
Opa Thamrin, Oma Helena, Mama Shinta dan Papa Dimas sudah berkemas, dan sekarang mereka berempat membantu Tania dan Albert untuk berkemas. Kondisi kandungan Tania sudah dinyatakan kuat oleh Dokter Dewi untuk melakukan perjalanan selama empat jam dari Bandung ke Jakarta.
Sebelum mereka pulang ke Jakarta, beberapa pihak kepolisian sudah datang mengunjungi Albert dan Tania di rumah sakit, untuk melanjutkan kasus Marsha dengan menginterogasi Albert sebagai korban serta Tania sebagai saksi, dan sudah tentu Albert mengutus pengacaranya untuk mengurus pelaporan tindak kejahatan mantan istrinya yang hampir saja menghilangkan nyawanya.
“Pah ...”
Kalau ada yang bertanya kenapa Tania tidak panggil suaminya Pak Albert lagi? Malah panggilnya Papa ... Jangan di tanya ini perdebatan yang luar biasa antara Tania dan Albert, pria itu memang sedari dulu menginginkan seorang anak, dan ingin mendapat gelar papa seperti rekan bisnisnya yang rata-rata hot daddy, hati kecilnya sering iri jika di sela-sela meeting ... Rekan bisnisnya menceritakan anak-anak mereka dengan semburat wajah bangga di tambah cerita istri yang selalu mengurusinya mereka dan anak-anaknya, ternyata keberhasilan seorang pria ada campur tangan istri yang pandai mengurus suami dan anak-anaknya.
Semenjak tahu Tania mengandung benihnya, maka terlabellah sebutan papa untuk Albert sedangkan label buat Tania sangat banyak ada mama, sayang, cantik, my sweety ... pokoknya sesuka hati pria itu dan itu hanya berlaku untuk Tania seorang, sedangkan selama berumah tangga dengan Marsha justru Albert tidak pernah memanggilnya sayang, lebih sering panggil namanya saja.
Tania menatap suaminya yang sudah menganti pakaian piyama rumah sakit dengan baju santainya.
“Ada apa sayang,” jawab lembut Albert.
“Papa yakin tidak mau ke kantor polisi, untuk menemui Marsha?”
Albert menaikkan salah satu alisnya. “Buat apa aku menjenguknya sayang, nanti kita ketemu di pengadilannya saja.”
“Yaa ... kali aja Papa kangen sama mantan, jadi aku bertanya.”
Pria itu memajukan wajahnya dan sedikit menunduk karena pria itu lebih tinggi dari Tania. “Papa malah kangen sama mama, tadi kata Dokter Dewi kan sudah boleh Mah,” bisik Albert, bikin bulu kuduk Tania merinding seketika, otaknya seketika travelling karena mereka memang sudah hampir empat bulan tidak berhubungan intim.
“Iis ... Papa ini,” balas Tania, bibirnya sudah mengerucut, dan menepuk dada Albert.
“Aduh yang semakin mesra, sampai lupa kalau banyak orang di ruangan,” celetuk Oma Helena.
Pipi Tania langsung merona, menahan malu ... melihat kelakuan Albert yang selalu saja mesra dengan dirinya. Mama Shinta dan Papa Dimas hanya ikutan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Ayo sudah siap semuanya kan, waktunya pulang ke Jakarta!” ucap Opa Thamrin.
“Sudah siap semuanya Opa,” sahut Albert, pria itu langsung menggandeng tangan istri tercintanya.
Baru saja mau meninggalkan rumah sakit, ternyata sudah banyak wartawan yang menunggu kehadiran Albert di luar lobby rumah sakit. Bimo di bantu beberapa security sudah mengamankan keadaan agar kondusif.
__ADS_1
“Sayang sudah siapkan,” tanya Albert sebelum menghadapi para wartawan media.
“Selama ada Papa di sampingku, aku siap,” jawab Tania meyakinkan dirinya dan suaminya.
Opa Thamrin, Oma Helena, Mama Shinta dan Papa Dimas pun siap menemani Albert dan Tania untuk menghadapi wartawan yang sudah berdatangan, memburu berita terbaru.
“Pak Albert, selamat sudah melewati masa kritisnya dan sehat kembali,” ucap salah satu wartawan.
“Pak Albert, bagaimana tindak lanjut kasus penembakan yang di lakukan mantan istrinya?” cecar wartawan yang lain.
