lupa karena kegiatan semalam, kami berdua bangun kesiangan dan sekarang waktu sudah menunjukkan jam 10.00.
"Ini semua gara-gara kakak yang ga mau berhenti"
Alfa malah tertawa melihat kelakuanku yang sedang mengambek.
"Kamu terlalu enak, sayang. Buat aku ketagihan pengen lagi dan lagi. Nanti kakak pesanin makan kita makan dikamar aja ya" Katanya sambil mengacak rambutku.
"Hmm, Ya udah" Kataku.
"Oh iya, Se. Mama, Papa dan Ello sudah pada checkout ya. Tadi nelpon kakak ketika kamu mandi" Kata Alfa sambil menekan nomor restoran untuk memesan makanan.
Aku mengangguk.
Tanpa menunggu lama, sekitar setengah jam seorang pelayan sudah berada didepan pintu membawa makanan yang dipesan Alfa. Kami berdua bingung ini sarapan yang kesiangan atau makan siang yang kepagian.
***
__ADS_1