“Pak Albert, wanita ini istrinya kah yang bernama Tania?”
Pria itu mengulas senyum tipisnya, salah satu tangannya masih menggenggam erat tangan Tania. “Selamat siang teman-teman media semua, terima kasih sudah jauh-jauh datang ke sini. Sebelumnya karena kondisi saya belum terlalu fit, saya hanya bisa menjawab beberapa pertanyaan saja. Pertama-tama perkenalkan ini istri saya satu-satunya bernama Tania Kanahaya yang sedang mengandung buah hati kami berdua, yang kedua alhamdulilah seperti teman-teman lihat sekarang saya berdiri di hadapan teman-teman setelah kejadian penembakan, ini berkat kerja keras para dokter serta kasih sayang istri saya Tania yang membuat saya terbangun dari koma.” Sejenak pria itu tersenyum hangat menatap Tania, kemudian mengecup kening istrinya ... para wartawan cepat sekali mendokumentasikan moment mesra nya.
“Dan yang terakhir untuk kasus penembakan, saya serahkan kepada pihak kepolisian yang bekerja serta pengacara saya. Sekian teman-teman semuanya, kami harus bergegas kembali ke Jakarta. Terima kasih.”
Bimo di bantu securty langsung membuat pagar agar Albert beserta keluarga bisa melewati kerumunan wartawan, dan masuk ke dalam mobil yang telah menunggu, ada tiga mobil mewah yang siap mengantar keluarga besar Albert untuk kembali ke Jakarta.
...----------------...
Mansion Albert
Gerry yang sejak kemarin sudah berada di Jakarta dan menginap di mansion Albert, untuk memantau finishing pekerjaan renovasi, karena hari ini sang pemilik mansion akan kembali ke Jakarta.
Kondisi di dalam mansion Albert sudah banyak yang berubah, foto pernikahan Albert dan Marsha sudah tidak menghiasi ruang utama, kamar utama yang sebelumnya ditempati oleh Albert dan Marsha sudah di hancur kan dan berganti posisi serta ukuran ruangannya lebih besar, isi furniture nya juga sudah berubah mengikuti selera Tania yang terlihat sederhana namun elegan.
Kamar utama yang akan ditempati oleh Albert dan Tania juga sudah bersambung dengan kamar baby triple yang lumayan besar ukurannya, tapi masih kosong ... pamali kata Mama Shinta kalau buru-buru beli perabotan dan keperluan baby, nanti menunggu kandungan Tania sudah usia delapan bulan.
Para maid juga terlihat sibuk ada yang merapikan beberapa kamar tamu di lantai satu, termasuk Clara dan Gisel yang ikut bekerja.
“Ck ... buat nyambut orang gak penting begini harus serepot begini!” gerutu Clara, yang lagi sikap lantai kamar mandi.
“Awas aja lo Tania, bakal gue hancur in rumah tangga lo sama Pak Albert. Enak aja emak lo ngusir ibu gue dari rumah ... dasar gak punya otak!” gumam Clara sendiri, menuangkan emosinya dengan memukul-mukul lantai dengan gagang sikatnya.
__ADS_1
Gisel yang tak sengaja mendengar ucapan Clara, menyeringai tipis. Bagus deh kalau ada yang gak suka sama Tania, berarti gue gak capek-capek buat menyingkir kan Tania dari sini. Enak aja gue yang udah lama kerja di sini, eeh malah tuh cewek yang jadi istri Tuan Albert, harusnya gue yang menggantikan Nyonya Marsha! ... batin Gisel kesal.
Maid yang dari awal memang tidak suka dengan kehadiran Tania, merogoh kantong nya ... lalu mengeluarkan isinya ... Terlihat wanita itu memegang botol kecil berwarna hijau.
Jangan senang dulu kamu, Tania!
Hati Gisel sorak ber gembira, setelah berhasil mendapat obat yang sangat ampuh dan berharap usaha nya tidak akan sia-sia melalui Clara.
bersambung ....
Selamat hari Senin Kakak Readers, semoga selalu semangat beraktivitas walau sedang menjalankan ibadah puasanya.
Mumpung hari Senin jangan lupa lemparin vote buat Tania dan Albert ya, terima kasih sebelumnya 🙏🏻😊
__ADS_1